Mantan Anggota DPR Iseng Pakai Sabu, Pernah Jadi Saksi di Kasus Suap

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Suwondo Nainggolan menerangkan, penyidi mendapatkan hasil tes urine Arbab.

Mantan Anggota DPR Iseng Pakai Sabu, Pernah Jadi Saksi di Kasus Suap
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (tengah) bersama Kasubdit II Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Dony Alexander (kiri) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menyatakan mantan anggota DPR, Arbab Paproeka (56), positif mengonsumsi narkotika jenis sabu. Di lokasi penangkapan Arbab, polisi menyita narkotika jenis sabu seberat 0,8 gram.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Suwondo Nainggolan menerangkan, penyidik telah mendapatkan hasil tes urine Arbab.

"Hasilnya positif," ujar Suwondo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Suwondo mengatakan, Arbab telah menjalani pemeriksaan intensif. Berdasarkan pengakuan Arbab, menurut Suwondo, Arbab baru pertama kali mengonsumsi sabu hingga akhirnya ditangkap polisi. Arbab juga mengaku hanya coba-coba mengonsumi sabu.

"Katanya iseng aja," ujar Suwondo.

Arbab diringkus di sebuah apartemen di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (13/4). Di lokasi tersebut, penyidik mengamankan beberapa barang bukti, yakni 1 plastik klip narkotika jenis sabu, 1 set alat hisap sabu atau bong, 6 korek api, dan 4 sedotan.
"Termasuk sabu seberat 0,8 gram," ujar Suwondo.

Suwondo menambahkan, setelah mendapat keterangan dari Arbab, penyidik kemudian melacak pemasok sabu ke mantan anggota Fraksi PAN itu. "Kami cari pengedarnya, terus kami cari bandarnya," ujar Suwondo.

Pada awal 2018, Arbab yang juga mantan anggota Komisi III DPR, hadir di pengadilan sebagai saksi kasus suap terkait Pilkada Buton tahun 2012. Tersangka pada kasus tersebut adalah Bupati Buton, Samsu Umar.

Baca: Dukungan Artis Maia Estianty Kisah Ahok di Film Anak Hoki

Arbab menyangkal anggapan dirinya pernah diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Arbab menyampaikan pernah mengirim surat kepada pimpinan KPK tertanggal 12 Oktober 2016 untuk menjelaskan duduk persoalan dan kebenaran kasus suap Ketua MK, Akil Mochtar, yang akhirnya menyeret Bupati Buton Samsu Umar.

"Kasus itu ada karena saya, betul saya pernah bertemu dengan Pak Akil Mochtar sebanyak 2 kali
namun tidak pernah membicarakan kasus pilkada," kata Arbab Paproeka.

Harusnya kata Arbab dirinya ditanya dulu apakah benar uang dari Bupati Buton itu terkait penyuapan atau tidak.

Arbab telah membuat surat pernyataan di hadapan notaris yang menyatakan dua hal yaitu dirinya tidak mau meninggalkan masalah saat meninggal dunia nanti dan ingin meluruskan kesalahannya telah mencatut nama Akil Mochtar untuk memeras Bupati Buton sehingga terseret dalam kasus suap itu. (den)

Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved