Meski Pengelihatannya Rabun, Kakek Ini Masih Bisa Lantang Nyatakan Aspirasinya

Meski sudah berusia 72 tahun dengan penglihatan yang rabun dan berjalan harus dituntun namun pada saat berbicara

Meski Pengelihatannya Rabun, Kakek Ini Masih Bisa Lantang Nyatakan Aspirasinya
TRIBUN MEDAN / INDRA SIPAHUTAR
Ketua Persatuan Arih Ersada Biru-Biru, Sembol Ginting (baju biru) ketika menyampaikan pendapatnya pada pertemuan dengan Komisi A DPRD Deliserdang Kamis, (26/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Indra Gunawan Sipahutar

TRIBUN-MEDAN.com, LUBUKPAKAM - Meski sudah berusia 72 tahun dengan penglihatan yang rabun dan berjalan harus dituntun namun pada saat berbicara di rapat pertemuan dengan Komisi A DPRD Deliserdang,
Ketua Persatuan Arih Ersada Biru-Biru, Sembol Ginting berbicara dengan begitu lantang dihadapan dewan.

Saat itu ia dengan detail menjelaskan kepada dewan mengapa mereka bisa sampai ke kantor DPRD melakukan aksi unjuk rasa.

Ia juga sempat mengucapkan bagaimana awal persoalan mulai dari pertama. Tampak kalau diantara ratusan pendemo Sembol Ginting inilah yang paling tua.

"Bulan Februari lalu ada memang sosialisasi yang dilakukan oleh BWS (Balai Wilayah Sungai) di kampung kami untuk pembangunan waduk Lau Simeme ini. Tapi dibilang gak ada ganti ruginya untuk tanah kami. Dibilang tanah kami masuk dalam kawasan hutan produksi. Sudah ratusan tahun dan dari nenek-nenek kami itu (punya) tanah. Ini namanya lebih kejam dari penjajahan. Mana bukti autentiknya dan siapa yang berani bilang tanah kami itu masuk hutan produksi. Dimana saja batas-batasnya kami butuh itu,"ucap Sembol yang dibenarkan warga lainnya Kamis, (26/4/2018).

Saat menyampaikan pendapatnya mengomentari pembangunan proyek pemerintah pusat pembuatan Waduk Lau Simeme ini banyak orang yang memuji bagaimana Sembol menyampaikan kalimat perkalimat.

Ia pun berulang kali mendapatkan tepuk tangan dari warga.

Ketik menyampaikan pendapatnya ia pun nyaris meneteskan air mata. Ia menyebut kalau saat ini tanah mereka itu ditanam beragam jenis pepohonan mulai dari pohon durian dan duku.

Ia dan warga lainnya saat itu mendesak agar dalam persoalan ini dewan bisa memfasilitasi mereka untuk berjumpa dengan pihak-pihak terkait.

Sekali dirinya pun sempat memukulkan meja dengan tangannya karena begitu kesalnya dengan kasus ini.

Jika tidak direspon warga mengancam tidak akan pulang ke kantor.

Atas permintaan itu dan persetujuan pimpinan selanjutnya Ketua Komisi A DPRD Deliserdang, Abdul Rahman pun akhirnya berani mengambil keputusan kalau pada Senin depan akan digelar RDP dengan memanggil pihak-pihak terkait.

Setelah ada janji itu kemudian warga pun membubarkan diri dan melanjutkan aksi ke kantor Bupati Deliserdang. (dra/tribun-medan.com).

Penulis: Indra Gunawan
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help