Citizen Reporter

Pemilu, Warga Malaysia Berduyun-duyun Datang ke TPS

Sejak pukul 09.00 waktu Malaysia, saya sudah keluar asrama untuk menilik suasana pemilihan Perdana Menteri.

Pemilu, Warga Malaysia Berduyun-duyun Datang ke TPS
IST
Rahma Octaviani 

Citizen Reporter, Rahma Octaviani, Mahasiswi Pascasarjana UKM Malaysia

Aktivitas masyarakat Kota Kuala Lumpur, Malaysia tidak seramai hari biasa. Pasalnya, Pemerintah Malaysia menetapkan pemilihan perdana menteri sebagai libur nasional. Termasuk aktivitas perkuliahan libur selama tiga hari.

Sejak pukul 09.00 waktu Malaysia, saya sudah keluar asrama untuk menilik suasana pemilihan umum. Komplek perniagaan dekat kampus tutup. Begitu pula arus lalu lintas di Kota Kuala Lumpur lenggang.

Tapi, suasana keramaian justru di berbagai lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sejak pukul 08.00 waktu Malaysia warga sudah mengantre di TPS. Padahal, TPS baru dibuka pukul 10.00 hingga pukul 17.00.

Pada umumnya, lokasi TPS berada di pelataran sekolah. Saya sempat melihat secara dekat TPS di halaman Sekolah Menengah Kebangsaan Gombak. Pemilihnya, khusus masyarakat bumi putera Malaysia. Biasanya masyarakat bumi putera disebut orang Malayu asli.

Ada banyak orang yang mengantre serta menunggu giliran untuk mencoblos. Ihwalnya, saya menduga TPS didesain sesuai adat Melayu. Tapi, rupanya TPS tidak mempunyai ciri khas tertentu. Namun, antusias warga yang menyalurkan hak suaranya cukup tinggi.

Barangkali ada jutaan warga Malaysia yang gunakan hak suara memilih perdana menteri. Ada dua kandidat calon kepala pemerintahan seperti pertahana Najib Razak (64) dan mantan perdana menteri Mahathir Mohammad (92), yang pernah memimpin Malaysia selama 22 tahun.

Kita ketahui Mahathir Mohammad merupakan calon perdana menteri tertua di Asia Tenggara. Ia maju dari kubu oposisi Pakatan Harapan. Sedangkan, Najib Razak didukung koalisi Barisan Nasional. Dalam sejarah politik Malaysia, Pakatan Harapan tak pernah menang.

Pada Selasa (8/5/2018), saya ada kegiatan bersama rekan sesama mahasiswi di Malaysia. Saya pulang pukul 1.30 waktu Malaysia dan masih banyak aktivitas warga. Pawai kendaraan membawa bendera kampanye masih berseliweran di jalan raya.

Kondisi ini jelas berbeda dengan Indonesia yang melarang kampanye jelang pencoblosan. Bahkan, sejak beberapa bulan lalu, pemilihan perdana menteri jadi topik hangat di Facebook maupun Twitter. Tidak sedikit orang menyudutkan Barisan Nasional dengan tema utama korupsi.

Seperti di Indonesia, berbagai sudut kota Kuala Lumpur dibanjiri poster serta bendera partai. Namun, masih tertib dan teratur alias bukan serampangan. Lebih lanjut, pada waktu kampanye masyarakat di Malaysia terkesan frontal. Masing masing kubu saling menjelek-jelekkan.

Beberapa hari sebelum pemilihan, kami sudah menerima imbauan dari Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur untuk tidak beraktivitas di luar. Seluruh warga Indonesia dilarang keluar rumah bila tidak ada keperluan yang mendesak. Jadi, saya pun tidak berani berkeliling terlalu jauh dari kampus. (*) 

Editor: Feriansyah Nasution
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help