Pedagang Mengamuk Gedor Pintu Ruangan: Keluar Kau Sekda, Jangan Kau Tipu Kami!

Massa kesal atas perilaku Pemerintah Kota Siantar yang tidak mau menemui pedagang.

Pedagang Mengamuk Gedor Pintu Ruangan: Keluar Kau Sekda, Jangan Kau Tipu Kami!
TRIBUN MEDAN/TOMMY SIMATUPANG
Pedagang menggedor pintu ruangan Sekda Budi Utari di Balai Kota Pematangsiantar. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Tommy Simatupang

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Massa pedagang kembali mengeruduk kantor Wali Kota Pematangsiantar, Jumat (11/5/2018). Massa kesal atas perilaku Pemerintah Kota Siantar yang tidak mau menemui pedagang.

Massa yang tergabung bersama mahasiswa ini pun menerobos masuk dari pintu kiri Balai Kota. Masa yang mengenakan ikat kepala merah putih ini masuk hingga ke pintu ruangan Sekretaris Daerah (Sekda) Siantar, Budi Utari.

Masa mengamuk dengan menggedor-gedor pintu. Dari celah ventilasi tampak Sekda Siantar bersama dua orang ajudannya berbincang. Budi juga tampak menulis di sebuah kertas.

Kondisi memanas terjadi selama 30 menit. Dalam aksi ini tampak hanya petugas Satpol PP yang berjaga di depan pintu masuk Balai Kota. Petugas Satpol PP juga tampak tak kuasa menahan bendungan masa yang terdiri dari kaum ibu yang menggedor-gedor pintu ruangan.

"Keluar kau Sekda. Jangan kau tipu kami. Kau bilang mau kau selesaikan persoalan ini. Mana surat pernyataanmu pembatalan pembamgunan,"ujar ratusan pedagang.

Kondisi mulai memanas Akhirnya, ajudan Budi menemui pedagang. Tepat di depan pintu utama, ajudan menyampaikan surat yang ditanda-tangani Budi kepada para pedagang. Ada tiga poin yang disampaikan ke pedagang.

"Agar PD PHJ (Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya) melakukan penundaan revitalisasi Pasar Horas. Pelaksanaan revitalisasi pasar horas dapat dilakukan dengan adanya musyawarah dengan pedagang. Agar direksi PD PHJ melakukan konsolidasi dengan pihak terkait,"ujar ajudan.

Setelah pembacaan tersebut, masa pedagang bertepuk tangan. Mereka bersorak bahwa pernyataan tersebut memiliki arti pembatalan revitalisasi.

Seperti diketahui, ini merupakan demo ke enam dari pedagang untuk menolak revitalisasi dengan harga Rp 60 juta per kios bagi pedagang kaki lima, balerong, dan kios tempel. Dalam aksi ini pedagang membawa keranda yang menggambarkan foto Wali Kota Siantar Hefriansyah Nor.(tmy/tribun-medan.com).

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help