Waduh, Arman Depari Paparkan Sumut Peringkat Kedua Pengedaran dan Penyalahgunaan Narkoba!

Dari hasil survei BNN RI 2017, Sumut berada di rangking kedua tertinggi penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Waduh, Arman Depari Paparkan Sumut Peringkat Kedua Pengedaran dan Penyalahgunaan Narkoba!
TRIBUN MEDAN/ Liska Rahayu
Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Pol Arman Depari saat diwawancarai usai dialog publik "Narkoba Perang Zaman Now" di Aula UISU, Medan, Jumat (11/5/2018).  

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Liska Rahayu

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Pol Arman Depari hadir sebagai pembicara pada diskusi publik Narkoba Perang Zaman Now di Aula UISU, Medan, Jumat (11/5/2018). Dalam diskusi yang digelar FJM, UISU dan BNN RI ini, Arman mengatakan, Provinsi Sumatera Utara berada pada peringkat kedua dalam hal pengedaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

Dari hasil survei BNN RI tahun 2017, Sumut berada di rangking kedua tertinggi penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Sementara di peringkat pertama diduduki DKI Jakarta.

"Jadi salah satu wilayah yang paling rawan adalah pantai timur Sumatera. Mulai dari Aceh sampai Lampung. Sasaran paling besar termasuk daerah transit yang paling banyak adalah Sumut," jelasnya usai mengisi diskusi publik.

Dijelaskannya, hal ini dikarenakan banyaknya pelabuhan ilegal dan juga pengawasan digaris pantai Sumut yang relatif lemah bahkan mungkin tidak terawasi.

Padahal, menurutnya, hukum di Indonesia terhadap pengedar narkoba sudah sangat tegas berdasarkan undang-undang. Bahkan sampai hukuman mati. Arman menambahkan, pelabuhan ilegal tersebut cukup banyak dan menjadi jalur masuk bagi pengedar.

"Pelabuhan ilegal cukup banyak dan mereka ini, sebenarnya, setiap tempat yang memungkinkan untuk masuk, mereka akan masuk ke sana," jelasnya.

Ia pun menjelaskan, Indonesia dinyatakan darurat narkoba bukan tanpa alasan. Karena terdapat argumentasi yang kuat dan mendasar akan predikat yang disandang Indonesia tersebut.

"Yang pertama kesepakatan dunia internasional. Suatu negara yang sudah melampaui dua persen pengguna dari jumlah penduduknya, maka itu sudah dikategorikan berbahaya," katanya.

Arman menjelaskan, kurang lebih dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia, 2,2 persennya sudah memakai narkoba. Jumlah tersebut sekitar 4 hingga 4,5 juta jiwa. Kedua, pada survei yang sama menunjukkan bahwa ada kematian yang diakibatkan oleg narkoba.

"Per hari, ada 37 sampai 40 orang yang meninggal sia-sia akibat penyalahgunaan narkoba. Kemudian, timbul kejahatan, baik itu kecil, kejahatan di rumah hingga kejahatan besar," katanya.

Diskusi publik yang juga diisi oleh jurnalis senior Edi Iriawan ini dihadiri oleh mahasiswa UISU. Kepada mahasiswa, Arman pun berpesan agar dapat membentengi diri dan mampu menolak penyalahgunaan narkoba, baik di lingkungan kampus maupun di tempat tinggal.

"Harapan kita tentu untuk mahasiswa, mahasiswi dan civitas academica UISU ini mampu untuk membentengi diri dan menolak penyalahgunaan narkoba. Dan lebih luas lagi, tentu ini pesan kita kepada masyarakat Sumut, supaya kita lebih peduli bahwa narkoba ini adalah ancaman bagi kita seluruhnya," pungkasnya. (cr5/tribun-medan.com)

Penulis: Liska Rahayu
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved