Berharap Geopark Kaldera Diakui Unesco, Dinas Pariwisata Sumut Kerahkan Pawang Monyet

Corry Parroma Panjaitan sekaligus manager Geopark Kaldera Toba kawasan Porsea menyebutkan bahwa kini sedang dipersiapkan geosite Monkey forest

Berharap Geopark Kaldera Diakui Unesco, Dinas Pariwisata Sumut Kerahkan Pawang Monyet
Tribun Medan/ Arjuna Bakkara
Sosialisasi Geopark Kaldera Toba di Open Stage Pagoda, Parapat, Jumat (18/5/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara
 

TRIBUN-MEDAN.com, PARAPAT-Dinas Pariwisata Sumut bekerjasama dengan Komisi Pelaksana Pelayanan Strategis (KPPS) HKBP mengadakan sosialisasi Geopark Kaldera Toba. Kegiatan ini diikuti puluhan pelaku wisata dan perwakilan Pokdarwis yang saat ini dipersiapkan untuk mendukung kesiapan  menjelang kedatangan tim assesor dari Unesco.
 

Corry Parroma Panjaitan sekaligus manager Geopark Kaldera Toba kawasan Porsea menyebutkan bahwa kini sedang dipersiapkan geosite Monkey forest dan Batu Gantung Sibaganding.
 

"Pembenahan telah dilakukan kita harapkan semuanya akan selesai sebelum kedatangan tim assesor tersebut," tutur Corry.
 

Khusus untuk mongky forest akan ditangani oleh pawang monyet yang selama ini tidak lagi aktif. Ini diupayakan agar hewan primata tersebut kembali kehabitatnya dan tidak menjadi pengemis di jalan yang kerap meresahkan warga dan pengguna jalan.

Pada sosilaisasi dan pertemuan tersebut, pegiat pegiat wisata dipersiapkan untuk membenahi diri sebagai bentuk dukungan kedatangan tim penilai dari Unesco pada bulan Juni yang akan datang. Diharapkan, Geopark Kaldera Toba akan mendapatkan nilai yang bagus dan lulus, sehingga Danau Toba melalui pengakuan Unesco tersebut akan menjadi tujuan wisata berkelas internasional yang layak dan aman untuk dikunjungi.
 

Hal ini disampaikan oleh Tim Percepatan Geopark Kaldera Toba Debbi Riani Panjaitan, saat menyampaikan materi terkait upaya penyelamatan Danau Toba. Debbi juga menegaskan bahwa satu satunya cara yang bisa menaikkan dan menyelamatkan Danau Toba adalah lewat program Geopark Kaldera Toba yang didalamnya terdapat tiga program utama yakni Geodiversity, biodiversity dan culturediversity.
 

"Dengan adanya pengakuan Unesco, kita harapkan sektor pariwisata akan berkembang pesat yang tentunya berimbas pada peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar, tentu dengan tetap melestarikan budaya dan kearifan lokal yang masih berlangsung  di masing masing daerah," ujar Debby.
 

Dalam kesempatan ini, Ketua KPPS Leo Hutagalung menyampaikan beberapa point penting terkait persiapan menuju datangnya tim assesor Unesco tersebut. Untuk memajukan wisata kawasan Danau Toba menjadi tujuan wisata berkelas dunia, Leo menyatakan bahwa tanggungjawab atas Danau Toba merupakan tanggungjawab bersama, namun secara khusus adalah tanggungjawab masyarakat itu sendiri.
 

"Masyarakat harus sadar wisata dan melek terhadap upaya upaya pengembagan yang telah dilakukan, karena banyak hal yang harus kita siapkan termasuk kebersihan lingkungan, keramah tamahan, pelayanan dan kualitas makanan," ujar Leo.
 

Kerjasama antara HKBP dan Geopark Kaldera Toba telah disepakati dalam sebuah Moratorium of Understanding (MoU), dimana masyarakat kawasan Danau Toba juga adalah merupakan jemaat gereja yang saling berkaitan.
 

"Semua elemen masyarakat harus saling bergandengan tangan, apapun pekerjaan dan profesinya kita harapkan memberikan kontribusi positif bagi pengembangan  Geopark Kaldera Toba," tutur Leo.

(cr1/tribunmedan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help