Lawan Teroris

Bukan Dendam Jemaat Katolik Ini Malah Doakan Pelaku dan Korban Bom Surabaya

''Bukan dendam, tapi kita mendoakan korban dan pelaku Bom Surabaya,'' kata Pastor Yosafat Ivo Sinaga OFC Cap membuka ibadah.

Bukan Dendam Jemaat Katolik Ini Malah Doakan Pelaku dan Korban Bom Surabaya
facebook
Umat Katolik Paroki Santo Antonius Hayam Wuruk menggelar lilin perdamaian bagi korban dan pelaku Bom Surabaya 
 Laporan Wartawan Tribun Medan/Natalin

‚Ä™TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan umat berbaur memasang lilin untuk mengenang dan mendoakan semua korban bom Surabaya. Doa damai bersama ini berlokasi di lapangan antara aula Paroki Hayam Wuruk dan Catholic Center Jalan Hayam Wuruk No 1, Minggu (20/5/2018) malam.

''Bukan dendam, tapi kita mendoakan korban dan pelaku Bom Surabaya,'' kata Pastor Yosafat Ivo Sinaga OFC Cap membuka ibadah.

"Sekaligus mendoakan bangsa kita, supaya terjamin keamanan, kesatuan, persatuaan di antara umat yang berbeda,"ujar Pastor Ivo.

Ia juga menjelaskan kiranya umat turut merasakan apa yang dirasakan oleh seluruh umat yang ada di Surabaya.

"Saya kira bukan hanya kristen tapi juga elemen masyarakat terganggu teror bom ini. Bukan hanya Katolik, Kristen tapi pasti semua agama merasakan suasana yang tidak nyaman,"ucapnya.

Dalam renungan singkat Pastor Ivo menyampaikan imbauan Uskup Anicetus Sinaga, Keuskupan Agung Medan agar menyikapi peristiwa teror yang menghancurkan kemanusiaan ini dengan kasih dan pengampunan.

Pastor Iva tak lupa mengutip sikap Wenny, satu korban bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Wenny yang terlupa dan kehilangan dua anaknya Evan dan Nathan, memaafkan pelaku bom yang telah melukai dan merenggut nyawa kedua anaknya

Baca: Mama telah Memaafkan Pelaku Bom, Selamat Jalan Evan dan Nathan Anakku, Ini Foto dan Videonya

Bahkan dalam doa umat dibawakan beberapa orang, ada yang diperuntukkan bagi pelaku bom.
 
Paduan suara Magnificat melantukan beberapa lagu nasional, seperti Gebyar-gebyar, Indonesia Tanah Air Beta, Rumah Kita dan puisi yang menyerukan jadi pembawa damai.

Ketika Tribun Medan, menanyakan mengapa menyalakan lilin, Pastor Ivo berkata lilin sebagai simbol perdamaian, dengan membawa lilin yang menyala berarti kita membawa terang, agar kita menciptakan perdamaian.

"Melalui acara ini, supaya kita yang hadir menjadi pewarta perdamaian oleh perkataan dan perbuatan dimana pun kita tinggal dan berada karena umumnya kita tinggal di tengah umat yang berbeda-beda, ada Katolik, Protestan, Islam, Kong Hu Cu, Budha dan Hindu. Kita akan menjadi pelopor perdamaian di tengah masyarakat karena ini cara terbaik meredam radikalisme dan terorisme, interaksi di tengah masyarakat,"tutur Pastor Ivo.

''Semoga kedamaian tetap ada di Indonesia, khususnya keluarga korban bom di Surabaya diberi ketabahan. Hari ini juga Hari Pentakosta, turunnya Roh Kudus, kiranya pelaku diberi pengampunan oleh yang Maha Kuasa," ucap Umat Katolik Simalingkar B, Ebeneser Parhusip.

Sekadar mengingatkan satu gereja di lingkungan Paroki Hayam Wuruk Medan, yakni Gereja Stasi St Yoseph Dr Mansyur, pernah diserang aksi teror 28 Agustus 2016. Saat ini pelaku Ivan Armadi Hasugihan mencoba melukai Pastor Albert Pandiangan usai membacakan Alkitab. Namun bom yang dibawa pelaku gagal meledak.

Ini foto dan videonya:
Foto Gilbertus Turnip.
Foto Gilbertus Turnip.
Foto Gilbertus Turnip.

(cr13/tribun-medan.com/facebook)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Tariden Turnip
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help