Pebalap Sepeda M Sanusi Tutup Usia, Peserta Olimpiade yang Jadi Loper Koran di Masa Tua

Menghormati Muhammad Sanusi, kami memuat kembali artikel lawas karya jurnalis Tribun Medan tentang perjalanan hidup Muhammad Sanusi yang penuh warna.

Pebalap Sepeda M Sanusi Tutup Usia, Peserta Olimpiade yang Jadi Loper Koran di Masa Tua
Riski Cahyadi
Jenazah Muhammad Sanusi disemayamkan di rumah duka, Sabtu (2/6/2018). (Kanan) Sanusi semasa hidup. 
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Atlet sepeda kebanggaan Sumatera Utara, Muhammad Sanusi, menghadap Yang Maha Esa, Sabtu (2/6/2018). 
Sanusi wafat pada usia 88 tahun dan menghabiskan masa tua bersama keluarganya di Jalan Puskesmas, Gang Wakaf, Kampung Lalang.
Untuk menghormatinya, kami memuat kembali artikel lawas karya jurnalis Tribun Medan tentang perjalanan hidup Muhammad Sanusi yang penuh lika-liku. 
Kayuhan Papi Takkan Berhenti
Ruang berukuran 3×3 meter persegi. Kipas angin tua. Jam dinding tua. Karpet tipis warna abu-abu pudar. Poster artis dari sobekan lembar penanggalan yang sudah lama berlalu.
Di sudut ruang, teronggok barang paling mewah di rumah itu: televisi LCD Sony 32 inchi, lengkap dengan perangkat stereo, hadiah undian dari acara gerak jalan sehat yang diselenggarakan Partai Demokrat Sumatera Utara, 17 Desember 2010.
“Televisinya habis waktu itu. Ndak tahu bagaimana bisa begitu. Padahal nomor saya dipanggil. Pemenangnya lima, tapi dengan saya enam. Seorang panitia bilang, ada kesalahan teknis. Salah hitung mereka. Saya pikir, ya sudahlah, belum rezeki."
"Saya sudah mau turun dari panggung. Mungkin karena kasihan sama saya, panitianya kemudian mendekati saya dan bilang, ya sudah, kakek tetap menang, nanti hadiahnya menyusul. Beberapa hari kemudian orang-orang Demokrat datang ke rumah, memberi televisi lain yang lebih bagus dari hadiah yang disediakan panitia. Kata mereka, ini dari Anas Urbaningrum. Eh, nanti bapak itu jadi presiden tidak, ya? Katanya waktu itu mau gantikan SBY.”
Kalimat ini dilontarkan Muhammad Sanusi. Ringan dan lepas, tanpa tendensi apapun.
Muhammad Sanusi
Muhammad Sanusi 
Meski mengoleksi banyak kaus partai, ia mengaku awam politik. Kaus-kaus ini sebagian besar ia peroleh di masa kampanye.
Namanya juga diberi, imbuh Sanusi, pamali kalau ditolak.
Di sudut lain ruangan itu ia duduk, setengah selonjoran, sembari membuka sepatu semi boots North Star, merek terkenal yang di Medan selama berpuluh tahun “dipelesetkan” sebagai nama klub sepak bola dan perusahaan bus antar kota kelas ekonomi, Bintang Utara.
Pukul 15.00. Udara kering. Sanusi masih terengah-engah. Belum lima menit ia tiba di rumah.
Keringat membasahi kaus Partai Bintang Reformasi bergambar wajah almarhum Dai Sejuta Umat, KH Zainuddin MZ. Kemeja coklat khaki yang ia kenakan untuk melapis kaus itu juga nyaris kuyup. Dua garis dengan diameter kira-kira 10 cm membekas jelas, memanjang dari pundak ke dada, membelok ke bagian bawah ketiak.
Alur tali tas sandang. Tas itu tergeletak dekat kaki Sanusi. Resletingnya terbuka. Sanusi mengeluarkan beberapa lembar koran dari sana, lantas meletakkannya di tumpukan setinggi satu meter dan lebar kira-kira dua meter. Koran-koran lama dari hampir seluruh penerbitan di Medan.
Sanusi bekerja sebagai loper. Saban pagi, selepas Subuh, ia berangkat bersepeda dari rumahnya di Jalan Stasiun Gang Wakaf No 10 BS, Kampung Lalang, menuju bursa koran dan kantor-kantor penerbitan di Medan.
Jika ditotal, sekali jalan, jarak yang ia tempuh mencapai 25 km. Koran-koran itu ia antar ke sejumlah kedai serta belasan langganan yang sebagian besar pejabat instansi di jajaran Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Sanusi tidak ingat persis berapa lama ia menjalani profesi ini. Pastinya, di antaranya pelanggan yang sekarang menjabat kepala dinas atau kepala bagian, sudah mengambil koran darinya sejak mereka baru diangkat jadi PNS.
Barangkali karena ini pula perusahaan-perusahaan koran di Medan memberi Sanusi hak istimewa. Lazimnya, koran-koran yang tidak laku dikembalikan, dicatat sebagai retur. Namun Sanusi boleh mengambilnya secara cuma-cuma.
“Kalau sudah banyak nanti sama istri saya dijual kiloan ke tukang botot (pengumpul barang bekas). Biasanya dekat-dekat hari raya (Idul Fitri). Lumayanlah, uangnya bisa buat beli tepung untuk bikin kue.” Sanusi terkekeh. Sebagian besar giginya telah tanggal.
Bersama istri tercinta.
Bersama istri tercinta. 
AWAL Februari 1953. Muhammad Sanusi girang bukan kepalang tatkala mengetahui namanya masuk dalam daftar pebalap sepeda kontingen Sumatera Utara untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) III. Perhelatan ini digelar di Kota Medan, 20–27 September 1953. Ini pengalaman pertamanya bertanding di tingkat nasional.
“Sulit menggambarkannya. Bangga sekali. Saya ini cuma anak kampung. Anak kebon bau kencur. Tapi bisa bertanding di kejuaraan besar,” katanya.
Sanusi lahir di Perkebunan Klumpang, Hamparan Perak, Deliserdang, 21 September 1930. Ayahnya kerani rendah –posisi yang hanya sedikit lebih baik dari buruh lepas.
Sejak kecil kedua kakinya terlatih menggenjot pedal sepeda di jalan-jalan kebun yang bergelombang, kasar, liat berlapis tanah merah. Bermain bersama rekan sebaya, Sanusi curi-curi kesempatan menaiki sepeda dinas mandor kebun. Berkali-kali tertangkap dan mendapat hukuman, Sanusi tak jera.
Di masa remaja, ia bekerja di perusahaan susu milik seorang saudagar Punjabi, satu kelompok masyarakat di Medan yang selalu keliru dipersepsikan sebagai “orang Benggali”. Tugas Sanusi mengantar susu ke rumah-rumah pelanggan. Tentu saja dengan bersepeda.
Sebenarnya Sanusi sudah agak susah mengingat peristiwa-peristiwa lama secara rinci. Pendengarannya, sejak dua tahun terakhir, juga mulai terganggu hingga untuk berkomunikasi dengan dia volume suara mesti ditinggikan.
Tapi tiap kali ada yang mengajaknya bicara tentang balap sepeda, entah disergap keajaiban apa, semangat Sanusi langsung meledak. Ia mendadak ingat segala aksinya di berbagai kejuaraan, mulai PON III di Medan sampai Olimpiade Roma 1960, dari medali pertama hingga foto bersama Muhammad Ali. Lengkap dan runut.
“Waktu itu saya sudah selesai bertanding. Ikut nomor beregu, ndak dapat nomor, tapi kami mencatat prestasi bagus. Kami satu-satunya wakil Asia yang bisa sampai garis finishNah, di hari terakhir saya di Roma itu saya ketemu Ali. Waktu itu namanya belum Ali, belum masuk Islam dia."
"Kawan-kawan saya semuanya iri lihat foto saya dengan Ali. Mereka bilang dia petinju hebat, pasti dapat emas dan calon kuat juara dunia kelas berat. Saya tidak tahu. Beberapa tahun kemudian, saya baca di koran kalau dia betul-betul jadi juara dunia. Fotonya langsung saya kacakan dan gantung di dinding,” katanya.
Kemana foto itu sekarang? Dinding rumah sederhana dengan tiga kamar berukuran masing-masing 2×3 meter persegi ini nyaris polos. Sama sekali tak mencerminkan pemiliknya atlet tingkat dunia.
Satu-satunya bukti sahih kiprah Sanusi adalah secarik piagam penghargaan dari Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Medan. Semacam sertifikat hall of fame, bertanggal 7 Mei 2012.
Dibingkai pigura hitam dari kayu, piagam seukuran buku gambar tersebut diletakkan di sudut dinding ruang tamu, bersebelahan dengan semacam prakarya tugas sekolahan dan potret Giovani, perempuan remaja, satu di antara dua cucu yang tinggal bersamanya.
Sanusi tak menjawab pertanyaan ini. Matanya menerawang menyapu langit-langit ruangan yang banyak berhias noda berbentuk mirip pulau-pulau di lembaran atlas –jejak air yang menetes dari atap bocor. Lalu ia menundukkan kepala. Terdiam. Lama. Dan teka-teki perihal foto Muhammad Ali –juga piagam, piala, medali, dan foto-foto lain dari kejuaraan-kejuaraan di berbagai belahan dunia– dijawab Irma Meewezen, istrinya.
“Tidak tahu lagi di mana foto itu. Dulu Papi bangga sama foto itu. Saya juga bangga. Anak-anak juga. Tapi semakin hari kebanggaan kami terus luntur sampai akhirnya hilang sama sekali. Seperti juga kebanggaan terhadap piagam, piala, dan medali. Papi menurunkannya dari dinding, disimpan di kamar, ditumpuk begitu saja. Rumah kami sempat beberapa kali kebanjiran. Mungkin rusak terendam air. Mungkin juga ketinggalan waktu kami pindahan. Sebelum di sini, kami sudah puluhan kali pindah rumah, menyewa atau menumpang di sana-sini,” katanya.
Suara perempuan berdarah Belanda ini bergetar hebat. Tapi ia berupaya tegar, sekuat tenaga menyembunyikan kebeningan yang mengaca di matanya.
Sanusi mendekatinya, menangkupkan tangannya yang berkulit legam dengan urat-urat bertonjolan ke tangan kurus Irma. Tangannya yang lain mengelus-elus pundak perempuan 76 tahun itu.
“Sudah, sudah, Papi. Saya nggak apa-apa. Betul, saya nggak apa-apa,” kata Irma, hampir lirih.
IRMA Meewezen pebalap sepeda juga. Sore itu, 8 Mei 2013, ia mengenakan kaus biru langit bercorak bunga yang dipadu celana sport ukuran ¾ berwarna merah putih.
Ia lahir di Semarang, dari keluarga pegawai Pemerintah Kerajaan Belanda yang ditugaskan sebagai pengawas di NV Mirandolle Vaut & Co., perusahaan yang membawahi sejumlah pabrik gula di Jawa Tengah, seperti Brebes, Klaten, dan Kendal. Irma bungsu dari tujuh bersaudara. Ia dan dua saudaranya yang lain lahir di Indonesia.
Usia Irma menginjak angka 13, sang ayah meninggal dunia karena sakit. Diduga malaria. Menurut Irma, jika tidak sedang bertugas, ayahnya suka berkelana di alam bebas: menangkap kelelawar, kupu-kupu, burung, dan ular kobra untuk diambil kulit dan darahnya.
Empat tahun berselang, ibunya kembali ke Belanda dan sejak itu Irma tinggal bersama kakak tertuanya yang telah menikah dengan lelaki pribumi. Kelak, sang kakak pulalah yang mencarikan wali untuknya, saat ia menikah dengan Sanusi.
“Berbeda dari kakak saya yang menikah di gereja Katolik, saya dan Papi menikah dengan cara muslim di satu desa di Semarang. Di rumah kepala desanya. Ibu dan kakak-kakak saya di Den Haag tidak tahu. Kakak saya yang di Semarang itu baru memberitahu mereka dua bulan kemudian. Sebenarnya ada nada keberatan. Tapi mau bagaimana lagi,” kata Irma. Mereka menikah beberapa bulan setelah Sanusi pulang dari Roma.
Irma bertemu Sanusi di sejumlah kejuaraan nasional pada medio 1955–1956. Berawal dari tegur-tegur sapa sekilas, pelan-pelan tumbuh rasa suka di hati masing-masing.
Hubungan mereka mulai lebih dekat saat bertanding di PON IV tahun 1957 di Makassar, Sulawesi Selatan, dan bertambah akrab ketika mengikuti persiapan mengikuti Asian Games Tokyo 1958 dan Olimpiade Musim Panas Roma 1960.
Irma tidak masuk kontingen ke Roma, namun pelatnas digelar di Semarang yang ketika itu merupakan pusat aktivitas keorganisasian balap sepeda di tanah air. ISSI dibentuk di kota ini pada 20 Mei 1956.
“Kami makin sering bertemu,” ujar Irma seraya melirik Sanusi. Senyum simpulnya mengembang. Sanusi ikut tersenyum, tapi kemudian buru-buru melempar tatap ke arah lain.
Sebagai “noni”, meski mengaku parasnya kalah jauh dibanding Indrianti Iskak atau Lientje Tambajong alias Rima Melati, aktris tenar tahun 1950an–1970an, banyak lelaki ingin dekat dengan Irma. Tapi hatinya tertambat mati pada Sanusi, lelaki sederhana dari Klumpang. Kenapa?
“Saya kagum pada kegigihannya. Semangat pantang menyerahnya. Di Makassar, dia bertanding dengan sepeda model lama, melawan pebalap-pebalap yang dilengkapi sepeda teknologi terbaru waktu itu. Dia bisa menang,” kata Irma.
Semangat ini pulalah yang kemudian jadi modal mereka menjalani kehidupan yang serba berat pascamenikah.
Ketika itu tidak ada sponsor. Tidak ada gaji untuk pemain. Hanya uang saku yang diberikan sesekali dan jumlahnya tidak seberapa pula.
Bonus dari torehan prestasi? Jumlahnya sama memprihatinkan. Sanusi meraih emas untuk nomor perorangan 190 km di PON IV Makassar 1957 dan emas Asian Games Jakarta 1962 di nomor team road race 180 km. Sedangkan Irma Meewezen menyabet emas team time trial PON Jakarta 1973. Juga entah berapa puluh gelar yang mereka tidak ingat lagi.
“Hanya medali, piala, dan piagam. Uangnya nggak ada, sementara kita butuh makan. Saya pernah menang satu lomba di Medan. Kalau nggak salah tahun 1980. Pialanya yang hampir setinggi dada saya tidak sempat sampai di rumah. Saya ingat, ada anak kecil minta dibelikan piala itu sama bapaknya. Saya sebenarnya sayang karena bentuknya bagus. Tapi mau bagaimana lagi. Kami sedang benar-benar tak punya uang. Anak-anak belum makan. Pagi sebelum lomba, saya dan Papi cuma sarapan pakai kerak nasi,” ucap Irma.
Sepeda andalan.
Sepeda andalan. 
MENDADAK pecah keriuhan di pekarangan. Sejumlah bocah yang tadinya mengintip lewat jendela berlarian sembari tertawa-tawa.
Kawasan tempat tinggal keluarga Sanusi memang selalu ramai. Bahkan hingga lepas tengah malam.
Penduduknya padat. Antara rumah yang satu dengan lainnya nyaris tidak berjarak. Rumah berpagar beton bisa dihitung jari. Tiap pukul 10 pagi dan tiga sore, lantai rumah akan sedikit bergetar. Kereta api Medan–Binjai lewat. Kira-kira lima meter dari rumah bercat warna kesumba muda itu terdapat pekuburan.
Sanusi membeli rumah ini dari uang santunan Kementerian Olahraga yang saat itu dipimpin Adhyaksa Dault. Tidak besar. Ditambah tabungan Sanusi yang jumlahnya juga tak seberapa, cuma cukup untuk membeli rumah petak berukuran kurang lebih 5×8 meter persegi.
“Itupun untung ada orang kepepet, perlu duit cepat. Orang Aceh. Dia kasih harga miring, jauh di bawah harga pasaran waktu itu. Langsung saya beli. Saya dan istri di sini sudah lima tahun di sini. Anak saya paling besar ikut kami. Juga dua cucu yang sudah yatim,” ujar Sanusi.
Sejurus kemudian terdengar jejak kaki ringan, setengah diseret, melangkah masuk rumah dari arah dapur. “Ini anak saya,” kata Irma setelah sesosok tubuh ceking, tidak terlalu tinggi dan berkulit legam, muncul di ruangan itu.
Namanya Ronald, sulung Sanusi dan Irma. Ronald menolak menyebut tanggal kelahirannya. Tapi Sanusi sebelumnya sudah memberi petunjuk.
“Tahun 1963 atau mungkin awal 1964, istri saya ikut lomba di Semarang. Khusus untuk pebalap perempuan. Saya menonton dia bertanding sambil menggendong anak pertama kami yang belum genap satu bulan lahirnya.”
Sebagai sulung, Ronald paling tahu bagaimana lintang pukangnya Sanusi dan Irma menghidupi keluarga. Ia yang paling lama merasakan betapa tidak enaknya dititipkan ke orang lain -kerabat, tetangga, bahkan di kedai nasi, hingga karena merasa segan, ia ikut bantu-bantu di kedai itu selama dalam masa penitipan- tatkala kedua orangtuanya berangkat bertanding.
“Waktu itu namanya masih kecil, ya, bangga saja kalau Papi sama Mami pulang lomba bawa piala atau medali. Aku nggak tahu kalau cuma itu yang mereka bawa setelah berhari-hari pergi. Uangnya, kalaupun ada, cuma cukup untuk membayar ganti makan saya dan adik-adik selama dititipkan,” kata Ronald yang sempat jadi atlet panahan. Ia menyabet dua medali emas pada kejuaran nasional, memperkuat kontingen Provinsi Jambi.
“Aku enam bulan tinggal di rumah Pak Raja (Nasution), bapaknya Elvira (Rosa Nasution, mantan perenang nasional),” ujarnya menambahkan. Kini Ronald bekerja di satu perusahaan jasa katering kecil-kecilan yang melayani pesanan untuk pesta pernikahan.
Setelah beranjak remaja, Ronald makin paham bahwa ia memang harus lebih keras belajar untuk mengerti keadaan. Belajar untuk tak menuntut macam-macam, bahkan di hari raya.
“Pernah di satu hari menjelang lebaran, jangankan daging atau lontong, makanan buka puasa saja nggak ada. Mami akhirnya memanaskan makanan sahur. Sudah tidak enak, tapi masih bisa dimakanlah. Sepanjang hari itu kawan-kawan riuh bercerita tentang sepatu dan baju baru mereka. Aku diam saja karena memang nggak ada yang bisa kuceritakan. Malamnya aku  nggak ikut takbiran. Sekitar jam sembilan, datang Gurnam Singh. Waktu itu dia masih kaya. Dia bawa makanan dan baju-baju. Juga kain sari untuk Mami. Di kamar, malam itu, untuk pertama kali setelah bisa ikut merasakan susah, aku nangis,” sebut Ronald.
Gurnam Singh legenda atletik. Ia menyabet medali perak nomor 10.000 meter di Asean Games Jakarta 1962.
Medali pembuka bagi kesuksesan Indonesia meraih peringkat kedua, tertinggi sepanjang sejarah. Atas keberhasilan ini, juga pencapaian lain di ajang-ajang nasional dan internasional di tahun-tahun berikut, ia mendapatkan cukup banyak bonus. Terutama dari orang-orang kaya Punjabi di Medan. Namun gaya hidup serampangan, termasuk kegemaran mabuk-mabukan, membuatnya bangkrut. Rumah tangganya berantakan.
Setelah bercerai, Gurnam merantau ke Jakarta, mencoba memperbaiki nasib tapi malah jadi makin runyam. Lebih 20 tahun terlunta-lunta, ia meninggal dunia di RS Sumber Waras, Jakarta, 7 Desember 2006, dalam usia 75. Gurnam Singh dirawat karena mengalami luka-luka akibat berkelahi untuk mempertahankan beberapa ribu perak uangnya yang hendak dirampas sekelompok preman.
“Banyak cerita jelek tentang Gurnam Singh. Tapi bagi aku, dia tetap orang baik,” sebut Ronald.
Gurnam juga hadir di Kantor Gubernur Sumatera Utara di Jl Diponegoro, Medan, saat pemerintah provinsi mengundang atlet-atlet yang pernah berjasa mengharumkan nama daerah membicarakan rencana pemberian santunan bulanan. Ketika itu, gubernur dijabat almarhum Raja Inal Siregar.
“Ini kabar baik yang berakhir dengan kekecewaan. Sampai Pak Raja Inal nggak lagi gubernur santunan ini tidak juga kami dapat. Gubernur sesudahnya Pak Tengku (Rizal Nurdin) juga menjanjikan hal serupa. Tapi tetap saja nggak ada. Sampai beliau berdua meninggal, tidak ada. Padahal kalau ada sangat membantu sekali,” kata Irma Meewezen.
Saat itu Sanusi dan Irma sedang dalam puncak kesusahan. Sanusi tak lagi bekerja sebagai honorer di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan. Ia masuk atas rekomendasi KONI Medan yang diluluskan Wali Kota, H Agus Salim (AS) Rangkuti. Tapi pendidikan yang rendah membuat Sanusi tidak dapat diangkat sebagai pegawai tetap. Untuk tambahan penghasilan, atas restu Rangkuti pula, ia mengantarkan koran pada para pejabat.
Pendapatan mereka terjun bebas karena Irma juga telah berhenti dari pekerjaannya di Malaysia Airlines (MAS) kantor cabang Medan. Beberapa tahun sebelumnya seorang kenalan meminta Irma menjadi penerjemah bahasa Inggris dan –terutama– Belanda di sana. Pada waktu itu, banyak warga negara Belanda datang ke Medan untuk pelesiran.
Tak punya keterampilan lain, Sanusi meneruskan pekerjaan sebagai loper. Pekerjaan sampingan itu naik pangkat jadi pekerjaan utama. Seorang kenalan lama kemudian memberinya pekerjaan di Masjid Agung. Sekadar membantu-bantu pekerjaan nazir. Dari kenalan lain, tiga kali sepekan, ia diminta menjaga gudang. Pekerjaan terakhir ini sudah sejak lima tahun lalu tidak lagi dilakoni. “Tak kuat saya. Kalau kena angin malam suka batuk-batuk,” ujar Sanusi.
Sesekali ia dan Irma masih ikut dalam lomba sepeda santai. “Namanya sepeda santai, bawa sepedanya, ya, juga santai-santai. Tapi kami tidak. Kami genjot kencang-kencang supaya bisa menang. Lumayan pulang bawa hadiah. Lomba sekarang hadiahnya besar-besar. Seperti Tour de Java atau Tour de Singkarak itu. Ratusan juta hadiahnya. Wah, kalau saja dulu ada yang seperti ini, kami mungkin bisa agak senang,” kata Sanusi.
KISAH Muhammad Sanusi, pebalap sepeda nasional yang di hari tuanya menjadi loper koran dan harus hidup prihatin, menghiasi halaman berbagai media massa lokal dan nasional di akhir 2010 hingga pertengahan 2011. Profilnya juga ditampilkan di sejumlah stasiun televisi. Adakah perubahan dalam hidupnya? Sanusi menggeleng kuat-kuat. Diulangnya kalimat Irma Meewezen.
“Ya, begini-begini saja. Orang-orang datang dan pergi. Pejabat, orang partai, wartawan, kasih sekadar uang, beras, dan Indomie. Wartawan bilang, kalau berita saya dimuat nanti ada perhatian pemerintah. Tapi, ya, memang nggak ada yang berubah. Kami, kan, maunya seperti yang dibilang Pak (Raja Inal) Siregar dulu. Tapi sampai Bahrum meninggal, sampai Paruhum Siregar dan Pendi Keling meninggal, dan sekarang Tengku Bustamam sakit-sakitan, rencana itu bahkan tak pernah lagi terdengar,” katanya.
Bahrum yang dimaksud Sanusi adalah Bahrum Nasution, perenang hebat yang menyabet delapan emas untuk Sumatera Utara dari tiga penyelenggaraan PON. Paruhum Siregar dan Pendi Keling atlet tinju.
Nama terakhir merupakan alias dari HMY Effendi Nasution. Dibanding Sanusi dan Irma, nasib Effendi memang jauh lebih baik. Setelah pensiun ia dikenal sebagai tokoh pemuda. Turut mendirikan Pemuda Pancasila di tahun 1959, Effendi kemudian juga berkiprah sebagai pengusaha dan politisi. Sedangkan Tengku Bustamam maestro polo air. Di tangannya, polo air Sumatera Utara mencuat sebagai kekuatan utama di Indonesia.
Sanusi menginginkan semacam pensiun atlet. Satu kebijakan khusus yang sebelumnya diperoleh anggota skuat tim nasional sepak bola Indonesia pascakeberhasilan meraih medali emas SEA Games 1987. Sanusi begitu mendambanya. Ia tak paham, betapa ini sebenarnya juga sekadar lelucon. Selama 20 tahun jumlah pensiun itu tetap Rp 75 ribu per bulan. Tahun 2009, angkanya dinaikkan jadi Rp 100 ribu. Sungguh bukan jumlah yang pantas.
Gubernur Sumatera Utara periode 2013–2018, Gatot Pujo Nugroho, dalam satu percakapan nonformal di sela masa kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), Maret 2013 lalu, menyebut pemerintahannya akan memberi perhatian lebih serius terhadap olahraga dan para atlet, termasuk atlet masa lalu. Kenapa tak dilakukan di masa sebelumnya?
”Kebijakan bukan di tangan saya. Waktu itu, kan, gubernurnya bukan saya,” kata Gatot. Periode 2009–2013, ia menjabat wakil gubernur mendampingi Syamsul Arifin –meski kemudian selama hampir dua tahun menjabat pelaksana tugas setelah Syamsul dibui akibat tersandung kasus korupsi.
Lantas seperti apa bentuknya? “Setelah saya terpilih akan kita pikirkan,” ujar Gatot.
Yeah. Satu janji lagi. Janji yang pada tahun 2010, juga pada masa kampanye, dengan lantang dilontarkan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap. Janji yang tentunya juga belum ditepati. Gatot dilantik 17 Juni 2013 jadi gubernur. Rahudman sibuk bolak-balik ke pengadilan. Ia dinonaktifkan setelah jadi tersangka perkara dugaan tindak pidana korupsi sewaktu menjabat Sekretaris Daerah di Tapanuli Selatan. Pelaksana tugas, Dzulmi Eldin, agak sulit diharap karena selain kurang peka terhadap olahraga (Eldin pernah menjabat Ketua Umum PSMS Medan dan gagal total), ia  besar kemungkinan ia juga akan bersikap seperti Gatot –“wali kotanya, kan, bukan saya…”
Sementara senja itu, di antara lantunan ayat-ayat Quran, Sanusi yang berkopiah berbaju koko, mengayuh sepeda Federal tuanya menuju masjid.
“Sebenarnya kami selalu cemas kalau Papi naik sepeda. Bagaimanapun pendengarannya sekarang sudah jauh sekali berkurang. Di sisi lain jalanan semakin tak ramah. Tapi Papi kayaknya nggakmau berhenti. Dia masih mau mengayuh. Masih mau bersepeda. Entah sampai kapan,” kata Ronald. (Dimuat bersambung di Harian Tribun Medan Edisi Minggu 19 Mei 2013 – 9 Juni 2013, FOTO-FOTO: TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI)
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help