Pertahanan Terakhir Bumi di Antartika Sudah Tekontaminasi Plastik, Sinyal Bahaya

Peneliti melaporkan adanya penemuan jejak plastik serta bahan kimia berbahaya di Antartika.

Pertahanan Terakhir Bumi di Antartika Sudah Tekontaminasi Plastik, Sinyal Bahaya
Kapal Arctic Sunrise yang digunakan para peneliti untuk mengumpulkan sampel di Antartika(Christian ├ůslund/Christian ├ůslund / Greenpeace) 

TRIBUN-MEDAN.com - Peneliti melaporkan adanya penemuan jejak plastik serta bahan kimia berbahaya di Antartika.

Kabar ini tentunya menjadi hal yang menyedihkan karena wilayah ini merupakan bagian terakhir dari planet yang sebagian besar tetap tak tersentuh oleh efek kerusakan aktivitas manusia.

Temuan ini berdasarkan penelitian terhadap sampel air serta salju yang ada di Antartika. Sejak awal tahun ini, para peneliti menghabiskan tiga bulan untuk mengambil sampel air dan salju dari daerah terpencil di Antartika.

Hasil analisisnya cukup mengejutkan. Peneliti menemukan bahwa air serta salju tersebut mayoritas berisi bahan kimia berbahaya persisten atau mikroplastik.

Rinciannya, tujuh dari delapan sampel air permukaan laut yang diuji mengandung mikroplastik seperti mikrofiber. Sementara itu, tujuh dari sembilan sampel salju yang diuji mengandung konsentrasi yang dapat dideteksi dari bahan kimia berbahaya persisten (PFAS).

Sampel-sampel itu, menurut peneliti, berasal dari hujan atau hujan salju yang terkontaminasi.

Selama ini, bahan kimia seperti mikroplastik memang banyak digunakan dalam banyak proses industri dan produk konsumen. Mikroplastik juga telah dikaitkan dengan isu-isu reproduksi dan perkembangan satwa liar.

Temuan ini tentunya menggambarkan situasi yang menyedihkan, di mana dunia memang tengah menghadapi kekhawatiran dari krisis pencemaran plastik yang sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh para ilmuwan.

Frida Bengtsson, dari kampanye Protect the Antarctic Greenpeace, berkata bahwa temuan ini membuktikan kalau daerah paling terpencil di planet ini pun tidak kebal dari dampak polusi buatan manusia.

" Plastik kini telah ditemukan di seluruh pelosok lautan kita, dari Antartika hingga titik terdalam lautan di palung Mariana. Kita membutuhkan tindakan segera untuk mengurangi aliran plastik ke laut. Dan kita membutuhkan suaka untuk melindungi kehidupan laut untuk generasi mendatang," ujar Bengtsson.

Halaman
12
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help