infografis

Penemuan Baru Tangkal Obesitas, Mengubah Lemak Jelek Jadi Lemak Bagus

Bagus atau jelek yang dimaksud di sini bukan mengenai rupa lemak, tetapi kecepatannya membakar kalori.

Penemuan Baru Tangkal Obesitas, Mengubah Lemak Jelek Jadi Lemak Bagus
kompas
Ilustrasi Lemak 

Foto Bob Lahi.

TRIBUN-MEDAN.com - Semua orang tahu, menurunkan berat badan adalah sesuatu yang sangat sulit dan kompleks. Untuk itu, para peneliti pun mengembangkan teknik radikal untuk menangkal obesitas, yaitu mengubah lemak putih yang jelek menjadi lemak coklat yang bagus.

Bagus atau jelek yang dimaksud di sini bukan mengenai rupa lemak, tetapi kecepatannya membakar kalori.

Brian Gilette, seorang peneliti di New York University Winthrop Hospital dan pendiri Ardent Cell Technologies, menjelaskan bahwa mayoritas lemak di tubuh adalah jaringan putih yang terkumpul di area perut, pinggul, dan paha.

Namun, ada juga lemak coklat yang berjumlah lebih sedikit pada area leher dan bahu. Lemak coklat yang tersimpan di dalam jaringan putih ini lapar energi dan bisa menghasilkan panas bila kelebihan kalori pada tubuh dibakar.

Gilette bahkan berkata bahwa hanya 50 sampai 100 gram lemak coklat (jumlah yang biasa ditemukan pada orang dewasa) bertanggung jawab untuk 20 persen pengeluaran energi harian orang dewasa.

Untuk mengubah lemak putih menjadi lemak coklat, selama ini para pakar menggunakan paparan suhu dingin atau obat-obatan yang memiliki efek samping. Nah, Gilette dan kolega telah mengembangkan teknologi baru untuk mengubah lemak putih menjadi lemak coklat di dalam bioreaktor.

“Ide umum dari pendekatan berbasis jaringan ini adalah memodifikasi lemak coklat di luar tubuh dan mengembalikannya melalui transplantasi,” ujar Gilette, seperti dilansir dari The Guardian, Minggu (10/6/2018).

Dalam artikel yang dimuat jurnal Scientific Reports, Gillete dan kolega menjelaskan bahwa untuk melakukan teknik baru ini, mereka menyedot lemak putih keluar terlebih dahulu.

Sel-sel ini kemudian disirami bahan-bahan kimia selama beberapa minggu di dalam bioreaktor agar berubah menjadi lemak coklat sebelum disuntikkan kembali ke dalam tubuh.

Dalam eksperimen pada tikus yang diberi makan tinggi lemak, sel-sel baru yang disuntikkan kembali tetap mempertahankan kualitas lemak coklatnya dan tidak kembali menjadi lemak putih selama delapan minggu.

Para peneliti mengakui bahwa teknik ini baru dilakukan pada sel manusia dan tikus. Eksperimen juga tidak menunjukkan apakah tikus yang menjalani percobaan lebih cepat kurus daripada kelompok kontrol.

Oleh karena itu, mereka pun berharap untuk melakukan eksperimen lebih lanjut yang melibatkan manusia untuk mengetahui efektifitas teknik dan dosis yang dibutuhkan. Jika teknik ini terbukti berhasil, bisa jadi obesitas dan diabetes tidak akan lagi menjadi masalah bagi manusia. (*)

Editor: Bobby Silalahi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help