Kapal Tenggelam

Pengakuan Warga soal Muatan Kapal yang Selalu Berlebih hingga Jawaban Kadishub soal Kutipan Seribu

Malau yang sehari-hari berjualan di pelabuhan bahkan mengaku pernah melarang pemilik kapal di sana agar tidak menampung penumpang hingga over muatan.

Pengakuan Warga soal Muatan Kapal yang Selalu Berlebih hingga Jawaban Kadishub soal Kutipan Seribu
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Keluarga korban masih menunggu kepastian nasib kerabatnya di Posko KM Sinabung, Rabu (20/6/2018) di Pelabuhan Simanindo Samosir. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Beberapa warga yang sehari-hari beraktifitas di pelabuhan Simanindo, Samosir mengakui, muatan kapal selalu padat. Penduduk setempat juga mengakui, kapal sering kelebihan muatan.

"Selalu kok kapal-kapal di sini padat. Aku aja yang udah besar di sini, gak berani aku lagi kalau melihat kondisi itu. Tetapi, selagi bisa terlalu dipaksakan sampai kendaraan jenis sepeda motor berlapis-lapis di dalam kapal," ujar Malau, warga setempat.

Baca: Kesaksian Penumpang Selamat: Belum Lama Tenggelam Sudah Kulihat Remaja Mengambang. . .

Baca: Hotman Paris Murka Banyaknya Korban Jiwa di Danau Toba, Hingga Menhub Ungkap Kapasitas Penumpang!

Baca: Kolesterol Sampai Kurangi Risiko Penyakit Jantung, Ini Dia 7 Manfaat Hebat dari Alpukat

Pencarian di lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun, Rabu (20/6/2018)
Pencarian di lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun, Rabu (20/6/2018) (Tribun Medan)

Baca: Hasil Rapat Manajemen PSMS, Djanur Tetap Pegang Kendali untuk Pemilihan Pemain Baru

Baca: Eramas Pilih Doa Bersama pada Kampanye Terakhir Pilgub, Ini Alasannya

Malau yang sehari-hari berjualan di pelabuhan bahkan mengaku pernah melarang pemilik kapal di sana agar tidak menampung penumpang hingga over muatan. Namun, upaya yang ia lakukan berujung pada persoalan.

Malau bertubuh gempal ini juga menuturkan, pemilik kapal tidak memikirkan keselamatan demi mengais pundi-pundi rupiah hingga berujung maut. Bahkan, pemilik kapal melarang pengunjung yang ingin naik fery.

"Sekitar dua bulan lalu, ada penumpang menaikkan sepeda motornya ke dalam Ferry KMP Sumut. Tapi, pemilik kapal kayu ada yang memaksa agar sepeda motor itu diturunkan dan dinaikkan ke kapal kayu miliknya," tutur Malau mengisahkan.

Bukan saja Malau, Boru Sinaga warga lainnya membenarkan. Terlebih ketika jam sudah menunjukkan trip terakhir, kapal selalu dipaksakan berangkat meski sudah kelebihan muatan. Hal itu disebutnya sudah berlangsung bertahun-tahun. Terlebih pada hari libur, sepadat-padatnya penumpang tetap akan dioperasikan.

Baca: Pemkab Samosir Dianggap Lalai dan Tidak Melakukan Pengawasan dengan Benar

Baca: Nama Nakhoda Kapal Maut KM Sinar Bangun Disembunyikan, Ini Alasan Pemkab dan Kapolres Samosir

Baca: Tangis Ibunda Sai tak Terbendung: Ya Allah, Semoga Anakku Ditemukan Selamat. . .

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan Samosir, Nurdin Siahaan menyebut, bukan tugasnya melakukan pengawasan terkait tenggelamnya KM Sinar Bangun. Katanya, pengawasan itu malah ada pada wewenang Dishub Provinsi Sumut. Padahal, daerah itu sepenuhnya di bawah otoritas Dishub Samosir.

"Saya tidak menjawab itu. Baca Permengub kalau soal pengawasan. Sekarang kita fokus pada pencarian korban. Kami akan melakukan pembelajaran atas kejadian ini. Termasuk masyarakat jangan memaksakan diri untuk naik ke kapal," jawabnya.

Alasannya, kapal yang tenggelam adalah berukuran 70 GT. Di atas 40 GT bukan wewenangnya.

Halaman
12
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved