Kedai Tok Awang

Cemana Kalau Judulnya Last Tango in Russia

"Ini jauh lebih gawat dari pilkada, Pak Ko. "Ini soal hidup dan mati," kata Sangkot.

Cemana Kalau Judulnya Last Tango in Russia
AFP PHOTO/DIMITAR DILKOFF
LIONEL Messi 

BELUM lima belas menit Sangkot duduk di kedai Tok Awang, sudah lebih tiga puluh kali kata 'gawat' meluncur dari mulutnya. Pada kata 'gawat' ke 31, Pak Ko yang kebetulan masuk kedai membawa buah potong pesanan Jontra Polta, menegurnya.

"Apa yang gawat, Kot? Pilkada, ya? Kau pilih mana, rupanya?

Sangkot menggelengkan kepala. "Ini jauh lebih gawat dari pilkada, Pak Ko. Bagi aku, siapapun yang terpilih, nomor satu atau nomor dua, tak pala kali jadi soal. Siapapun yang menang tetap narik taksi online juganya awak."

"Jadi?"

"Ini soal hidup dan mati."

"Makjang, hidup dan mati siapa, Kot?" tanya Tok Awang menimpali. Mak Idam yang jadi lawan caturnya ikut menoleh dengan sorot mata penasaran. Pula demikian Pace Pae, penonton pertandingan.

"Argentina!"

Jontra Polta menepuk jidatnya. Pak Ko menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melangkah keluar kedai. Tok Awang dan Mak Idam melengos, kembali ke buah-buah catur.

"Ah, sa kira apa. Kaka Sangkot bicara seperti besok mau kiamat saja," kata Pace Pae.

"Ini memang mau kiamat, Pace. Kiamat bagi Argentina."

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved