Anak Dipisahkan dari Orangtua Bisa Alami Trauma Berkepanjangan

Tentu saja pemisahan secara paksa ini menimbulkan protes dari banyak pihak

Anak Dipisahkan dari Orangtua Bisa Alami Trauma Berkepanjangan
tribunmedan
Anak Dipisahkan dari Orangtua 

Foto Bob Lahi.

TRIBUN-MEDAN.com - Para dokter dan psikolog angkat bicara dan mengecam kebijakan presiden AS Donald Trump terkait " Toleransi Nol" yang memisahkan anak-anak dari orangtua mereka.

Tentu saja pemisahan secara paksa ini menimbulkan protes dari banyak pihak karena dianggap dapat menciptakan trauma dan mengganggu psikologis anak dalam jangka panjang.

Dr. Colleen Kraft, presiden American Academy of Pediatrics (AAP) yang belum lama ini mengunjungi pusat pengasingan anak-anak berumur 12 tahun ke bawah di Texas menceritakan pengunjung tidak diperbolehkan menggendong atau menghibur anak-anak yang menangis.

Ketiadaan sentuhan fisik seperti pelukan, memegang tangan, dan memberi rasa nyaman adalah faktor utama yang dapat memengaruhi psikologis anak-anak.

Baca juga: Bocah Honduras Ikon Kebijakan Trump Tak Dipisahkan dari Orangtuanya

 

Menurut Lori Evans, asisten profesor dari Departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Healt mengatakan ketiadaan sentuhan fisik akan meningkatkan hormon stres pada anak-anak.

"Kami mengetahui ini dari anak-anak yang dibesarkan di panti asuhan," kata Evans dilansir Live Science, Rabu (20/6/2018).

Ia menjelaskan, anak-anak tanpa sentuhan kasih sayang dapat meningkatkan hormon stres kortisol yang lebih tinggi dari biasanya, bahkan setelah mereka dipulangkan kembali ke orangtuanya.

Selain hormon kortisol meningkat, hormon lain seperti oksitosin dan vasopresin yang penting untuk ikatan emosional dan sosial akan jauh lebih rendah dibanding anak-anak yang mendapat sentuhan kasih sayang.

Halaman
123
Editor: Bobby Silalahi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help