Pilgub Sumut

Edy Rahmayadi Menang Versi Quick Count, Ini Kata Pengamat Politik 

Eramas memperoleh 57,07 persen suara dan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) yang hanya meraih 42,93 persen.

Edy Rahmayadi Menang Versi Quick Count, Ini Kata Pengamat Politik 
TRIBUN MEDAN/RISKY CAHYADI
JALAN BERSAMA - Calon Gubernur Sumut Djarot Saiful Hidayat (kiri), dan Calon Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi (kanan), berjalan bersama saat mengikuti Deklarasi Kampanye Damai di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan, 18 Februari 2018. Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur berkomitmen melaksanakan Pilkada Sumut yang damai. 

Laporan Wartawan Tribun-Medan, Fatah Baginda Gorby

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara akhirnya memasuki tahap penghitungan suara. Pasangan gubernur dan wakil gubernur nomor urut satu Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah unggul sementara dalam hasil quick count atau perhitungan cepat sejumlah lembaga survei di Pilgub Sumatera Utara (Sumut) 2018.

Eramas memperoleh 57,07 persen suara, jauh meninggalkan pesaingnya pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) yang hanya meraih 42,93 persen.

Menanggapi perhitungan itu, Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Sumut Arifin Siregar mengungkapkan, hasil hitung cepat itu merupakan salah satu penerapan metode ilmiah. Data sampel ini dijadikan gambaran hasil pemilihan dengan tingkat keakuratan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan begitu, ia menilai hasil quick count ini bisa dijadikan salah satu referensi sebelum rekapitulasi perhitungan suara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Kekuatannya itu ada dalam penarikan sampelnya. Jika dikerjakan dengan benar maka hasilnya tidak akan berbeda jauh dengan hasil sebenarnya,” kata Arifin, Kamis (28/6/2018).

Ia menilai, kemenangan pasangan Eramas dalam Pilgub Sumut 2018 tak lepas dari strategi politik identitas yang dilancarkan sepanjang masa tahapan.

Baca: Pernyataan Menyejukkan Istri untuk Sihar Sitorus, Patricia Siahaan: Pemimpin Sejati Tidak Berlari. .

“Kita tidak bisa naif. Kemenangan Eramas dibantu oleh politik identitas yang mereka gunakan,” ujarnya.

Meski begitu, penerapan politik identitas di Sumut bukan menjadi hal yang menakutkan, sebagaimana sempat digaungkan oleh pihak luar selama ini.

“Masyarakat justru jadi melek politik. Mereka berlomba-lomba mempelajari untuk mengetahui latar belakang kandidat. Lihat saja hari ini (pascapemilihan), kita gembira-gembira saja,” kata Arifin.

Halaman
12
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved