Kedai Tok Awang

Kalau Saja Indonesia Ikut Piala Dunia

Kalok masih kayak gini-gini jugaknya sepakbola Indonesia diurus, sampai kapanpun tidak akan ikut di Piala Dunia kita

Kalau Saja Indonesia Ikut Piala Dunia
SUPER BALL/FERI SETIAWAN
PEMAIN tim nasional Indonesia berpose bersama usai melawan Guyana dalam laga ujicoba di Stadion Patriot, Bekasi, beberapa waktu lalu. 

SELAIN kelolosan dramatis Jepang ke babak 16 besar, keberhasilan oppa-oppa dari Korea mendepak Jerman dari Piala Dunia masih jadi trending topic di kedai Tok Awang. Di antara percakapan yang menyeruak adalah pembandingan skor pertandingan Jerman versus Korea dan Indonesia kontra Korea yang berujung pada pengandai-andaian Indonesia bermain di Piala Dunia.

Mulanya datang seorang pemuda. Barangkali mahasiswa. Mungkin juga sebangsa lajang pengangguran luntang-lantung tak tentu rupa. Menurut Tok Awang, bersama tiga kawannya pemuda itu riuh ngobrol soal pertandingan tersebut, sampai kemudian dia menyebut Indonesia lebih hebat dari Jerman.

PEMAIN-pemain Korea Selatan merayakan kemenangan dari Jerman pada laga terakhir Grup F, 27 Juni 2018, yang sekaligus menghentikan langkah Jerman di Piala Dunia.
PEMAIN-pemain Korea Selatan merayakan kemenangan dari Jerman pada laga terakhir Grup F, 27 Juni 2018, yang sekaligus menghentikan langkah Jerman di Piala Dunia. (AFP PHOTO/ROMAN KRUCHININ)

"Kok bisa pulak lebih hebat, Tok? Macam mana ceritanya?" tanya Sangkot yang singgah ke kedai Tok Awang untuk mengisi baterai telepon selularnya. Bagi sopir taksi online seperti dia, telepon selular memang tak ubahnya nyawa. Celakanya, pagi tadi dia lupa membawa power bank. Beruntung bagi dia, colokan listrik di kedai Tok Awang selalu tersedia dan gratis pula.

"Iya, itu dia awak juga jadi geli. Dibilang anak itu, Indonesia cumak kalah satu dua dari Korea. Sedangkan Jerman kalahnya dua kosong."

"Kapan Indonesia main sama Korea?"

"Tanggal 23 Juni."

"Bah, itu, kan, cumak pertandingan uji coba. Lagipula itu, kan, Korea U-23. Tim Korea yang untuk Asian Games."

"Sa rasa itu anak terlalu sering nonton boy band," kata Pace Pae menimpali.

"Apa hubungannya, Pace?" ujar Lek Tuman. Kalimat Pace Pae akhirnya mengalihkan pandangan Lek Tuman dari televisi. Sejak awal kedatangannya ke kedai Tok Awang, Lek Tuman terus menonton siaran perkembangan pilkada serentak dari berbagai daerah di Indonesia yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi.

"Keseringan nonton orang-orang yang sibuk menari-nari lupa menyanyi, Bapa Kepling. Dianya juga jadi ikut lupa kalok antara Korea U-23 dengan Korea yang main di Piala Dunia itu trada sama. Pemainnya tak sama, kualitasnya jugak tak sama."

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved