Kedai Tok Awang

Sampai Kapan Inggris Bertahan di Rusia?

Secara kualitas gelandang-gelandang Inggris sekarang tidak sementereng di Piala Dunia 2002 dan 2006.

Sampai Kapan Inggris Bertahan di Rusia?
AFP PHOTO/JOHANNES EISELE
PEMAIN tim nasional Inggris, Jesse Lingard 

BAHWA mendadak Pak Udo mengatakan 'Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis', janganlah disangka dia telah menjadi seorang Sukarnois. Sama sekali tidak. Pak Udo tetap pada posisinya semula: memandang politik sekadar sebagai lelucon yang sering kali tak lucu.

Adapun kalimatnya, tentu, tiada lain dan tiada bukan berhubungan dengan Inggris saja. Toh Amerika tidak ikut Piala Dunia dan konon ini mengecewakan Vladimir Putin. Sebagai pendukung Jerman garis keras, Pak Udo merasa terlinggisnya Inggris akan jadi pelampiasan paling sempurna. Walau pasti tidak akan tuntas, setidaknya, jika Inggris ikut pulang, sakit hatinya atas terdepaknya Jerman pagi-pagi dari Piala Dunia 2018 bisa terobati.

Persoalannya, apakah Inggris juga akan kena linggis? Apakah Inggris juga akan ikut pulang bersama Jerman dan tiga mantan juara dunia lainnya --Argentina, Portugal, dan Spanyol?

Kecuali Mak Idam, tak ada pengunjung tetap kedai Tok Awang yang berada satu gerbong dengan Pak Udo. Umumnya berpendapat Inggris akan bertahan. Setidaknya sampai babak perempat final. Bahkan Wak Razoki, Ane Selwa, dan Lek Tuman, punya satu pandangan, Inggris akan mengulang pencapaian di Italia 1990, yakni lolos ke semifinal.

Namun ternyata, walau hanya berdua, Pak Udo dan Mak Idam bersikukuh dengan pendapat mereka. Pak Udo bahkan memproklamirkan idola barunya, James Rodriguez.

PELATIH tim nasional Kolombia, Jose Pakerman (kiri), berbicara dengan pemain tim nasional Kolombia, James Rodriguez, usai laga melawan Jepang, 19 Juni 2018.
PELATIH tim nasional Kolombia, Jose Pakerman (kiri), berbicara dengan pemain tim nasional Kolombia, James Rodriguez, usai laga melawan Jepang, 19 Juni 2018. (AFP PHOTO/SAEED KHAN)

Tak ayal debat pun terjadi. Riuh dan panas, mirip betul dengan acara debat di televisi. "Ari tu Mamak pernah bilang kalok di antara negara-negara yang kelas, Inggris yang paling enggak bekelas. Awak setuju itu, awalnya. Namun makin ke sini kayaknya Si Southgate bisa bentuk tim kelas. Maksud awak benar-benar berkelas," kata Wak Razoki.

"Iyalah, kita kalok ngomong itu, ya, pakek pakta lah. Jangan pulak asal libas. Macam baru nonton bola sehari dua hari aja," ujar Ane Selwa menimpali. Katanya pula, Inggris berkembang dalam senyap. Lantaran sejak mula diremehkan, tidak banyak yang mencermati betapa dari laga ke laga, mulai dari fase kualifikasi, kekuatan Inggris tumbuh dan makin membaik.

Mereka tidak pernah kalah di kualifikasi. Rekornya, 10-8-2-0, mencetak 18 gol dan hanya kebobolan tiga gol. Tak mengesankan memang apabila dibandingkan dengan Jerman. Namun di Rusia, Inggis membaik --terlepas dari lawan-lawan mereka, di luar Belgia, yang kurang sepadan.

"Itu baru satu pakta, ya. Yang lain, lawan Inggris nanti, kan, Kolombia. Paktanya, lawan Kolombia orang tu lebih sering menang. Ada tiga kali menang kalok tak silap awak. Dua kali seri. Kalah enggak pernah. Terakhir di Piala Dunia 2002, Inggris menang 2-0," katanya.

"Ingat aku itu, Ne," sahut Sudung. "Nonton aku siaran langsungnya di kampung. Si Beckham nyetak satu gol di situ, dari tendangan bebas cantik kali."

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help