Kedai Tok Awang

Ramalan njeplak dan VAR yang Bunuh Sepakbola

Para raksasa macam Italia, Belanda, dan Chile, bahkan tak sempat kebagian tiket dan harus jadi penonton.

Ramalan njeplak dan VAR yang Bunuh Sepakbola
Tribunnews
Piala Dunia 2018 Rusia 

LANTARAN para peramal kelas kakap saja banyak yang kecele, maka peramal-peramal kelas teri tak perlu malu kalau ramalan mereka njeplak.

Demikian kalimat hiburan Jontra Polta kepada Jek Buntal dan Sangkot yang sampai babak perdelapan final Piala Dunia 2018 lebih sering menangis.

Tim-tim yang mereka jagokan lebih sering kalah. Kalau pun tim-tim itu tak kalah, keberanian tanpa perhitungan matang dalam memberikan voor, membuat keduanya kerap jadi pesakitan.

Namun di luar nasib Jek Buntal dan Sangkot yang tentu saja tak usah dipikirkan, Piala Dunia 2018 memang menghadirkan kejutan-kejutan yang bagi banyak orang tidak terlalu menyenangkan.

Rusia yang dingin menjadi kuburan tim-tim "mainstream".

Tim-tim dengan nama besar dan tradisi panjang di Piala Dunia.

Tim-tim yang tiap kelolosannya ke fase-fase akhir kejuaraan akan dipandang sebagai kewajaran belaka.

Tengoklah komposisi perempat final edisi ini: Uruguay, Perancis, Rusia, Kroasia, Brasil, Belgia, Swedia, dan Inggris. Tidak ada Jerman, juara dunia empat kali. Tidak ada Spanyol, tidak ada Argentina, juga Portugal.

Sebelumnya, para raksasa macam Italia, Belanda, dan Chile, bahkan tak sempat kebagian tiket dan harus jadi penonton.

"Ini sebenarnya menandakan satu hal. Bahwa di level atas, kualitas teknik sepakbola antar negara enggak lagi berbeda jauh. Yang lebih menentukan jadinya adalah mental. Sekuat mana dan serapuh mana. Dewi fortuna jugak berperan. Siapa yang sedang beruntung dan siapa yang sedang sial," kata Zainuddin.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved