Suharti  Bingung Anaknya Ditolak Masuk SMAN 12 Medan, Padahal Masuk Zonasi dan Punya Nilai UN Tinggi

Suharti kesal karena anaknya tidak lulus di SMA Negeri 12 Medan.Padahal menurutnya jarak antara sekolah dan rumah tidak terlalu jauh.

Suharti  Bingung Anaknya Ditolak Masuk SMAN 12 Medan, Padahal Masuk Zonasi dan Punya Nilai UN Tinggi
Tribun Medan/Chandra Simarmata
Suharti saat memberikan keterangan terkait hasil pengumuman PPDB online 2018.  

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN -Suharti, orangtua siswa merasa kesal usai melihat pengumuman penerimaan peserta didik di sekolah menengah atas (SMA) Negeri 12 Medan yang berada di Jalan Cempaka Raya No.75, Helvetia Tengah, Medan Helvetia, Sabtu (7/7/2018).

Kepada Tribun Medan, Suharti yang ditemui di lokasi SMA negeri 12 Medan,  mengungkapkan kekesalannya karena anaknya tidak lulus di SMA Negeri 12 Medan. Padahal menurutnya jarak antara sekolah dan rumah tempat tinggalnya tidaklah terlalu jauh.

Selain itu, Suharti juga mengeluhkan bahwasannya ada juga calon peserta Didik yang jarak rumahnya justru lebih jauh atau hampir sama dengan rumahnya namun bisa lulus. Hal ini pun membuat Suharti dan anaknya bingung kenapa bisa terjadi seperti itu.

"UN anak saya 26, beralamat di jalan Abdul Manaf Lubis gang sekata. Jarak rumah dan sekolah anak saya itu hanya satu kilometer lebih. Kalau masalah zonasi yang mereka permasalahkan hampir sama mungkin dengan rumah si teman anak saya ini yang di kapten Muslim itu, dengan rumah kami. itu bisa lulus. Di mana salahnya ini," imbuhnya.

Sementara itu, Terkait nilai Ujian Nasional (UN) Suharti juga merasa heran karena anaknya yang memiliki nilai UN yang lebih tinggi justru tidak lulus. Sementara teman-teman anaknya yang memiliki nilai UN lebih rendah justru bisa lulus.

"Soal nilai UN itu juga, anak saya nilainya lebih tinggi tidak lulus. Tapi yang lebih rendah lulus. Jadi apa gunanya dibuat UN itu? Malah rumah yang jauh dan hasil UN nya di bawah nilai anak saya itu bisa masuk," katanya.

Oleh karena itu, Suharti pun mengaku kecewa dan tidak terima dengan hasil ppdb online yang diterima anaknya ini.

"Jujur Saya tidak terima. Sebagai masyarakat awam saya tidak terima dengan permainan apa ini sebenarnya. Ini sudah bobrok kali pendidikan kayak gini," keluhnya.

Baca: BMKG Minta Masyarakat Tidak Khawatir Terhadap Penurunan Suhu Ekstrem di Malam Hari

 

Baca: Lagi Syantik Siti Badriah Geser Lagu Sayang Via Vallen, Fakta Viewer Syahrini Kalah di You Tube

Dengan kondisi proses penerimaan peserta didik yang terjadi seperti ini, Suharti pun berharap agar pihak-pihak yang perduli dengan pendidikan serta masyarakat bawah dapat melakukan penelurusan terkait masalah zonasi supaya jelas letak permasalahannya.

"Saya kalau bisa meminta kepada orang-orang yang perduli dengan masyarakat bawah, mereka terjunlah melihat ini. Tolonglah ditelusuri dululah, dijajaki dulu di mana masalahnya ini kalau masalah zonasi," tandasnya.

Untuk diketahui, pada hari ini, Sabtu (7/7/2018), telah diumumkan hasil seleksi dari penerimaan peserta Didik online (PPDB) tingkat SMA/SMK tahun 2018.

Pantauan Tribun Medan hingga siang hari pukul 14.00 WIB , masih tampak sejumlah siswa maupun orang tua siswa yang berdatangan untuk melihat pengumuman kelulusan anaknya.

(Cr11/Tribun-medan.com)

Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Joseph W Ginting
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved