Kedai Tok Awang

Ulangan Sejarah atau Sejarah Baru

Tinggal empat negara yang tersisa di Piala Dunia 2018: Perancis, Inggris, Belgia, dan Kroasia.

Ulangan Sejarah atau Sejarah Baru
AFP PHOTO/YURI CORTEZ
PEMAIN tim nasional Inggris, Harry Maguire, berteriak usai mencetak gol pertama Inggris ke gawang Swedia, pada pertandingan babak semifinal Piala Dunia 2018, Sabtu, 7 Juli. 

KOMPOSISI semifinal sudah diperoleh. Tinggal empat negara yang tersisa di Piala Dunia 2018: Perancis, Inggris, Belgia, dan Kroasia. Dua negara pertama pernah mengangkat tropi Piala Dunia. Inggris yang juara tahun 1966, saat menjadi tuan rumah, masih mengangkat tropi lama, Jules Rimet, yang kemudian hilang dicuri setelah menjadi milik Brasil usai menjuarai Piala Dunia untuk kali ketiga di tahun 1970.

Sedangkan Perancis mengangkat tropi di tahun 1998, juga ketika bertindak sebagai tuan rumah. Perancis mengangkat tropi pengganti yang mulai diperebutkan sejak 1974. Tropi emas 18 karat setinggi 36,83 senti bikinan Silvio Gazzaniga.

Dua negara lainnya paling jauh memang baru sampai di semifinal. Belgia melakukannya di tahun 1986. Mereka terhenti di babak ini, didepak Argentina yang sedang menggila. Dua gol Argentina dilesakkan Diego Maradona.

Kroasia melaju ke semifinal pada kesempatan pertama mereka beraksi di Piala Dunia, yakni pada 1998 di Perancis. Sebelum 1994, Kroasia merupakan bagian dari Yugoslavia yang sejak 1930 telah bermain di tujuh edisi Piala Dunia. Pada fase empat besar di Perancis itu, Kroasia bahkan sempat lebih dahulu mengungguli Perancis lewat gol Davor Suker.

"Masih ingat betul awak waktu itu cemana main orang tu. Memang mantap kali. Saking mantapnya mungkin jadi agak-agak sepele. Kalok enggak begaya kali main si Boban, pakek putar-putar badan kayak Zidane, mungkin enggak bisa Thuram nyetak gol dan bisa jadi Perancis enggak lolos ke final," kata Wak Razoki.

"Generasi emas sepakbola Kroasia," ujar Pak Udo menyambung. "Awak juga masih ingat cemana orang ni ngelibas Jerman di perempat final. Enggak nanggung-nanggung, tiga nol."

Namun generasi emas ini berumur pendek. Hanya dua bulan setelah Piala Dunia, mereka tumbang dua gol tanpa balas di tangan Republik Irlandia pada laga pertama babak kualifikasi EURO 2000. Kekalahan yang menjadi awal dari rentetan performa buruk dan membuat mereka gagal lolos ke putaran final kejuaraan yang digelar bersama oleh Belanda dan Belgia.

Sisa-sisa laskar 1998, dibantu sejumlah pemain muda, mencoba bangkit dan lolos ke putaran final Piala Dunia 2002, namun gagal berkembang dan kandas di fase grup. Setelah itu, beruntun mereka cuma jadi pesakitan di EURO 2004, Piala Dunia 2006, EURO 2008, EURO 2012, Piala Dunia 2014, dan EURO 2016.

Sejak 2008, tahun di mana untuk kali pertama mampu lolos dari fase grup EURO, Kroasia sesungguhnya sudah mulai membangun generasi emas mereka yang kedua. Namun memang tidak mudah untuk menyelaraskan bakat-bakat besar. Luka Modric dan Ivan Rakitic, dua pemain muda berbakat besar yang waktu itu diperkirakan bakal menjadi gelandang-gelandang paling berpengaruh di dunia, hanya menggetarkan lawan di atas kertas, namun melempem kala bermain bersama di lapangan.

PEMAIN Kroasia, Ivan Rakitic, merayakan gol yang dicetaknya dari titik putih sebagai penendang terakhir pada babak adu penalti kontra Rusia di semi final Piala Dunia 2018, 7 Juli.
PEMAIN Kroasia, Ivan Rakitic, merayakan gol yang dicetaknya dari titik putih sebagai penendang terakhir pada babak adu penalti kontra Rusia di semi final Piala Dunia 2018, 7 Juli. (AFP PHOTO/ODD ANDERSEN)

Keduanya tidak pernah benar-benar bisa bersenyawa, hingga akhirnya, secara ajaib, permusuhan yang istikamah antara Real Madrid dan Barcelona, justru menempa mereka untuk saling mengisi satu sama lain tiap kali bermain bersama di tim nasional.

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help