Kedai Tok Awang

28 menuju 52 atau Panggung Luka?

Kroasia, tim yang dari banyak sisi, jika mau jujur-jujuran, bermain lebih baik dari Inggris.

28 menuju 52 atau Panggung Luka?
AFP PHOTO/JOHANNES EISELE
PEMAIN dan kapten tim nasional Kroasia, Luka Modric 

SETELAH Brasil, Argentina, Jerman, Spanyol, dan Portugal kandas, kecuali beberapa yang memang betul-betul suporter garis keras, orang-orang di kedai Tok Awang ramai-ramai mengalihkan dukungan ke empat tim yang masih bernafas. Di antara keempatnya, dukungan bagi Inggris boleh dikata yang paling banyak.

Tentu mudah saja menduga apa penyebabnya. Orang-orang di kedai Tok Awang adalah para pemamah rakus sepakbola Eropa, dan dari sejumlah liga dari negara-negara Eropa yang pertandingan-pertandingannya disiarkan langsung oleh stasiun-stasiun televisi di Indonesia, Liga Inggris memang yang terfavorit setidaknya karena dua alasan.

Pertama, pertandingan-pertandingannya disiarkan tidak terlalu malam hingga orang-orang yang tidak terlalu kuat begadang masih bisa menontonnya tanpa perlu meneguk kopi banyak-banyak. Masih bisa menontonnya dalam kondisi fisik yang lebih segar dibandingkan, misalnya, Liga Spanyol yang disiarkan rata-rata lewat tengah malam.

Alasan kedua, lebih seru. Liga Spanyol sering diolok-olok sebagai liga yang hanya kompetitif bagi Real Madrid dan Barcelona, plus akhir-akhir ini, Atletico. Klub-klub lain berduel sepanjang tahun sekadar untuk jadi penyemarak tanpa punya harapan juara.

Pula demikian Liga Italia yang Juventus sekali, Liga Jerman yang tiap tahun nyaris pasti 75 persen sudah jadi milik Bayern Munchen, dan Liga Perancis yang belakangan, sejak mereka jadi 'OKB', 'Orang Kaya Baru', betul-betul didominasi Paris Saint Germain. Klub-klub kelas kaleng sarden, apalagi kelas kaleng susu yang tak mengandung susu, jangan harap bisa menang jika sudah berhadapan dengan klub-klub tesebut. Kalaupun ternyata bisa menang, maka kemenangan itu akan dirayakan seolah-olah sudah meraih gelar juara.

Di Liga Inggris tidak demikian. Di Liga Inggris, tiap awal musim adalah momentum penuh misteri. Tidak seorangpun peramal bola yang bisa menyebut secara konkret klub mana yang akan jadi juara. Paling jauh, peramal-peramal itu menyebut juaranya adalah satu dari lima klub yang memang sudah punya tradisi panjang di kompetisi ini. Ada Manchester United, Liverpool, dan Arsenal, yang merupakan kekuatan-kekuatan lama, ditambah Manchester City dan Chelsea sebagai kekuatan baru.

Memang, sejak diresmikan pada 20 Februari 1992 untuk menggantikan kompetisi lama, The FA Premier League dikuasai oleh Manchester United yang juara sebanyak 13 kali, disusul Chelsea lima kali, serta City dan Arsenal yang masing-masing tiga kali. Namun jika ditarik garis lebih jauh ke kompetisi sebelumnya, maka akan kelihatan betapa klub yang pernah menjadi penguasa kompetisi ini, walau di antaranya ada yang cuma sekali, ada lebih banyak lagi.

Liverpool, misalnya, meraih 18 tropi, jauh lebih banyak dari Manchester United yang hanya tujuh tropi. Jumlah tropi United bahkan tersaingi dari Everton yang meraih sembilan tropi serta Everton dan Sunderland yang masing-masing meraih tujuh dan enam tropi. Di luar klub-klub ini, ada 15 klub lain yang pernah meraih gelar juara. Termasuk Leicester City dan Tottenham Hotspur yang pada Piala Dunia 2018 memberi kontribusi besar bagi tim nasional Inggris.

Leicester memang hanya mengirim dua pemainnya ke dalam skuat Three Lion --julukan tim nasional Inggris. Namun Harry Maguire, satu di antara pemain itu selain Jamie Vardy, tak tergantikan di jantung pertahanan Inggris. Sedangkan Tottenham Hotspur menempatkan tiga pemainnya di jajaran starting eleven. Bahkan saat menghadapi Kolombia, pelatih tim nasional Inggris, Gareth Southgate, memasukkan dua pemain Hotspur lain, hingga untuk kali pertama sepanjang sejarah, lima pemain Hotspur memperkuat tim nasional Inggris dalam satu laga.

"Inggris sekarang bolehlah agak bangga sikit. Orang ni lah tim yang paling nasionalis," kata Jek Buntal, sepenarikan nafas setelah meneguk kopinya. "Semua pemain orang ni main di negaranya sendiri."

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved