Pelajar Rebutan ke Kota, Sekolah Terancam Kekurangan Siswa, Arsyad: 24 Ribu Kursi Kosong

Memang banyak, tadi kita hitung-hitung masih ada sekitar 24 ribu lagi kursi kita yang kosong. Yang tidak ada muridnya dan siswanya

Pelajar Rebutan ke Kota, Sekolah Terancam Kekurangan Siswa, Arsyad: 24 Ribu Kursi Kosong
TRIBUN MEDAN/Chandra
Kepala Dinas Pendidikan Pemprov Sumut Arsyad Lubis. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN -Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Kadisdik Sumut) Arsyad Lubis mengungkapkan data bahwa masih terdapat sekitar 24 ribu kursi kosong atau yang belum memiliki siswa pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun 2018 ini.

Hal ini dikatakannya saat ditemui Tribun Medan di kantornya.

"Memang banyak, tadi kita hitung-hitung masih ada sekitar 24 ribu lagi kursi kita yang kosong. Yang tidak ada muridnya dan siswanya. Kalau yang 24 ribu kursi itu dirata-ratakan sekolah itu dibagi 432 siswa per sekolah, bayangkan sudah berapa," ujarnya kepada Tribun Medan, Rabu sore (11/7/2018).

Menurut Arsyad, banyaknya kursi kosong yang belum terisi oleh siswa di daerah-daerah, dikarenakan masih tingginya minat siswa untuk mendaftar di daerah perkotaan. Ini menjadikan pendaftar tetap menumpuk di perkotaan.

"Yang jelas, ya kalau secara Sumatera Utara ternyata kita masih ada kursi yang tidak terpenuhi oleh siswa, tapi di daerah. Cuman persoalannya kita itu kan banyak yang menumpuk, mendaftar di daerah-daerah perkotaan. Yang dianggap memang sekolahnya bagus, itu kan sebenarnya tidak salah, cuma aturan dari kementerian yang terima mulai tahun ini kita mempersyaratkan zonasi," terangnya.

Padahal, kata Arsyad, sistem zonasi dibuat sebenarnya supaya setiap siswa yang dekat dengan sekolah itu bisa bersekolah lebih dekat. Sehingga membuat biaya lebih ringan dan lebih mudah dipantau.

"Siapa yang paling dekat ke sekolah itu, dialah yang kemungkinan besar menjadi murid di situ. Dengan pertimbangan agar biayanya murah kemudian orangtua bisa memantau anaknya di sekolah karena dekat," katanya.

Baca: Kesalahan Titik Koordinat Zonasi saat Pendaftaran, Ini Kata Sekretaris Panitia PPDB Online Sumut

Baca: Suharti  Bingung Anaknya Ditolak Masuk SMAN 12 Medan, Padahal Masuk Zonasi dan Punya Nilai UN Tinggi

 

Baca: Sistem PPDB Online Ada Jalur Zonasi, Calon Siswa Dekat Sekolah Punya Peluang

Saat disinggung terkait adanya temuan kesalahan peletakan dan penginputan titik koordinat zonasi oleh operator, Arsyad mempertanyakan kenapa sewaktu pendaftaran tidak segera dilaporkan kepada operator untuk dilakukan perbaikan. Padahal, sambung Arsyad, bahwa penggunaan sistem zonasi untuk PPDB online tingkat SMA/SMK tahun ini sebenarnya sudah disosialisasikan.

"Kenapa tidak dari awal mereka perhatikan. Zonasi itu kan aplikasi. Itu kan berdasarkan titik koordinat di dapodik. Di dapodik sudah ada titik koordinat titik koordinat itu. Jadi cara mengukurnya itu memang aplikasi yang mengukur dan sebelum dimasukkan ke aplikasi kan dilihat dulu oleh siswa itu. Berapa dia catat, kalau memang dia curiga harusnya dia kan komplain. Nah, jangan sekarang setelah tidak lulus baru mereka sampaikan ini zonasinya tidak benar," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Joseph W Ginting
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved