Kedai Tok Awang

Nikita Mirzani Presiden Kita

Kolinda menjadi pusat perhatian dunia saat berada di tribun kehormatan Stadion Fisht di Kota Sochi, Rusia.

Nikita Mirzani Presiden Kita
vebma.com
ARTIS peran, pembawa acara, dan model iklan, Nikita Mirzaki 

WALAU secara mendadak mendapat lebih banyak suporter tambahan dibanding tiga kontestan lain di semifinal Piala Dunia 2018, tak ada kesedihan yang berlebihan atas kekalahan Inggris menghadapi Kroasia. Di kedai Tok Awang, sebaliknya, kekalahan itu justru disambut dengan lelucon.

Berangkat dari pemikiran Jontra Polta, Sudung, Sangkot, dan Jek Buntal, seluruh pengunjung kedai Tok Awang, baik tetap maupun tidak tetap yang kebetulan datang pada hari itu, akhirnya menyepakati, jika Indonesia ingin ke Piala Dunia, ingin masuk final, maka orang yang harus dipilih untuk jadi presiden mendatang bukan Jokowi, Prabowo apalagi, melainkan Nikita Mirzani.

Kenapa demikian? Ihwal penyebabnya, tiada lain dan tiada bukan adalah Kolinda Grabar-Kitarovic, Presiden Kroasia. Kolinda menjadi pusat perhatian dunia saat berada di tribun kehormatan Stadion Fisht di Kota Sochi, Rusia, pada laga perempatfinal yang mempertemukan Kroasia dengan tuan rumah. Sebelumnya, Kolinda tertangkap kamera televisi saat ikut berteriak- teriak di antara kerumunan suporter Kroasia di tribun Stadion Nizhny Novgorod, pada laga 16 besar kontra Denmark.

PRESIDEN Kroasia Kolinda-grabar Kitarovic saat menonton pertandingan negaranya melawan Denmark di Piala Dunia 2018.
PRESIDEN Kroasia Kolinda-grabar Kitarovic saat menonton pertandingan negaranya melawan Denmark di Piala Dunia 2018. (origu)

"Ilang jugak konsentrasi awak sikit pas nonton Kroasia lawan Rusia itu. Bentar-bentar berharap awak kamera digeser ke tribun kehormatan. Mantap kali awak tengok ibuk tu," kata Jontra Polta, lalu terkekeh-kekeh.

"Untunglah tak datang ibuk tu waktu Kroasia main sama Inggris. Kalok enggak rusak jugak awak," ujar Sangkot menyambung. "Iya, memang baguslah dia enggak datang, Lek," sahut Jek Buntal. "Bisa bekurang nikmat awak nonton main Si Modric dan Rakitic. Asik-asik nunggu kamera nangkap gambarnya aja awak. Tak tetengok awak lagi Si Kane tekincit-kincit dibante Lovren."

"Jangan lupa Perisic dan Mandzukic, Bang Jek," ucap Sudung. "Sedep main orang tu dua. Terutama Si Perisic. Tejajar-jajar bek-bek Inggris dia bikin. Entah kenapa jadi bagus kali main dia. Apa mungkin karena kenak peluk ibuk tu?"

Presiden Kolinda memang masuk ke ruang ganti tim nasional Kroasia usai laga kontra Rusia. Beredar fofo-foto dan video dia menyalami dan memeluk seluruh pemain, satu persatu. Kepada wartawan dari seluruh penjuru dunia yang sudah menunggunya di depan pintu ruang ganti itu, Kolinda bilang dia yakin para pemain bisa menampilkan performa lebih bagus saat berhadapan dengan Inggris, bisa menang dan melangkah ke final untuk menorehkan sejarah baru. Kolinda bicara dengan nada dan intonasi suara yang mengalir tenang, entah mengerti entah tidak bahwa lawan yang dihadapi bukanlah sembarang. Lawan yang sedang menggebu-gebu untuk memulangkan sepakbola ke rumahnya.

Keyakinannya terwujud. Kroasia superior di hadapan Inggris. Superior dalam segala hal. Organisasi permainan yang solid, terutama di lini tengah, memaksa Inggris kembali ke pola mereka sudah lama masuk museum, kick and rush. Dengan Jordan Henderson sebagai sentral, bola-bola dari tengah kerap dilambungkan ke Harry Kane dan Raheem Sterling.

"Secara umum Inggris gagal berkembang. Entah kenapa, biarpun udah menang orang tu satu kosong, tetap enggak yakin jugak awak Inggris bisa menang. Betul-betul enggak ada bahayanya serangan orang tu. Udah tebaca kali sama bek-bek Kroasia. Kalok enggak ke Kane, ya, ke Sterling. Ato ke Si Lingard yang kemarin tu cumak bisa lari-lari enggak jelas. Bolanya pun lambung-lambung terus," kata Mak Idam.

Menurut Mak Idam, Gareth Southgate mau tak mau memang harus mengambil jalan ini lantaran sadar sepenuhnya lini tengah Inggris kalah aduhai dibanding Kroasia. Dia sadar, menghadapkan bermuka-muka Henderson, Delle Ali, dan Lingard dengan Luka Modric, Ivan Rakitic, dan Marcelo Brozovic, dalam arti membiarkan mereka berduel beradu presisi dalam permainan posisi, adalah sebenar-benarnya tindakan bunuh diri.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved