Catatan Sepakbola

Manajemen PSMS yang Bebal

Cari saja pemain yang sudah betul-betul pasti bagus, lalu beli. Masih banyak sekali pemain bagus di luar sana.

Manajemen PSMS yang Bebal
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
SUPORTER membentangkan spanduk berisi kalimat protes terhadap manajemen PSMS, pada laga antara PSMS kontra Persipura Jayapura di Stadion Teladan, Kamis (12/7). Suporter mendesak perombakan tidak saja dilakukan pada skuat, lebih jauh juga terhadap jajaran manajerial. 

SEPULUH laga berkesudahan dengan kekalahan dari total hanya 15 pertandingan. Tentu saja ini rekor yang sangat buruk, dan adalah wajar kiranya apabila pelatih dituntut untuk bertanggung jawab. Bahkan andaikata Manchester City dijadikan acuan, saya hakkul yakin Mansour bin Zayed Al Nahyan tidak akan menunggu hingga kekalahan kesepuluh untuk menurunkan titah pemecatan terhadap pelatih.

Namun sebelum jatuh jadi makin konyol, pembandingan ini kita cukupkan sampai di sini. Sebab kita selanjutnya akan membicarakan PSMS dan menjadikan City sebagai pembanding adalah pilihan yang tak seimbang. Seperti langit pada lapisan ketujuh dengan dasar sumur bor.

Sheikh Mansour amat sangat wajar, misalnya, memerintahkan pemecatan Josep Guardiola jika Manchester City kalah sepuluh kali dalam 15 pertandingan. Dia membangun skuat yang gila- gilaan. Skuat elitis dan mahal yang berisi pemain-pemain kualitas nomor satu di semua lini.

Bagaimana PSMS? Begitulah, manajemen PSMS dalam hal ini yang diatasnamakan pada Dodi Thaher dan Julius Raja, telah memecat Djajang Nurdjaman (Djanur) dari posisinya sebagai pelatih kepala. Djajang dianggap gagal mengangkat performa PSMS. Alih-alih bisa bersaing di papan atas, PSMS justru terpuruk di dasar klasemen sementara Liga 1. Statistiknya menyedihkan: 15-5-0-10. Mencetak 17 gol dan kebobolan 28 gol.

PEMAIN PSMS Dilshod Sharofetdinov duduk menundukkan kepala di lapangan Stadion Teladan, Medan, usai PSMS dikalahkan Persipura Jayapura 1-3 pada laga lanjutan kompetisi Liga 1, Kamis (12/7).
PEMAIN PSMS Dilshod Sharofetdinov duduk menundukkan kepala di lapangan Stadion Teladan, Medan, usai PSMS dikalahkan Persipura Jayapura 1-3 pada laga lanjutan kompetisi Liga 1, Kamis (12/7). (TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR)

Sekilas pintas, dengan tolok ukur statistik ini, maka memang tak pelak, Djanur pantas dipecat. Namun jika ditarik garis lebih jauh, kadar kepantasan ini jadi berkurang. Tentu, bukan pula sebangsa pemakluman. Persisnya, pemecatan Djanur mesti dilihat tidak hanya lewat satu arah pandang. Tidak melulu dari statistik, dari akibat, lebih jauh juga dari sebab. Kenapa sampai statistik yang sungguh aduhai tingkat keburukannya ini bisa terjadi.

Wawancara demi wawancara yang dilakukan wartawan Tribun dengan Djanur, sedikit banyak mengerucutkan indikasi bahwa tak seluruh pemain dalam skuat PSMS merupakan pilihannya. Bukan pemain-pemain yang betul-betul dia inginkan. Pun sekiranya dia memilih, pilihan ini kerap merupakan pilihan terakhir lantaran memang paling sesuai kriteria, yakni murah meriah.

Apakah dana PSMS sangat terbatas? Saya tidak tahu. Manajemen yang tahu. Namun andaikata dana itu memang tidak terbatas-terbatas amat (tidak usahlah sampai tak terbatas diberikan Sheikh Mansour untuk Guardiola), maka tentu skuat PSMS akan terdiri dari pemain-pemain berkualitas lebih baik. Andaikata dana itu memang tidak terbatas-terbatas amat, tentu manajemen tak akan terlalu berpusing-pusing dalam melakukan perombakan tim.

Tak perlu, misalnya, repot-repot menggelar trial. Mengundang atau mendatangkan pemain yang belum diketahui pasti kualitasnya. Cari saja pemain yang sudah betul-betul pasti bagus, lalu beli. Masih banyak sekali pemain bagus di luar sana. Bahkan Cristiano Ronaldo pun sesungguhnya masih bisa dibajak, karena sampai hari ini, dia belum diperkenalkan sebagai pemain baru Juventus. Masih bisa ditelikung sebagaimana Ronaldinho yang bisa "diculik" Barcelona hanya 48 jam sebelum dijadwalkan meneken kontrak dengan Manchester United di tahun 2003.

Namun tiap-tiap kita pun sebenarnya tahu cakap-cakap soal Ronaldo ke PSMS itu tak perlu ditanggapi serius. Tak perlu disikapi sebagai harapan. Sebab level ketidakmasukakalannya setara dan sebanding dengan berharap Nikita Mirzani atau Syahrini terpilih jadi presiden.

DJAJANG Nurdjaman, memberikan instruksi pada pemain dalam satu sesi latihan di Stadion Kebun Bunga, saat masih menjadi Pelatih Kepala PSMS.
DJAJANG Nurdjaman, memberikan instruksi pada pemain dalam satu sesi latihan di Stadion Kebun Bunga, saat masih menjadi Pelatih Kepala PSMS. (TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR)

Kembali ke pertanyaan sebelumnya. Apakah dana PSMS sangat terbatas? Sekali lagi saya tidak tahu. Manajemen yang tahu, bahkan barangkali sangat tahu. Persoalannya, lantaran mereka sangat tahu, kenapa mereka masih memecat Djanur yang sudah setengah mati membangun skuat dengan kekuatan dana ala kadarnya?

Kenapa bukan mereka saja yang pergi dari PSMS? Tidakkah mereka menyadari betapa kegagalan mereka, kegagalan dalam membuat PSMS menjadi klub dengan kondisi keuangan yang melegakan, jauh lebih parah dibanding kegagalan yang dibuat Djanur?

Saya tidak akan meneruskan pertanyaan ini, lantaran kali ini saya tahu, betapa tidak semua orang yang duduk di jajaran manajerial PSMS merupakan orang-orang kompeten di bidangnya. Ada yang sama sekali tidak memahami sepakbola. Baik sepakbola secara teknis, filosofis, apalagi manajerial. Sebagian lain, ada pula yang bebal. Orang-orang yang tak pernah menyadari diri sebagai orang gagal.(t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Sabtu, 14 Juli 2018
Halaman 14

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved