Kedai Tok Awang

Seindah Apapun, Mimpi Mesti Berakhir

Deschamps tahu betul dia punya pemain-pemain cepat yang bisa diandalkan untuk serangan balik

Seindah Apapun, Mimpi Mesti Berakhir
AFP PHOTO/ALEXANDER NEMENOV
PARA pemain tim nasional Kroasia berjalan melalui barisan yang dibentuk pemain-pemain tim nasional Perancis, saat akan menerima medali sebagai peringkat kedua Piala Dunia 2018, usai laga final di Luzhniki Stadium, Moskow, Rusia, Minggu (15/7). Perancis mengalahkan Kroasia 4-2. 

BAHKAN bagi negara-negara semacam Brasil, Jerman, dan Italia, bisa bertanding di partai puncak Piala Dunia tetap merupakan harapan yang levelnya mendekati mimpi. Brasil, walau sudah pernah juara lima kali, tetap saja tak bisa slonong boy, suka-suka di Piala Dunia.

Lengah sedikit, malapetaka akibatnya. Seperti tahun ini, tatkala strategi yang serba tanggung dan serba canggung dari Adenor Leonardo Bacchi atawa Tite, membuat mereka bertekuk lutut di hadapan Belgia.

Jerman pun begitu. Datang ke Rusia sebagai favorit, tanpa siapapun pernah menduga, mereka porak-poranda. Bahkan gagal untuk sekadar lolos dari babak penyisihan grup dan keluar dari kompetisi sebagai juru kunci. Di pertandingan terakhir, Jerman, juara empat kali dari delapan keberhasilan menembus final, ditekuk Korea Selatan.

Italia, sebagaimana Jerman, pernah empat kali juara. Dua kali runner up masing-masing di tahun 1970 dan 1994. Tahun ini, Italia tidak ikut ke Rusia. Di fase kualifikasi, Italia berakhir di belakang Spanyol. Posisi yang membuat mereka harus mengadu nasib di kualifikasi lanjutan melawan para runner up dari grup-grup lain, dan undian, mempertemukan Italia dengan Swedia.

Kalah 0-1 di pertandingan pertama di Stockholm, Italia berharap dapat balik menggulung Swedia di Milan. Harapan yang wajar, tidak sampai level mimpi, tetapi kenyataannya pahit. Waktu 2x45 menit di Milan tak cukup untuk mengejar ketertinggilan. Swedia terbang ke Rusia, menebus kegagalan mereka di edisi 2014, sedangkan Italia mengulang kegagalan 60 tahun sebelumnya.

Jika mimpi bisa setega itu pada pemegang-pemagang gelar terbanyak Piala Dunia, konon pula terhadap Kroasia. Edisi ini merupakan kali kelima mereka menjadi kontestan. Pertama di tahun 1998. Waktu itu, sebagai "anak kemarin sore", Kroasia justru menyentak. Di luar perkiraan peramal bola yang paling jitu, mereka melaju kencang hingga babak empat besar dan baru berhenti setelah ditekuk dengan susah payah oleh Perancis.

Namun, kedigdayaan Kroasia tak berlanjut. Pada edisi-edisi Piala Dunia berikutnya, mereka lolos untuk sekadar menjadi partisipan. Tahun 2002, 2006, dan 2014 terhenti di fase penyisihan grup. Tahun 2010 malah tak lolos.

Inilah mungkin yang menjadi sebab Kroasia dipandang sebelah mata sebelum Piala Dunia 2018 digelar. Orang-orang hanya membicarakan Brasil, membicarakan Jerman, juga Spanyol, Argentina, Belgia, dan Portugal. Orang-orang membicarakan Perancis dan Inggris dan bahkan Mesir yang diperkuat pemain yang jadi sensasi besar di Liga Inggris dan Liga Champions, Mohamad Salah. Maka kecuali orang-orang Kroasia sendiri, serta segelintir kecil suporter Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, dan Liverpool, tak ada yang membicarakan tim ini.

Lalu, cerita 1998 terulang. Kroasia lolos dari adangan Argentina, Islandia, dan Nigeria untuk memuncaki klasemen Grup D. Lawan selanjutnya, Denmark, dilibas. Menyusul Rusia dan Inggris, dan skuat 2018 ini pun melewati pencapaian skuat 1998 yang kedigdayaannya telah diabadikan lewat lembar perangko bernilai 4 Kuna.

LEMBARAN perangko yang dikeluarkan Pemerintah Kroasia sebagai penghargaan atas prestasi yang diraih tim nasional mereka di Piala Dunia 1998.
LEMBARAN perangko yang dikeluarkan Pemerintah Kroasia sebagai penghargaan atas prestasi yang diraih tim nasional mereka di Piala Dunia 1998. (INTERNET)

"Kurasa, apapun hasilnya, orang ni udah jadi pahlawan. Entah cemanalah nanti, entah pemerintah Kroasia di bawah pimpinan ibuk cantek itu nerbitkan perangko baru atau apa lah, yang jelas, nama-nama orang ni udah dicatat dengan tinta emas. Apalagi Si Perisic tu. Dia yang nyetak gol, dia pulak yang bikin gara-gara dan bikin Perancis dapat penalti," kata Wak Razoki.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved