News Analysis

Anak Pejabat dan Tokoh Jadi Caleg, Rendah Kapasitas Namun Berpeluang

Kapasitas sebagian anak pejabat maupun tokoh masyarakat sangat diragukan dalam menjalankan kerja politik.

Anak Pejabat dan Tokoh Jadi Caleg, Rendah Kapasitas Namun Berpeluang

Muryanto Amin,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU

Muryanto Amin, Dekan FISIP USU
Muryanto Amin, Dekan FISIP USU (Dok USU.ac.id)

KAPASITAS sebagian anak pejabat maupun tokoh masyarakat sangat diragukan dalam menjalankan kerja politik.

Namun demikian, menurut saya, mereka berpotensi lolos menjadi anggota parlemen karena memperoleh dukungan dana maupun jaringan dari orangtuanya.

Lantas bagaimana peluang mereka bila tak mendapat sokongan orangtua? Tentu saja, peluangnya teramat kecil.

Kemampuan mereka juga masih diragukan karena belum masuk dan terlibat di partai politik. Jadi, belum belajar untuk menjalankan program partai di masyarakat.

Baca: Bangun Dinasti Politik, Anak Mantan Gubernur-Bupati Maju Jadi Caleg

Proses pembelajaran politik tidak cepat, butuh waktu supaya mereka tidak menjadi anggota dewan karbitan alias mendopleng dari orangtua. Bila saat menjabat enggak memperlihatkan kemampuan maka bisa dikatakan hanya politisi karbitan.

Mereka harus belajar terkait fungsi dan tugas anggota legislatif serta belum memahami kerja politik dari partai.

Kemudian, apakah sudah memahami idiologi partai? Waktu yang teramat singkat tentu pemahaman mereka sangat minim.

Lantas mengapa mereka dicalonkan sebagai anggota legislatif? Tentu saja orangtua pengin ada generasi sehingga momentum legislatif dijadikan sarana untuk belajar dan pendidikan politik bagi mereka.

Namun akan lebih baik, sebelum ditawarkan ke publik seharusnya belajar dahulu program-program masyarakat melalui program partai politik. Setelah matang baru ditawarkan kepada publik sebagai anggota dewan.

Meskipun demikian, mereka belum dikatakan dinasti politik kalau dikatakan dinasti politik, mereka menduduki jabatan di mana-mana. Misalnya orangtuanya gubernur, anak-anaknya jadi bupati. Kemudian, ada menjadi anggota dewan.

Sebetulnya tidak ada yang salah, karena orangtuanya politisi mendidik anaknya supaya jadi penerus. Yang salah bila anaknya kemudian dijadikan sebagai kader karbitan karena belum matang dalam sebuah kepartaian.

Mereka belum jadi kader partai sepenuh hati, namun sudah dicalonkan sebagai anggota dewan, menteri dan kepala daerah. Tanpa proses pendalaman dari kerja politik.

Tidak hanya itu, fenomena ini memperlihatkan parpol sangat sentralistik dan tidak bekerjanya partai politik di masyarakat.

Banyak politisi muda  melempem di parlemen karena tak terbiasa kerja-kerja di masyarakat. Padahal tugas dan fungsi DPRD adalah bertemu dengan masyarakat serta menkompilasi serta menyampaikannya ke eksekutif supaya dimasukkan dalam berbagai kebijakan. (tio)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved