Lamseng Saragih, Berniat Tawarkan Konsep Pengelolaan Sampah Bersifat Profit kepada Pemkab Dairi

Menurut pria yang merupakan PNS di Pemkab Banyuwangi tersebut, sampah adalah harta karun yang tidak akan pernah habis selama manusia masih hidup.

Lamseng Saragih, Berniat Tawarkan Konsep Pengelolaan Sampah Bersifat Profit kepada Pemkab Dairi
TRIBUN MEDAN/MUSTAQIM INDRA JAYA
Lamseng Saragih, saat berada di TPA Sidiangkat, Sidikalang, Kabupaten Dairi pada Rabu (1/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Mustaqim Indra Jaya

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Seakan ingin membuktikan kecintaannya terhadap tanah kelahirannya, putra asli Dairi bernama Lamseng Saragih berniat merubah gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang maupun sampah rumah tangga menjadi sumber uang bagi masyarakat dan juga pemerintah.

Menurut pria yang merupakan PNS di Pemkab Banyuwangi tersebut, sampah adalah harta karun yang tidak akan pernah habis selama manusia masih hidup.

"Selama ini masyarakat dan Pemkab Dairi hanya tahu sampah itu barang yang tak ternilai. Padahal bila dikelola dengan benar, berapa banyak uang yang bisa dihasilkan dari mengumpulkan barang yang dianggap sia-sia," ucap Lamseng, di TPA Sidiangkat, Sidikalang, Dairi pada Rabu (1/8/2018).

Untuk mewujudkan mimpinya pria kelahiran Desa Hutarakyat ini siap memaparkan konsep yang telah ia terapkan di Banyuwangi dihadapan Bupati Dairi tanpa dibayar. Bahkan, bila mendapat lampu hijau, akan menjadikan Kabupaten Dairi sebagai daerah percontohan pengelolaan sampah ideal di Indonesia.

Sebab sepengetahuannya, selama ini pengelolaan sampah di Kabupaten Dairi hanya memindahkan masalah dari rumah tangga masyarakat ke TPA di Sidiangkat. Bila terus dibiarkan, maka sewaktu-waktu akan menimbulkan masalah baru.

Lamseng pun siap mundur sebagai PNS di Banyuwangi dengan konsep yang ia miliki, demi menunjukkan loyalitasnya terhadap Kabupaten Dairi.

"Saya siap sampaikan konsep saya dihadapan bupati. Konsep pengelolaan sampah yang menawarkan uang. Rakyat juga kita ajak untuk berpartisipasi aktif mengelola sampah," sebutnya.

Ia menjelaskan sampah yang dikelola dengan benar dapat berubah menjadi benda berkualitas ekspor bila masyarakat mendapat keterampilan.

Sampah juga bisa dijadikan pupuk organik, bahkan gunungan sampah di TPA bisa menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan oleh rumah tangga dan pabrik-pabrik.

"Harga jual produk pertanian organik diatas. Peluang kita sangat terbuka untuk itu, karena wilayah kita dekat dengan Singapura. Kalau seperti TPA ini cara kerjanya kita kurangi supply ke sini mulai dari rumah. Kalau disini perlu kita uraikan lagi. Disini banyak bahan baku pupuk organik. Dibawah tumpukan sampah ada gas," jelasnya.

"Sampah juga bisa kita jadikan kerajinan plastik, aspal batako, genteng, semua tergantung kita. Teknologi yang dipakai pun murah meriah," pungkasnya.

(cr8/tribun-medan.com)

BACA BERITA POPULER LAINNYA:

Frets Butuan Kembali Bergabung ke PSMS, Butler Tak Mau Pasang sebagai Starter Eleven

Najla Farhan Hafiz, Siswa Berprestasi Jawara Olimpiade yang Harumkan Nama Sumatera Utara

Api Obor Asian Games Sambangi Parapat, Bupati JR Saragih Menortor Bersama 8.500 Masyarakat

Foto-foto Menggemaskan Cucu Kedua Jokowi, Anak Kahiyang Ayu yang Baru Lahir Berat 3,4 Kg

Dalam Waktu Empat Jam, Dua Aksi Kejahatan Terjadi di Jalan Sisingamangaraja, Ini Kata Kompol Revi

Perempuan Berdarah Minang Ini yang Hanya Mampu Mendampret Rocky Gerung dan Fadli Zon!

Di Prancis Siswa Dilarang Bawa Smartphone ke Sekolah, di Indonesia Kapan ?

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved