Ngopi Sore

Langkah Catur Politik Indonesia Bikin Pusing Magnus Carlsen

Pilihan-pilihan Prabowo dan Jokowi terhadap figur yang menjadi bakal calon wakil presiden, menimbulkan gonjang-ganjing di koalisi mereka.

Langkah Catur Politik Indonesia Bikin Pusing Magnus Carlsen
chesscomfiles.com
Langkah-langkah dalam permainan Catur sering diidentikkan dengan politik. 

JIKA pertarungan politik Indonesia jelang Pemilu Presiden 2019 dianalogikan duel di atas papan catur, saya kira, bahkan Magnus Carlsen pun akan tersentak. Carlsen, pecatur berkebangsaan Norwegia, juara dunia catur dengan elo rating tertinggi yang pernah dicapai sepanjang sejarah (2880 untuk rapid dan 2939 untuk blitz), pasti tidak menyangka, tidak sampai pada hitung- hitungan langkah yang sungguh dramatis ini.

Siapa menyangka nama Sandiaga Uno muncul di tengah pergolakan penggodokan nama-nama untuk bakal calon Wakil Presiden Republik Indonesia pada Pemilu 2019. Kehadiran Uno (bahkan untuk sekadar kehadirannya saja!), lebih menakjubkan dibanding kejutan yang dilakukan Carlsen saat mengalahkan David Navara di Biel Chess Festival, 22 Juli 2018. Carlsen menang setelah melakukan pengorbanan ratu (queen sacrifice).

Sandiaga, Wakil Gubernur Jakarta, benar-benar muncul secara tiba-tiba. Sepekan terakhir, sejak ijtimak ulama mengeluarkan rekomendasi bakal calon wakil presiden bagi Prabowo Subiyanto, isu hanya fokus pada dua nama, yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Abdul Somad. Di luar keduanya, mencuat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Memang AHY juga muncul belakangan dan menimbulkan gonjang-ganjing di kubu koalisi pendukung Prabowo. Namun keberadaan AHY sama sekali tidak mengejutkan lantaran berangkat dari komunikasi politik tingkat tinggi antara Prabowo dengan ayahnya, mantan presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tanpa campur tangan SBY, rasa-rasanya, mustahil AHY bisa masuk ke gelanggang konstelasi politik ini. AHY hanya seorang newbie, pendatang baru, tentara yang pensiun dini pada pangkat mayor untuk mengikuti Pemilihan Gubernur Jakarta, dan, kita tahu, akhirnya kalah telak.

Kekuatan politik SBY pelan-pelan menjauhkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) dari Gerindra, juga dari Prabowo secara pribadi. Salim Segaf makin sayup. Hanya nama Abdul Somad yang masih berkibar. Bahkan makin kencang, terutama di kalangan akar rumput. Di kalangan nonpartai, sama sayup. Situasi yang membuat SBY dan Partai Demokrat percaya diri. Poster-poster AHY dalam ukuran serba raksasa pun dipampangkan di mana-mana.

Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto
Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto (kolase/tribun)

Lalu begitu saja kepercayaan diri ini roboh. Sandiaga Uno masuk dan membuat SBY, Demokrat, dan AHY yang tadinya merasa berada di atas angin, sekonyong-konyong limbung, lalu hilang keseimbangan dan terhempas keras ke tanah. Belum hancur berkeping, memang, tetapi boleh dikata nyaris tidak punya daya gebrak lagi. Kecuali SBY mampu melakukan manuver lebih canggih yang sungguh-sungguh dapat mengesankan atau menempatkan Prabowo pada posisi tidak ada pilihan lain, maka sepertinya peluang AHY untuk ikut berkontestasi dalam Pemilu 2019 telah tertutup.

Lepas dari potensi peluang ini, sekali lagi, mesti diakui langkah Sandiaga Uno memang lebih dahsyat ketimbang langkah Magnus Carlsen di Biel Chess Festival 2018. Namun apakah langkah Uno akan berujung pada kemenangan sebagaimana diraih Carlsen, atau berhenti pada sekadar sentakan? Berhenti pada sekadar gertak sambal, kejutan sesaat, tetapi ternyata tidak efektif dan jadi bumerang, berakibat kematian sendiri.

Para petinggi Partai Demokrat telah mengemukakan ketidaksenangan mereka dengan sangat berterus terang. Wakil Sekretaris Jenderal, Andi Arief, melalui akunnya di Twitter, menyebut Prabowo dengan julukan yang kasar, Jenderal Kardus. Kata 'kardus', bertitik tolak dari dugaan perihal Gerindra, dalam hal ini Prabowo, yang dituding Andi mempertimbangkan Sandiaga lantaran yang bersangkutan datang membawa uang. Tak tanggung-tanggung, uang itu disebut- sebut berjumlah Rp 500 miliar.

Apabila Demokrat betul-betul marah lantas memutuskan cerai dari hubungan yang belum berusia genap sepekan, maka jumlah suara bagi koalisi Prabowo akan berkurang. Demokrat memiliki 10,19 persen suara presidential threshold dengan jumlah kursi di DPR RI sebanyak 61 kursi atau 10,9 persen. Apabila Demokrat keluar dari koalisi, besaran persentase presidential threshold koalisi Prabowo tinggal 26,19 persen, yakni 11,81 persen Gerindra ditambah 7,59 persen suara PAN dan 6,79 persen suara PKS.

Tentu ini situasi yang genting. Sebab satu saja di antara PAN atau PKS ikut hengkang, Prabowo akan gagal maju ke pertarungan. Namun sikap politik PKS tidak saja sangat tergantung pada PAN, tetapi juga pada pasang surut konstelasi politik koalisi Jokowi. Sekiranya ada di antara partai dalam koalisi itu yang memilih pergi, peluang mereka membentuk poros baru akan terbuka. Jika tidak, maka sebagaimana Prabowo, PKS dan PAN juga absen berkontestasi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved