Liputan Eksklusif

Terkadang Rambut dan Alis Terbakar Akibat Belajar Masih Pakai Lampu Teplok, Kado Pahit HUT Ke-73 RI

"Terkadang rambut, alis, kena api (lampu teplok, Red). Kalau terasa bau berarti rambut kena sambar api," kata Haga.

Terkadang Rambut dan Alis Terbakar Akibat Belajar Masih Pakai Lampu Teplok, Kado Pahit HUT Ke-73 RI
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Seorang anak warga Desa II Simalem, Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang, belajar menggunakan lampu teplok, Rabu (15/8/2018). Warga desa hanya mendapat pasokan listrik dari genset selama enam jam dan berharap aliran listrik PLN dapat segera masuk ke desa mereka. 

MEDAN, TRIBUN-Para pelajar terpaksa belajar menggunakan alat penerangan seadanya, yakni lampu teplok.

Rambut pun terkadang tidak terasa telah terbakar disambar lidah api, baru disadari setelah bau gosongnya tercium. Suasana remang-remang, tidak seterang-benderang cahaya listrik.

Sebagian lainnya, masih kesulitan air bersih. Demikianlah kado pahit yang diterima para pelajar di banyak desa Sumatera Utara pada Peringatan Ulang Tahun Ke-73 Republik Indonesia, hari ini, Jumat (17/8).

"Terkadang rambut, alis, kena api (lampu teplok, Red). Kalau terasa bau berarti rambut kena sambar api. Cuma itu biasa karena saat menulis tugas kurang terang. Jadi dekat kali sama lampu," kata Haga Kristian Surbakti (10), pelajar dan warga Desa Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang saat ditemui Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com, Rabu (15/8) subuh.

Murid kelas V Sekolah Dasar (SD) ini menambahkan, hari itu, ia memiliki pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai dikerjakan. "Ada tugas sekolah belum siap, jadi sebelum ke sekolah mengerjakan tugas dulu di rumah," ujar Haga.

Banyak warga desa terpencil di Sumatera Utara (Sumut) memang belum tersentuh setrum dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dari 6.110 desa tersebar di Provinsi Sumut, masih ada 311 desa yang belum teraliri listrik dari PLN. Sampai Agustus 2018, PLN Wilayah Sumut telah mengaliri listrik ke 5.908 desa.

Wilayah yang belum teraliri setrum, di antaranya Desa Ujung Deleng, Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, dan Dusun-6 Bina Jaya/Pematang Air, Desa Kuala, Langkat. Warga di kedua desa itu, ingin seperti warga yang telah beruntung, merasakan aliran listrik penuh selama 24 jam.

Baca: Kado Pahit HUT Ke-73 RI, Warga Ronggur Ni Huta Bersabar Menunggu Air Kubangan

Haga contoh satu dari puluhan pelajar Desa Ujung Deleng, Sibolangit, yang saban hari belajar menggunakan lampu teplok di rumah. Niat belajarnya tidak pernah surut walaupun tidak pernah menikmati penerangan dari PLN.

Ia menceritakan, terkadang sehabis belajar dan bangun tidur hidung jadi hitam, dan hampir seluruh dinding rumah menjadi gelap. Bahkan, bila musim hujan mereka sering terlambat ke sekolah karena gelap. Lalu, jalan keluar kampung jelek.

Wartawan Tribun Medan/Tribun-Medan.com menelusuri beberapa desa yang belum teraliri listrik. Untuk menuju Desa Ujung Deleng, harus melintasi jalan setapak yang terjal. Jalan berbatuan yang meliuk-liuk cukup menyulitkan.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved