Pulihkan Danau Toba Pakai Bank Sampah, YPDT Kerja Sama dengan Selendia Baru

YPDT (Yayasan Pencinta Danau Toba) kembali memberikan pelatihan. Pelatihan kali ini adalah memanfaatkan sampah jadi kejarinan tangan.

Pulihkan Danau Toba Pakai Bank Sampah, YPDT Kerja Sama dengan Selendia Baru
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Bibir pantai di beberapa titik di kawasan Danau Toba seperti di Pintu Sona Panguriran Samosir, dipenuhi sampah. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Kawasan Danau Toba di beberapa titik belum bisa terbebas dari sampah. sampah tersebut terdiri dari berbagai jenis. Hingga saat ini sampah-sampah belum bisa terurai baik.

Karenanya, setelah memberikan Seminar dan Pelatihan (Workshop) Program Bank Sampah di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, YPDT (Yayasan Pencinta Danau Toba) kembali memberikan pelatihan. Pelatihan kali ini adalah memanfaatkan sampah jadi kejarinan tangan.

"Pelatihan ini akan memberikan pelatihan kerajinan tangan dengan mendaur-ulang sampah menjadi kerajinan tangan (craft), seperti tas kecil, dompet, bunga, alas meja, gantungan kunci, dan lain-lain,"Ujar Jhohannes Marbun, Sekjen YPDT di Samosir, Kamis (30/82018).

Pelatihan yang digelar Lembaga yang menggugat PT Aqua Farm ini akan berlangsung pada Jumat-Sabtu (31 Agustus– 1 September 2018) di Desa Silalahi II. Kerajinan tangan ini diharapkan dapat menjadi oleh-oleh atau suvenir khas dari Kecamatan Silahisabungan sebagai dukungan dalam mewujudkan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata nasional.

Disebutnya, bahan dasar untuk pembuatan kerajinan tangan ini berasal dari sampah plastik, bungkus kemasan, karton, kertas, kaca, kaleng, besi, dan lain-lain.

Selain sampah non-organik yang disebut di atas, ada juga sampah organik, seperti enceng gondok dan pelepah pisang, yang dapat disulap menjadi barang kerajinan tangan. Pelatihan dari sampah organik ini pun akan diberikan kepada masyarakat di Kawasan Danau Toba oleh YPDT.

Kegiatan Pelatihan tersebut berlangsung 2 hari. Pada hari pertama, selain peserta, YPDT mengundang juga para Raja Turpuk dan pemerintahan setempat untuk membicarakan keberlanjutan Bank Sampah di Kecamatan Silahisabungan.

Ada beberapa agenda pembahasan seperti lokasi tanah, rencana pembangunan gudang Bank Sampah, instalasi reaktor biogas, instalasi kompos, dan kepengurusan Bank Sampah. Semua hal tersebut untuk kepentingan seluruh masyarakat di Kecamatan Silahisabungan.

"Ada beberapa manfaat dari pelatihan ini: 1. Menemukan dan menyalurkan bakat dan kreativitas masyarakat 2. Mengangkat dan mengembangkan potensi lingkungan, sekalipun kadangkala kita menganggap sebagai permasalahan 3. Solusi mengatasi permasalahan sampah, sehingga lingkungan bersih dan sehat serta bermanfaat mendukung pariwisata 4. Sebagai suvenir/oleh-oleh has setempat dan 5. Menambah penghasilan masyarakat,” tambah Jhohannes Marbun selaku Sekretaris Eksekutif YPDT yang sudah berada di Desa Silalahi untuk mempersiapkan segala sesuatunya bersama Pengurus Bank Sampah Silahisabungan dan Pengurus Perwakilan YPDT setempat.

Program Bank Sampah Silahisabungan ini merupakan kerjasama antara YPDT dan Kedutaan Besar Selandia Baru. Pengurus YPDT memiliki “Program Pengembangan Kapasitas Masyarakat Silalahi dalam Pengelolaan dan Daur Ulang Sampah” di wilayah Desa Silalahi dan Paropo, Kecamatan Silahisabungan.

Program ini sudah diawali dengan melakukan kegiatan Seminar dan Workshop “Pengelolaan Bank Sampah dalam Mendukung Pariwisata Danau Toba” pada 27-28 Juli 2018 lalu.

(cr1/tribunmedan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved