Keadilan Energi dari Listrik Pohon Kedondong

Selama bertahun-tahun puluhan siswa Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur hanya mengandalkan genset.

Keadilan Energi dari Listrik Pohon Kedondong
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
NAUFAL Razig menyalakan lampu dengan menggunakan listrik dari pohon kedondong pagar di kediamannya di Desa Kampung Baru, Kota Langsa, Aceh akhir Juli lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, LANGSA - Selama bertahun-tahun puluhan siswa  Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur hanya mengandalkan genset dan lampu teplok untuk menerangi asrama dan ruang belajar mereka, khususnya di malam hari. Listrik PLN sama sekali belum masuk ke desa. Hingga akhirnya, di pertengahan tahun 2016, hadirlah listrik dari pohon kedondong yang ditemukan anak laki-laki berusia 14 tahun, Naufal Raziq. Meski kehadiran listrik pohon kedondong sempat mengundang kontroversi, tapi setidaknya mereka sudah pernah merasakan keadilan energi bersama dengan daerah-daerah lain yang sudah terang benderang. Seperti apa kisahnya?

RAUT sumringah menyertai wajah Naufal saat namanya dipanggil untuk naik ke pentas perayaan puncak Acara Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (23/7/2018). Sesekali senyumnya mengembang saat menerima penghargaan, meningkahi tepuk tangan ribuan anak dan undangan yang hadir di lokasi terbuka tersebut.

Hari itu Naufal sedang begembira. Dirinya mendapat penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai anak yang GENIUS (Gesit – Empati – BeraNI – Unggul – dan Sehat). Listrik alternatif dari pohon kedondong pagar (spondias dulcis forst) yang ia temukan tahun 2015 atau saat dirinya masih berusia 14 tahun dinilai mewakili karya anak-anak GENIUS.

Naufal tak sendirian bergembira saat itu. Ada empat anak lainnya dari seluruh Indonesia yang turut menerima penghargaan yakni Kiyoshi Natanael (6 tahun/Kalimantan Timur) yang menguasai 180-an rumus kimia dan kemampuan membaca peta buta, Dedy Mizwar (8 tahun/Jawa Timur) yang jago puisi dan drama, Elmi (16 tahun/Nusa Tenggara Barat) yang ahli memotivasi anak-anak untuk tidak putus sekolah, dan Infar (12 tahun/Jawa Timur) yang merupakan atlet tenis lapangan berprestasi.

“Naufal senang sekali karena karya Naufal diperhatikan oleh pemerintah. Meski di atas pentas tak lama, hanya lima menit, tapi Naufal masih sempat bercerita tentang listrik pohon kedondong di depan Ibu Menteri dan undangan lain,” kata Naufal kepada Tribun-Medan.com, di kediamannya di Desa Kampung Baru, Kota Langsa, Aceh akhir Juli lalu.

Bagi Naufal, penghargaan ini menjadi penyemangat kembali dirinya untuk terus menyempurnakan listrik pohon kedondong temuannya, terutama pasca kontroversi yang sempat hadir di publik. Naufal menceritakan, dirinya memang sempat patah semangat saat listrik pohon kedondong temuannya menghadirkan kontroversi di tengah masyarakat. Penerapan listrik pohon kedondong di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur lah jadi awal cerita. Pada pertengahan tahun 2016, setelah listrik pohon kedondong temuannya meraih prestasi di lomba Teknologi Tepat Guna yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) se-kota Langsa dan se-provinsi Aceh, Pertamina EP Aset I Field Rantau pun tertarik dan menggandengnya untuk terlibat dalam program corporate social responsibility (CSR) Pertamina di Desa Tampur Paloh. Saat menemukan listrik kedondong tersebut, Naufal masih duduk di kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSn) 1 kota Langsa.

Di desa yang berjarak 512 kilometer dari kota Banda Aceh dan dihuni seratusan kepala keluarga ini, CSR Pertamina bekerja sama dengan Yayasan Anak Merdeka mendirikan Madrasah Aliyah (MA) Merdeka dan membangun tiga ruang kelas dan satu ruang perpustakaan pada pertengahan tahun 2016. Ruang kelas dan perpustakaan inipun turut digunakan oleh SMP Merdeka yang telah lebih dulu berdiri tahun 2007 di bawah pengelolaan Yayasan Anak Merdeka. Di yayasan ini ada 50 siswa SMP dan 46 siswa MA. Sama sekali tak ada listrik di desa ini. Untuk penerangan, warga mengandalkan genset dan lampu teplok.

Bersamaan dengan pembangunan ruang kelas dan perpustakaan, Pertamina pun meminta Naufal untuk memasang listrik pohon kedondong di lokasi sekolah. Tujuannya, agar penerangan di sekolah terpenuhi. Sekitar 50-an pohon kedondong pun dibawa dari kota Langsa ke Desa Tampur Paluh. Supriaman (46) ayah Naufal yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi reparasi peralatan elektronik dan memang sejak awal terlibat membimbing Naufal, ikut ke Desa Tampur Paluh.

SISWA sekolah Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur sedang belajar di kelas. Di sekolah inilah listrik pohon kedondong pagar pernah diterapka (diujicoba).
SISWA sekolah Yayasan Anak Merdeka di Desa Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur sedang belajar di kelas. Di sekolah inilah listrik pohon kedondong pagar pernah diterapka (diujicoba). (TRIBUNNEWS/SERAMBI INDONESIA)

Proses instalasi listrik pohon kedondong di sekolah Yayasan Anak Merdeka berjalan lancar. Listrik pohon kedondong hidup dan menerangi seluruh ruangan yang ada di sekolah Yayasan Anak Merdeka. Ada lima ruangan kelas, satu ruang perpustakaan dua tingkat, dan dua ruang asrama yang mampu diterangi listrik pohon kedondong. Namun, karena penemuan masih dalam tahap awal, listrik pohon kedondong pun belum bisa menyala dengan maksimal.

“Listriknya beberapa jam bisa hidup. Tapi kemudian redup kembali. Tetapi untuk penerangan ruangan sudah mencukupi,” kata Andrew, PT Pertamina EP Asset 1 Government & PR Astman.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved