Kasus Tewas Tenggelam di Danau Toba, Gumbok Simbolon Bercucuran Air Mata Ingat Kata-kata Putrinya

Kepergian putrinya pergi ke Pintu Batu, tempat kerja kelompok bagi ayahnya penyesalan yang mendalam.

Kasus Tewas Tenggelam di Danau Toba, Gumbok Simbolon Bercucuran Air Mata Ingat Kata-kata Putrinya
Tribun Medan
Ibu dan ayah korban, meratapi jasad putrinya Sri Tetty Boru Simbolon Kediamannya di Desa Huta Namora, Samosir, Rabu (5/9/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR-Kerabat dan keluarga Sri Tetty Simbolon,  siswi kelas III SMP I Atap Huta Namora,  Samosir berganti-ganti melayat ke Kediaman di Desa Huta Namora, Samosir

Dari rumah panggung tersebut terdengar kidung puji-pujian ajaran Katolik mengiringi kepergian putri kedua pasangan Gumbok Simbolon dan boru Malau, pada Rabu (5/9/2018) malam.

Sri Tetti gadis berusia 14 tahun tersebut tenggelam saat kerja kelompok bersama rekan sekelasnya.

Kejadian naas itu terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di perairan Danau Toba Pintu Batu, Desa Rianiate, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

Warga sekampung, kerabat keluarga dari sekitar desa lain yang datang,  memberi penguatan kepada Gumbok dan istrinya boru Malau.

Boru Malau, hanya bisa meratapi jasad putrinya. Jasad Sri Yetti, diletak di tengah rumah panggung tersebut, dibalut ulos Ragi Hotang.

Kepada Tribun, Boru Malau, ibu korban mengatakan malam sebelum kejadian Sri Yetti pamit untuk kerja kelompok atas perintah gurunya. Putri kedua mereka itu meminta dibekali bontot.

"Nabodari, didokkon naing karejo kelompok. Mangido bontot, denggan do laho sian jabu. Tadi malam dia masih permisi, dan minta dibekali bontot," ujar ibunya.

Danau Toba
Danau Toba (Tribun Medan/Arjuna Bakkara)

Kata ibunya, sebelum berangkat sekolah seperti biasa Tetty mengerjakan tugas rumah, yakni mengangkat air dari sumber air ke rumahnya.

Menggunakan kereta sorong, dua jerigen air ia tinggalkan di rumah sebelum ke sekolah.

Firasat lain yang dirasakan ibunya, siangnya dia memang gelisah.  Apalagi, menurutya di Perairan Pintu Batu airnya dalam. Pada malamnya,  Boru Malau bahkan mengingatkan putrinya agar berhati-hati.

"Nabodari nga hupaboa, unang mekkel-ekkel molo tu si nikku, ala seram do i si. Olo oma, inna. Alai lupa ahu pasingothon unang marlangei, hape marlange ma huroa. (Tadi malam aku memberitahu dia, agar di sana berhati-hati. Tetapi, aku terlupa mengingatkan agar dia tidak berenang),"sebutnya.

Pada malamnya, Tetty masih membantu ibunya memisahkan kemiri dari cangkangnya. Namun, kebersamaan yang mereka jalani tidak akan lagi terjadi.

"Nungga asing be hape dalan mu ate borukku. (Ternyata, jalanmu saat ini sudah berbeda dengan kami ya Nak)," ratap ibunya.

Ayahnya Gumbok Simbolon, yang sebelumnya hanya terdiam meratapi putri keduanya menimpali pembicaraan istrinya.

Satu hari sebelum kejadian, Sambil membantunya di perladangan, katanya Tetty bertanya kepada ayahnya, soal Humus yang dimaksud di pelajaran sekolah.

Humus yang sepengetahuan ayahnya, dibungkus Yetty di dalam plastik lalu dibawa pulang ke rumah. Kata Tetty, mereka mendapat tugas mencari Humus untuk mengetahui pH tanah.

"I sukkun dope ahu nattoari, na dia do humus bapa inna. Hupatudu, ipamasuk ma tu bagas palastik. (Semalam dia masih bertanya soal humus. Dan saya tunjukkan, lalu dia bawa pulang," sebut Gumbok.

Kepergian putrinya pergi ke Pintu Batu, tempat kerja kelompok bagi ayahnya penyesalan yang mendalam.

Sebelumnya dia sudah berberat hati, bahkan tidak memberi ongkos agar Tetti tidak pergi.

Namun, Boru Malau akhirnya memberi ongkos Rp. 2000 karena tujuannya memang mau belajar kelompok.

Siswi SMP
Siswi SMP (Tribun Medan/Arjuna Bakkara)

Gumbok mengaku kecewa terhadap pihak sekolah. Menurutnya, kejadian itu agar dijadikan evaluasi terhadap pendidikan di sana.

"Denggan do hupaborhat sian jabu borukki. Molo i jabu, tanggung jawab hu. Ale molo i sikkola, tanggung jawab ni ise do huroha. (Di Rumah, putri saya tentu tanggung jawab saya. Dan dia juga baik-baik kami berangkatkan dari rumah. Tapi, kalau di sekolah tanggung jawab siapa seharusnya, "ujar Gumbok kecewa.

Malam Hari di rumah duka, Kepala Dinas Pendidikan Samosir Rikardo Hutajulu dan Kepala Sekolah SMP I Atap, Manihuruk hadir melayat. Mereka memberi penguatan kepada keuarga korban.

"Amang dan inang (Bapak dan ibu), kami juga merasa kehilangan atas kepergian boru (putri) kita ini. Kita kehilangan generasi didik yang kita banggakan. Tentu, duka ini juga duka kota bersama," sebut Hutajulu kepada keluaraga korban.

Saat Tribun menanyakan soal kejadian yang menimpa 3 putri Samosir itu, Rikardo belum dapat menjawab.

Rikardo tampak buru-buru menuju rumah duka dua siswa lainnya. Baik pendampingan oleh guru bersangkutan selama kerja kelompok, belum dijawabnya.

"Besok sajalah ya, kami juga masih mau ke rumah siswa kita yang dua lagi," jawabnya lalu pergi menuju rumah duka dua siswa lainnya.

Manihuruk, Kepala Sekolah SMP I Atap Huta Namora disinggung soal kegiatan siswa itu, disebutnya terjadi usai kerja kelompok. Soal pendampingan guru saat kerja kelompok, dia belum bisa memberi jawaban.

Mereka pun langsung menuju dua rumah duka lainnya bersama rombongan Kadis Pendidikan.

Sementara itu, kronologis yang dihimpun dari Pihak Polres Samosir saat kejadian para korban dan teman temannya yang seluruhnya berjumlah 6 orang mengerjakan tugas kelompok dari sekolahnya.

Kemudian, mereka pergi berenang  ke danau toba tepatnya pantai Sidae dae dusun tiga pintu batu desa Rianiate.

Diantara ke 6 orang tersebut, Jesica Malau 1 orang diantaranya tidak ikut berenang. Sedangkan 5 orang lainnya yang berenang.

Yakni, Esra Lumban Batu, Devi Lumban Batu, Sriyetty Simbolom, Nanda Putri Simbolon, dan Siska Sinurat.

Pada saat mereka berenang, awalnya masih dipinggiran danau. Namun, lama-kelamaan mereka berenang semakin ketengah danau.

Korban, Devi Marbun dan Sri Tetty Simbolon berteriak meminta pertolongan karena hampir tenggelam dan tidak pandai berenang.

Mendengar teriakan itu, Leo Simbolon langsung berenang ke arah mereka dan berusaha untuk menolong. Namun yang berhasil diselamatkan hanya Siska Sinurat.

Sedangkan ke 3 korban tidak berhasil diselamatkannya dimana pada akhirnya ke 3 korban berhasil ditemukan setelah dilakukan upaya pencarian menggunakan  jejaring kawat berduri oleh warga.

Sedangkan Nanda Putri Simbolon berhasil menyelamatkan diri setelah memegang batu besar yang ada dipinggiran danau. (jun/tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved