Embung Tak Pernah Berfungsi, Petani Kecewa Bertahun-tahun

Embung penampungan air berukuran panjang 20 meter dan lebar 20 meter, serta kedalaman 4 meter di Parhudonan

Embung Tak Pernah Berfungsi, Petani Kecewa Bertahun-tahun
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Embung penampung air di Parhudonan, Kacamatan Simanindo, Samosir belum berfungsi sejak dibangun pada 2016 lalu hingga Selasa (25/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Embung penampungan air berukuran panjang 20 meter dan lebar 20 meter, serta kedalaman 4 meter di Parhudonan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir tidak berfungsi seperti pantauan Tribun, Selasa (25/9/2018).

Pembangunan embung berbahan semen yang diharapkan petani bermanfaat baik dalam mengolah pertaniannya itu, justru tidak membawa mereka berubah ke arah yang lebih baik.

Oppu Harry Sijabat, petani di Desa Parhudonan mengatakan pembangunan embung dilakukan sekitar tahun 2016 lalu. Tiga kali hari tani yang jatuh setiap 24 September tiap tahunnya sudah terlewatkan, namun sejak embung selesai didirikan 2016 lalu belum ada manfaat yang dirasakan warga hingga September 2018.

"Sejak selesai dibangun, embung ini tidak pernah terpakai,"ujarnya sambil menunjuk embung yang lantainya sudah ditumbuhi rumput.

Amatan Tribun, dinding embung yang salah satu arahnya ke sebelah Danau Toba itu retak, serta bocor. Terlihat, ada tanda pelapisan pada bagian yang rusak. Embung yang bocor itu hanya berisi tidak lebih 1/4 volume air dari ukuran embung dan sebagian dasarnya sudah ditumbuhi rumput.

Oppu Harry mengaku kecewa, alasannya embung yang diharapkan memudahkan mereka bercocok tanam dan kebutuhan lain tidak mendukung aktivitas. Padahal, di sekitar embung hingga ke arah embung tersebut merupakan lahan pertanian.

Oppu Harry berharap, persoalan embung itu dapat diselesaikan. Sehingga bisa menjawab kesulitan pertanian di daerah itu.

Oppu Harry dan warga lainnya sudah dengan senang hati menghibahkan tanah untuk pembangunan embung tersebut. Pada kenyataanya, terlebih pada saat musim kemarau "logo ni ari" warga Parhudonan terpaksa turun mengambil air ke Pantai Tomok.

"Kalau logo ari (kemarau) kami masih harus mencuci di Danau Toba,"ujar warga lain, boru Purba.

Disebutnya, bila embung berfungsi tentu banyak manfaat baik yang mereka dapat. Selain mengairi pertanian, termasuk memandikan ternak kandang yang kebutuhannya memang harus dibersihkan setiap hari.

Saat ini, mau tak mau air bersih untuk kebutuhan minum masih mereka bagi peruntukannya. Sumber air mereka saat ini sebagian dari Sumur yang kadang hampir mengering saat kemarau tiba.

Daerah yang dulunya persawahan itu saat ini tidak lagi ditanami benih padi karena kerap kekeringan. Mereka terakhir menanam padi oada 2014

"Dulu, terakhir kali ada sawah pada tahun 2014 ada. Terakhir kami kesulitan karena kekeringan, dan padi pun tak lagi kami tanam karena tidak berani. Nanti airnya kurang,"tambahnya.

Kepala Desa setempat, Hotman Sidabutar membenarkan pembangunan itu dilakukan pada 2016 lalu. Sepengetahuannya, pengerjaanya dilaksanakan oleh Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarukim) serta sumber dananya bukan dari Dana Desa. (Jun)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved