Ngopi Sore

Setelah Kasus Ratna Sarumpaet, Berbohong Dimaklumi Kena Tipu Dipuji

Tindakan berbohong dan fakta kebohongan Ratna Sarumpaet berupaya disamarkan dengan memanfaatkan emosi orang-orang yang disasar

Setelah Kasus Ratna Sarumpaet, Berbohong Dimaklumi Kena Tipu Dipuji
WARTA KOTA/ALEX SUBAN
DITAHAN - Ratna Sarumpaet saat digiring ke Polda Metro Jaya, Jakarta. Kamis (4/10/2018) Ratna Sarumpaet yang sebelumnya diamankan polisi Bandara Soekarno Hatta, dicegah keluar negeri oleh imigrasi, diduga terkait UU ITE. 

Satu kecenderungan menarik mengemuka setelah ramai-ramai kasus Ratna Sarumpaet. Bukan, ini bukan tentang perkiraan bakal ada sejumlah politisi yang ikut terseret-seret. Entah hanya sebagai saksi atau jadi tersangka. Bukan juga menyangkut penangkapannya di Bandara Soekarno Hatta saat hendak terbang ke Chile. Melainkan soal keterjungkirbalikan logika.

Jika Anda memperhatikan media sosial, terutama Facebook dan Twitter, pada jam-jam pascapengakuan Ratna, bahwa dia telah berbohong dan meminta maaf lantaran membuat banyak orang dilanda penasaran dan bahkan sampai bersyakwasangka, dua kata, yakni 'bohong' dan 'tipu' mengalami pergeseran nilai.

Kata 'bohong' dan kata 'tipu', dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sama-sama memiliki makna buruk. Bohong bermakna "tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta". Sedangkan tipu adalah "perbuatan atau perkataan yang tidak jujur (bohong, palsu, dan sebagainya) dengan maksud untuk menyesatkan."

Jika menjadi kata turunan, nilai maknanya tidak bergeser jauh-jauh amat. 'Berbohong'; 'bohong- bohongan'; 'bohongan'; 'kebohongan'; 'membohong'; 'membohongi'; 'membohongkan', 'pembohong'; 'pembohongan', tetap saja bernilai buruk.

Pula demikian 'penipu'; 'penipuan'; 'tipuan', 'bertipuan'; 'menipu'; dan 'tertipu'. Makna kata turunan 'tertipu' dalam KBBI adalah "sudah ditipu atau kena tipu".

Kita tengok 'bohong', atau (sinonimnya) 'dusta', dan segenap kata turunannya lebih dulu. Ralph Keyes dalam The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life, mengemukakan kalimat yang menyentak: kita sekarang hidup di lingkungan-lingkungan yang tak punya cukup penangkal bagi kecenderungan untuk mengelabui orang lain.

Satu situasi yang jelas mengkhawatirkan. Tahun 2016, oxford dictionary mengupas dan menelaah post-truth era, atau era pascakebenaran, lalu memberinya defenisi, yaitu adjektif di mana fakta tidak lagi memiliki pengaruh besar dibanding emosi.

Dengan kata lain, hal-hal faktual dan rasional bisa dikalahkan, bisa tidak berarti apa-apa di hadapan hal-hal nonfaktual dan emosional. Dengan kata yang (barangkali) lebih mudah (dicerna), kebohongan lebih bisa mendapatkan kepercayaan --dan dianggap sebagai kebenaran-- ketimbang fakta dan realitas, asalkan mampu mengaduk emosi dan kepercayaan personal orang- orang yang disasar.

Contoh terbaik dari kecenderungan ini adalah Donald Trump. Dalam kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat, Trump melempar banyak sekali isu yang oleh media-media massa terkemuka di sana, baik cetak maupun elektronik, kemudian dibuktikan sebagai kebohongan. Situs politifact.com bahkan menyebut 70 persen dari seluruh pernyataan Trump merupakan kebohongan.

Namun Trump tetap mengalahkan Hillary. Kenapa? Karena Trump secara jitu dapat memanfaatkan teknologi, kecemasan, serta hasrat terkini rakyat Amerika.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved