Ngopi Sore

Perihal Khabib, Jilbab Judo, dan Gorengan-gorengan yang Renyah Itu

Dari UFC ke arena judo, kemenangan dan kegagalan bertanding sama-sama dikaitpautkan dengan agama.

Perihal Khabib, Jilbab Judo, dan Gorengan-gorengan yang Renyah Itu
AFP PHOTO-ANTARA
FOTO kolase Khabib Nurmagomedov (kiri) dan Miftahul Jannah 

SELANG beberapa jam setelah pertandingan Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor yang berkesudahan dengan keributan di dalam dan luar octagon, lini masa media sosial di Indonesia, terutama Facebook dan Twitter, dipenuhi oleh opini-opini yang mengingatkan saya pada laga Real Madrid kontra Liverpool di final Liga Champions 2018.

Real Madrid memenangkan Liga Champions untuk kali ke 13, tetapi di Indonesia, lini masa didominasi percakapan tentang perlakuan Sergio Ramos terhadap Mohamad Salah. Pada satu momentum perebutan bola, Ramos menarik lengan Salah, lalu membawanya jatuh. Dalam posisi terjepit, lengan salah tertindih tubuh Ramos.

Wasit tidak menghukum Ramos dan Real Madrid. Dengan kata lain, tindakan yang dilakukannya belum termasuk pelanggaran ringan. Namun tarikan dan tindihan telah mengakibatkan lengan Salah cedera. Dia tidak dapat melanjutkan pertandingan.

Siapapun yang tak sekali dua kali menonton sepakbola, pasti paham betul bahwa peristiwa ini tidak luar biasa. Suporter-suporter garis keras Liverpool berpandangan senada. Mereka memaki Ramos, memang, tetapi berhenti pada ruang lingkup sepakbola. Mereka paham, dengan reputasinya yang sudah kesohor sebagai tukang jagal, Ramos pasti melakukan tindakan serupa pada siapapun lawan yang potensial mengancam gawang Madrid.

Namun di luar orang-orang yang melihat peristiwa ini dari konteks sepakbola, dan olahraga secara umum, reaksi melesat-lesat dengan liar. Tindakan Ramos dikaitpautkan dengan agama. Salah yang berkebangsaan Mesir merupakan seorang muslim.

Khabib juga muslim. Dia lahir di Tsumadinsky, satu distrik di Dagestan, Rusia. Ayahnya bernama Abdulmanap, seorang pensiunan tentara yang menguasai judo dan sambo, beladiri ciptaan militer Uni Soviet.

Jika Salah merupakan bagian dari pihak yang kalah, Khabib sebaliknya. Di octagon, pada pertarungan kelas berat ringan UFC, dia menunjukkan dominasi penuh atas McGregor, membuatnya terpaksa memberikan sinyal menyerah kepada wasit. Namun, reaksi setelahnya, tentu saja dari orang-orang yang memang bukan pemerhati suntuk UFC, nyaris persis. Kemenangan Khabib digencarkan sebagai kemenangan agama. McGregor Sang Penista telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, begitu kira-kira.

Belum reda keriuhan Khabib Nurmagomedov, mencuat pula Miftahul Jannah, seorang pejudo perempuan yang berlaga di ajang Asian Para Games 2018. Jannah judoka tuna netra. Dia didiskualifikasi lantaran menolak melepas jilbab yang dikenakannya ketika akan bertanding.

Tidak ada persoalan besar dalam keputusan ini. Ada aturan yang dilanggar, yakni pada artikel empat poin empat peraturan wasit federasi judo internasional (IJF). Disebut, "rambut panjang harus diikat sehingga tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada kontestan lainnya. Rambut harus diikat dengan pita rambut yang terbuat dari karet atau bahan sejenis dan tidak ada komponen kaku atau logam. Kepala tidak boleh ditutupi kecuali untuk pembalutan yang bersifat medis, yang harus mematuhi aturan kerapian kepala."

Konsekuensi pelanggaran ini terang, sangat jelas, yakni diskualifikasi, dan lantaran itu seyogianya tak perlu ada pembahasan yang berpanjang-panjang. Satu-satunya hal yang barangkali bisa jadi pertanyaan, apakah pelatih Miftahul Jannah tidak mengetahui dan tidak memahami aturan?

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved