Nur Syamsiyah, Anak Penjual Cilok, Jadi Lulusan Terbaik FISIP Unair dengan IPK Nyaris Sempurna

Masuk kuliah sejak 2014, sejumlah pekerjaan sampingan pernah dijalankan seperti menjadi guru ngaji, hingga menjadi tenaga peneliti.

Nur Syamsiyah, Anak Penjual Cilok, Jadi Lulusan Terbaik FISIP Unair dengan IPK Nyaris Sempurna
KOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL
Nur Syamsiyah berpose di depan pintu gerbang FISIP Unair, Kamis (11/10/2018). 

TRIBUN-MEDAN.com, SURABAYA - Nur Syamsiyah masih sibuk menerima ucapan selamat dari teman-temannya di kampus, Kamis (11/10/2018).

Baru 2 hari, perempuan berkerudung itu diwisuda menjadi sarjana sosial Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Bahkan perempuan 21 tahun itu dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair Surabaya dengan IPK mendekati sempurna, yakni 3,90.

Prestasi akademik yang diraihnya menjadi kebanggaan dirinya sekaligus keluarga. Bagaimana tidak, Syam, panggilan akrabnya, hanya putri seorang penjual cilok. Sementara ibunya seorang penjual nasi kotak.

"Saya justru bangga, orangtua saya penjual cilok, saya lulusan terbaik. Semoga menjadi inspirasi bagi semuanya," kata perempuan kelahiran Surabaya, 5 Maret 1997 itu di kampus Unair Surabaya, Kamis (11/10/2018).

Lahir di tengah keluarga yang sederhana, Syam menjalani masa perkuliahan dengan tekun. Tidak jarang, dia harus mencari peluang pekerjaan untuk menambah penghasilan keluarga.

Masuk kuliah sejak 2014, sejumlah pekerjaan sampingan pernah dijalankan seperti menjadi guru ngaji, hingga menjadi tenaga peneliti.

"Saya juga pernah menjadi kasir di tempat rental game selama sebulan," tambahnya.

Lulus jenjang S1, Syam berencana melanjutkan kuliah di jenjang pascasarjana. Unair menawari Syam untuk berkuliah kembali di Unair tanpa tes dan tanpa biaya.

"Ini kesempatan emas bagi saya. Dosen-dosen saya juga menyarankan agar diambil. Tapi, sambil jalan, saya coba daftar S2 di luar negeri. Saya ingin di Lund University Swedia," ujarnya.

Lulus pascasarjana nanti, Syam berangan-angan akan tetap berkarir di dunia akademik dengan menjadi dosen.

"Karena dengan menjadi pendidik, saya bisa memberikan kontribusi gagasan dan pemikiran untuk membangun bangsa," pungkasnya. (Kompas.com/Achmad Faizal)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved