Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis

Berbekal pengalaman bekerja selama belasan tahun di industri perikanan, Fitri sukses mengembangkan Raja Patin.

Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
FITRIADI, pelaku usaha UKM Raja Patin berfoto bersama produk Kerupuk Kulit Ikan Patin di rumahnya sekaligus dapur produksinya di Jl. Masjid, Desa Sugiharjo, kecamatan Batang Kuis, Deliserdang. 

TRIBUN-MEDAN.com, PAKAM - Status pengangguran akibat pengurangan karyawan tak membuat Fitriadi (40) patah semangat. Berbekal pengalaman bekerja selama belasan tahun di industri perikanan dan latar belakang pendidikan sarjana perikanan, Fitri sukses mengembangkan Raja Patin dengan produknya Kerupuk Kulit Ikan Patin. Ikut bergabung di produk JNE, Pesona membuat produknya semakin dikenal masyarakat luas. Tak sampai dua tahun, Kerupuk Kulit Ikan Patin sukses menjangkau pasar Indonesia dan bahkan Asia Tenggara dari kampung kecilnya di kecamatan Batang Kuis. Bagaimana kisahnya?

HARI Selasa (9/10/2018) siang, rumah milik Fitriadi di Jl. Masjid, Desa Sugiharjo, kecamatan Batang Kuis, Deliserdang, Sumatera Utara nampak ramai. Belasan orang terlihat silih berganti keluar dan masuk rumah berukuran 6 x 10 meter tersebut. Mereka adalah warga sekitar Jl. Masjid yang merupakan pembeli produk Raja Patin yakni Kerupuk Kulit Ikan Patin. Fitri yang hari itu ada di rumah, turun langsung melayani para pembeli produk UKM miliknya. Setelah berbicara sebentar dengan pembeli, Fitri melangkah ke dapur produksi di bagian belakang rumah, mengambil bungkusan kerupuk berbagai ukuran dan menyerahkannya ke pembeli yang menunggu di halaman samping rumah.

“Saya pelanggan setia kerupuk ini. Setiap dua hari sekali, saya wajib beli kerupuk ikan  patin,” kata Maria (42) kepada Tribun-Medan.com, Selasa (9/10/2018).

Maria yang rumahnya hanya berjarak lima rumah dari rumah Fitriadi ini mengatakan, setiap dua hari dirinya membeli dua bungkus kerupuk ikan patin masing-masing berukuran 500 gram. Harga totalnya Rp 50 ribu. “Biasanya untuk “temannya” nasi. Saya susah makan kalau enggak ada kerupuk ini,” kata Maria, tertawa.

Maria mengaku, meskipun hanya berjarak lima rumah, hal tersebut tak menjamin dirinya akan selalu mendapatkan Kerupuk Kulit Ikan Patin dengan mudah. Pada beberapa kesempatan, dirinya justru tak kebagian, bahkan untuk ukuran yang paling kecil sekalipun yakni 80 gram.

“Ini (Kerupuk Kulit Ikan Patin) makanan laris. Cepat habis. Kami saja yang warga sekitar sering kehabisan,” katanya.

Apa yang disampaikan Maria adalah kenyataan. Kerupuk Kulit Ikan Patin kini telah menjadi makan ringan yang laris manis. Bahkan, Fitri pun tak mampu memenuhi permintaan konsumen-konsumennya.

“Saya hanya mampu memenuhi permintaan sekitar 50 persen saja. Terus terang, permintaan cukup besar. Tapi usaha saya kan masih UKM, usaha rumahan. Saya terbatas dalam beberapa hal, seperti bahan baku dan peralatan yang masih tradisional. Jadi hanya setengah saja permintaan yang sanggup saya penuhi,” kata Fitri.

Kisah 50 Kg Kulit Ikan Patin yang Nyaris Dibuang

ALUMNUS Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta (UBH) Padang ini bercerita, awal mula dirinya terjun ke usaha Raja Patin adalah tanpa disengaja. Keputusannya menekuni produk makanan ringan (cemilan) ini dimulai dari kisah 50 kilogram kulit ikan patin yang nyaris ia buang.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved