Nuansa Tradisional Dibalut Konsep Kekinian

Namun, jika ingin mencari sesuatu yang berbeda, maka destinasi digital menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan.

Nuansa Tradisional Dibalut Konsep Kekinian
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
TIGA anak sedang bermain pletokan di Pasar Kesain, kecamatan Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Minggu (4/11/2018). Pasar Kesain adalah satu dari tiga destinasi digital di Sumatera Utara. 

* Tiga Destinasi Digital Dibuka di Sumatera Utara

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Wahana permainan modern, bioskop, ataupun pusat perbelanjaan telah menjadi destinasi banyak orang untuk berwisata atau eksis di media sosial. Namun, jika ingin mencari sesuatu yang berbeda, seperti menikmati kuliner tradisional, memainkan permainan tradisional, atau menonton pentas hiburan tradisional, maka destinasi digital menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan.

***

KAISAR Ginting (12), Rafael Karo-karo (11), dan Fajar Ginting (13) tak berhenti tertawa saat ketiganya memainkan permainan terompah di area Pasar Kesain, kecamatan Berastagi, kabupaten Karo, Minggu (2/11/2018). Tawa ketiganya semakin pecah ketika terompah mereka tak bisa bergerak. Sesekali tubuh mereka membungkuk menahan tawa saat akan mencoba menggerakkan kembali terompah.

Kaisar dan Rafael yang berdiri di barisan depan dan terlihat berebutan memberikan komando “kanan, kiri” yang artinya gerakkan kaki kanan terlebih dahulu dan kemudian kaki kiri. Sedangkan Rafael memberi komando “kiri, kanan” yang artinya gerakkan kaki kiri terlebih dahulu dan kemudian kaki kanan. Tapi ketidaksamaan komando yang disampaikan Kaisar dan Rafael justru membuat terompah yang mereka naiki, tidak bergerak. Sesekali telapak kaki mereka harus terlepas dari karet pengait karena tak bisa bergerak.

Fajar yang posisinya di bagian belakang menepuk-nepuk pundak Kaisar. Dia minta kepada Kaisar danRafael, agar dirinya saja yang memberi komando. Kaisar dan Rafael mengiyakan. Fajar pun mulai memberikan komando. Dimulai dari kaki kiri, ketiganya pun kompak menggerakkan kaki kiri terlebih dahulu. Menyusul selanjutnya kaki kanan. Tak sampai 30 detik, ketiganya berhasil menggiring terompah sejauh 30 meter.

“Senang mainnya, seru. Apalagi aku juga belum pernah main terompah. Dari kami bertiga, cuma Fajar yang pernah main ini (terompah),” kata Kaisar kepada tribun-medan.com, Minggu (4/11/2018).

PERMAINAN tradisional terompah di Pasar Kesain.
PERMAINAN tradisional terompah di Pasar Kesain. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Kaisar mengatakan, dirinya pertama sekali tahu ada permainan terompah karena diberitahu oleh Fajar, teman sekolahnya di SMP Santa Maria, kecamatan Kabanjahe, Karo. Karena penasaran dengan permainan tersebut, diapun mengiyakan saat diajak Fajar. “Waktu perayaan tujuh belasan di sekolah dan dekat rumah, pernah mau coba. Tetapi ternyata tidak dilombakan sama panitia,” katanya.

Hal senada disampaikan Rafael. Pelajar kelas VI SD Santo Petrus, kecamatan Kabanjahe, Karo ini mengaku belum pernah memainkan permainan terompah. Meski belum pernah memainkan permainan modern legendaris seperti mobile legends atau point blank, Rafael mengaku tetap penasaran dengan terompah.

“Pernah lihatnya di televisi, waktu perayaan tujuh belasan. Sepertinya seru. Waktu diajak Bang Rafael sepulang dari gereja, saya ikut saja ke sini. Ternyata seru. Bisa kumpul sama teman dan tertawa bersama,” kata Rafael.

Tak hanya seru, Kaisar dan Rafael mengaku permainan tradisional tersebut memberikan mereka sebuah pelajaran penting: kerjasama. “Permainan ini membutuhkan kerjasama. Harus dengar apa kata ketua (yang memberi komando). Kalau asyik sendiri-sendiri, terompahnya enggak jalan-jalan,” kata Kaisar.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved