Aku Senang, Bisa Berdoa Kepada Tuhanku Sendiri

Sejak masuk sekolah hingga duduk di kelas II SD, siswa penghayat kepercayaan Parmalim terpaksa menjadi Kristen saat harus belajar agama.

Aku Senang, Bisa Berdoa Kepada Tuhanku Sendiri
TRIBUN MEDAN/HO
PERTEMUAN pihak ASB, Korwil Kecamatan Patumbak Dinas Pendidikan Deliserdang dan orangtua siswa Parmalim terkait pemberian mata pelajaran pendidikan kepercayaan kepada siswa Parmalim di SDN 104212, beberapa waktu lalu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Langkah Artha (9) begitu gembira siang itu saat keluar dari sebuah ruangan yang berada di ujung deretan kelas SD Negeri 101790 Marindal II Pasar 12 kecamatan Patumbak, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Jari-jari dari kedua tangannya memegang kedua tali tas ransel yang menempel di pundaknya. Sesekali senyumnya merekah meningkahi langkahnya yang begitu gembira.

“Aku senang karena sekarang sudah bisa belajar agama sesuai dengan keyakinanku sendiri,” kata Artha kepada tribun-medan.com yang menungguinya di selasar sekolah, pekan lalu.

Artha mengaku, sejak masuk sekolah hingga duduk di kelas II SD, dirinya yang merupakan penghayat kepercayaan Parmalim terpaksa menjadi Kristen saat harus belajar mata pelajaran agama. Hal ini harus dia lakukan karena sekolahnya belum mengakomodir pelajaran agama untuk para siswa penghayat kepercayaan. “Aku senang karena sudah bisa berdoa kepada Tuhanku sendiri sesuai dengan keayakinanku, Parmalim,” katanya.

Artha tak sendiri. Setidaknya ada 10 siswa Parmalim lainnya di tiga SD di kecamatan Patumbak, kabupaten Deli Serdang yang memiliki kisah yang sama dengan Artha.

Adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 27/2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan yang menjadi “jawaban” siswa-siswa Parmalim di kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Permendikbud ini mengatur lebih jauh tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada perserta didik penghayat kepercayaan.

Tak hanya bagi siswa Parmalim, Permendikbud ini juga menjadi “jawaban” atas berbagai upaya advokasi yang dilakukan beberapa lembaga yang fokus pada isu keberagaman dan kebebasan berkeyakinan di Sumatera Utara. Salah satunya, Aliansi Sumut Bersatu (ASB). Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkantor di Medan ini telah melakukan advokasi terhadap siswa-siswa penghayat kepercayaan di Sumatera Utara, satu tahun sebelum keluarnya Permendikbud Nomor 27/2016.

Lewat program bernama “Pemenuhan Hak Konstitusional Penganut Agama Leluhur  di kota Medan dan Kabupaten Deliserdang”, ASB aktif melakukan berbagai program advokasi untuk memastikan bahwa semua siswa, apapun agama dan kepercayaannya berhak mendapatkan pendidikan agama (kepercayaan) sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. Program ini menjadi bagian dari Program Peduli di Sumatera Utara yang dilaksanakan ASB bekerjasama dengan Yayasan Satunama Yogyakarta dan disupport oleh The Asia Foundation.

Direktur ASB, Ferry Wira Padang mengatakan, ASB telah melakukan  advokasi di dua daerah di Sumatera Utara yakni kota Medan dan kabupaten Deli Serdang dan menjangkau 40 sekolah setingkat SD dan SMP. Rinciannya, 28 sekolah di kota Medan dan 12 sekolah di kabupaten Deli Serdang.

“Sejak tahun 2015, kami mendorong Dinas Pendidikan setempat melakukan inovasi pembelajaran berupa penyediaan mata pelajaran pendidikan kepercayaan secara tersendiri kepada siswa-siswa penghayat di tingkat SD dan SMP. Kami tidak menyasar SMA, karena sudah di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” terang Ferry. 

PENINGKATAN kapasitas penyuluh penghayat kepercayaan di Hotel Grand Antares, Juli 2018.
PENINGKATAN kapasitas penyuluh penghayat kepercayaan di Hotel Grand Antares, Juli 2018. (TRIBUN MEDAN/HO)

Selain itu, ASB bersama Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan juga menerbitkan buku panduan berjudul “Kurikulum Pengintegrasian Nilai-nilai Luhur dalam Satuan Mata Pelajaran yang Relevan”. Buku ini berisi materi tentang bagaimana nilai-nilai luhur kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa disisipkan dalam berbagai mata pelajaran siswa di sekolah.

Halaman
123
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved