Aku Senang, Bisa Berdoa Kepada Tuhanku Sendiri

Selama bertahun-tahun, siswa penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara tidak mendapatkan haknya.

Aku Senang, Bisa Berdoa Kepada Tuhanku Sendiri
TRIBUN MEDAN/HO
PERTEMUAN pihak ASB, Korwil Kecamatan Patumbak Dinas Pendidikan Deliserdang dan orangtua siswa Parmalim terkait pemberian mata pelajaran pendidikan kepercayaan kepada siswa Parmalim di SDN 104212, beberapa waktu lalu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Selama bertahun-tahun, siswa penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara tidak mendapatkan haknya untuk belajar pendidikan kepercayaan di sekolah. Mereka terkesan “dipaksa” dan juga “terpaksa” harus belajar pelajaran agama yang sama sekali bukan agama yang dianutnya. Tetapi, satu tahun terakhir, situasi ini berubah seiring dengan lahirnya Permendikbud Nomor 27/2016 dan advokasi yang dilakukan lembaga yang fokus pada isu keberagaman dan kebebasan berkeyakinan.

***

LANGKAH Artha (9) begitu gembira siang itu saat keluar dari sebuah ruangan yang berada di ujung deretan kelas SD Negeri 101790 Marindal II Pasar 12 kecamatan Patumbak, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Jari-jari dari kedua tangannya memegang kedua tali tas ransel yang menempel di pundaknya. Sesekali senyumnya merekah meningkahi langkahnya yang begitu gembira.

“Aku senang karena sekarang sudah bisa belajar agama sesuai dengan agamaku sendiri,” kata Artha kepada tribun-medan.com, pekan lalu.

Artha mengaku, sejak masuk sekolah hingga duduk di kelas II SD, dirinya yang merupakan penghayat kepercayaan Parmalim terpaksa menjadi Kristen saat harus belajar mata pelajaran agama. Hal ini harus dia lakukan karena sekolahnya belum mengakomodir pelajaran agama untuk para siswa penghayat kepercayaan.

Tak hanya mengikuti mata pelajaran agama Kristen, dirinya juga ikut kebaktian (ibadah) secara agama Kristen dan mengisi buku “Bukti Mengikuti Kebaktian” sebagai tanda dirinya telah mengikuti kebaktian agama Kristen. Buku ini biasanya akan diparaf (ditandatangani) oleh petugas gereja setelah kebaktian, dan saat pelajaran agama di sekolah buku ini diserahkan kepada guru agama untuk diperiksa dan ditandatangani.

“Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Aku tidak perlu mengisi buku Bukti Mengikuti Kebaktian. Aku senang karena sudah bisa berdoa kepada Tuhanku sendiri sesuai dengan yang kupelajari dan kuyakini dalam agamaku, Parmalim,” katanya.

Artha tak sendiri. Setidaknya ada 10 siswa Parmalim lainnya di tiga SD di kecamatan Patumbak, kabupaten Deli Serdang yang memiliki kisah yang sama dengan Artha. Mereka tak perlu lagi “dipaksa” atau “terpaksa” untuk belajar agama selain Parmalim di sekolah.

Adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 27/2016 yang menjadi “jawaban” siswa-siswa Parmalim di kecamatan Patumbak, Deli Serdang untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Permendikbud tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan ini mengatur tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada perserta didik penghayat kepercayaan. Layanan pendidikan kepercayaan ini sebagai pengganti pelajaran agama untuk sekolah yang memiliki siswa penghayat kepercayaan.

Tak hanya bagi siswa Parmalim, Permendikbud ini juga menjadi “jawaban” atas berbagai upaya advokasi yang dilakukan beberapa lembaga yang fokus pada isu keberagaman dan kebebasan berkeyakinan di Sumatera Utara. Salah satunya adalah Aliansi Sumut Bersatu (ASB). Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkantor di Medan ini telah melakukan advokasi terhadap siswa-siswa penghayat kepercayaan di Sumatera Utara satu tahun sebelum keluarnya Permendikbud Nomor 27/2016.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved