Kede Wak Jenggot Jadi Referensi Tempat Nongkrongnya Komunitas Sosial di Kota Medan

Bertaburnya kedai kopi di Kota Medan bisa menjadikan kekayaan referensi bagi anda penikmat kopi

Kede Wak Jenggot Jadi Referensi Tempat Nongkrongnya Komunitas Sosial di Kota Medan
Tribun-Medan/ HO
Pengunjung Kede Wak Jenggot menikmati sajian kopi di kafe yang terletak di Jalan Perjuangan No 90 Tanjung Rejo, Kota Medan. Kafe ini punya konsep berbeda yaitu menyebarkan kebaikan kepada para pengunjungnya. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda Rizka S Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bertaburnya kedai kopi di Kota Medan bisa menjadikan kekayaan referensi bagi anda penikmat kopi. Anda bisa mencoba beragam konsep yang ditawarkan. Mulai dari tempat, makanan, hingga tawaran potongan harga dan paket yang memanjakan saku.

Sebuah kafe di daerah Jalan Perjuangan No 90 Tanjung Rejo, Kota Medan, bernama Kede Wak Jenggot punya konsep berbeda soal coffee shop. Kafe dua lantai ini bukan hanya sekedar kafe. Di sini Anda bisa nongkrong seraya berbuat kebaikan.

"Ide awalnya kita ingin mengakomodir anak-anak muda Kota Medan dengan latar belakang berbeda. Namun, di sini mereka disatukan dengan berbicara tentang projek-projek kebaikan serta amal-amal sosial," ungkap owner Kede Wak Jenggot Ridho Ahmad.

Kede Wak Jenggot diakui Ridho sebenarnya sudah lama berdiri dengan nama awal Warung Mbak Ning. Ia lantas melihat peluang yang cukup untuk membuka warung kopi.

"Dulu ini hanya satu lantai. Yang diatas hanya gudang. Nah, 2017 terfikirlah untuk membuat sebuah coffee shop," tutur Ridho.

Ridho menganggap pemilihan nama Kede Wak Jenggot agar terlihat akrab dan kekinian di telinga masyarakat Kota Medan.

Pengunjung Kede Wak Jenggot
Pengunjung Kede Wak Jenggot (Kede Wak Jenggot)

"Wak itu sebetulnya bukan uwak, tetapi panggilan keakraban. Bro, lah istilahnya. Mana ko wak. Gitu. Biar bisa lebih diterima saja. Kalau masalah jenggot, ya, kebetulan saya berjenggot," ujarnya lalu tertawa.

Mengenai konsep, kafe yang sering menjadi tempat kumpul dan sharing berbagai komunitas sosial ini terbilang cukup unik. Perabotannya terbuat dari bahan-bahan bekas. Lampu-lampu dihubungkan oleh pipa-pipa bekas. Desain pada dinding terdapat potongan-potongan kayu bekas yang telah disusun secara rapi.

Bangku dan meja pun terbuat dari kayu yang dibiarkan warna aslinya. Di dinding terdapat lukisan ikon-ikon Kota Medan. Yang membuat terhibur adalah adanya nama-nama jalan di Kota Medan yang didesain sedemikian rupa.

Halaman
123
Penulis: Nanda Rizka Nasution
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved