Dari Kamar Kos 3 x 4 Meter, Mahasiswa Medan, Kolaliandri Ginting Raup Pendapatan Rp 15 Juta Sebulan

Dari kamar kostnya yang berukuran 3 x 4 meter di Jalan Bintang Medan, Andri menjalankan usaha pembuatan alat cuci motor.

Dari Kamar Kos 3 x 4 Meter, Mahasiswa Medan, Kolaliandri Ginting Raup Pendapatan Rp 15 Juta Sebulan
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
KOLALIANDRI Ginting dan alat cuci motor rakitannya saat ditemui di kos-kosannya di Jalan Bintang, Medan, Selasa (20/11/2018). Alat cuci motor rakitan Kolaliandri ini telah memberi pendapatan sekitar Rp 15 juta per bulan. 

* Per 19 November 2018, Kolaliandri Bukukan Biaya Pengiriman Lewat JNE Rp 879.634.909

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN
“Aku makan tiap hari. Kadang hanya makan mi. Gimana nggak kurang gizi. Wesel datang tak pasti. Ibu kost tak mau ngerti. Nagih sewa bulan ini.”

Lirik di atas adalah penggalan lagu Nasib Anak Kos yang dibawakan P Project dan populer di era tahun 1990-an. Sebuah lagu yang menggambarkan sulitnya kehidupan mahasiswa yang menjadi anak kos di perantauan. Makan mi  instan, bau badan, telat bayar sewa kos, dan tak ada mahasiswi yang melirik.

Tapi kisah sulit menjadi anak kos ini tak berlaku bagi Kolaliandri Ginting. Mahasiswa semester V jurusan Administrasi Bisnis FISIP USU ini mampu membuktikan kalau mahasiswa yang jadi anak kos juga bisa sukses. Dari kamar kosnya yang berukuran 3 x 4 meter di Jalan Bintang Medan, Andri (demikian Kolaliandri biasa disapa) menjalankan usaha pembuatan alat cuci motor dan mampu meraih pendapatan bersih Rp 15 juta sebulan.

Kepada tribun-medan.com yang mewawancarainya di tempat kosnya, Selasa (20/11/2018), Andri mengatakan, usaha alat cuci motornya dimulai pada Januari 2017, atau saat dirinya masih duduk di semester 2. Inspirasi usaha alat cuci motornya bermula saat dirinya diminta ayahnya yang mempunyai usaha toko pupuk di kecamatan Mardinding, Kabupaten Karo merakit pompa gendong elektronik yang dibeli seorang konsumen.

Dikatakan Andri, sejak SMA dirinya sudah jadi anak kos karena bersekolah di Medan. Untuk keperluan toko pupuk di kampung, ayah sering meminta Andri membeli mesin pertanian di Medan seperti mesin babat, mesin panen sawit, dan pompa air untuk dijual di kampung.

“Nah saat itu, saya pulang kampung karena libur kuliah semester 1. Ada konsumen yang membeli pompa gendong elektronik. Biasanya kan kalau beli dari Medan, komponen pompanya terpisah. Jadi dirakit lagi di kampung. Waktu saya merakit pompa gendong pesanan konsumen dan mau mengetes pompanya hidup atau tidak, tiba-tiba pipa penyemprotnya mengeluarkan air ke arah motor yang parkir di dekat toko. Agak kaget juga waktu itu, ternyata bisa untuk cuci motor. Saat itu saya berpikir, kalau saya bisa membuat pompa pencuci motor yang ukurannya lebih kecil, tentu lebih efisien kan. Dari situ saya bertekad untuk membuat alat cuci motor yang kecil setelah sampai di Medan,” kata Andri.

Setelah libur semester usai, Andri kembali ke Medan. Sebelum sampai ke kos, Andri menyempatkan diri singgah ke toko mesin pertanian langganannya di kawasan Jalan Pandu Medan. Andri membeli komponen pompa ukuran kecil seperti mesin, selang, penyemprot, adaptor, selang nilon, saringan, klem selang (pengetat), nepel (konektor), konektor listrik dan jepitan baterai. Di kamar kosnya, Andri mencoba merakit sendiri komponen-komponen tersebut menjadi alat cuci motor. Berhasil. Dari komponen tersebut, Andri menghasilkan dua unit alat cuci motor.

Andri mengaku, untuk membeli semua komponen tersebut, dirinya tidak mempunyai uang lebih. Tapi karena tekadnya sudah bulat, Andri memohon penundaan uang kos selama dua minggu kepada pemilik kos, karena uangnya akan digunakan untuk membeli komponen. “Beruntung pemilik kos mengabulkan,” kata Andri.

Andri kemudian menjual dua unit alat cuci motor yang ia rakit sendiri melalui beberapa aplikasi marketplace. Alat cuci motornya diberi nama “Jet Cleaner Karya Anak Bangsa”. Nasib baik menghampiri Andri. Setelah menunggu seminggu, dua alat cuci motornya dibeli pembeli. “Saya senang sekali. Jujur, tak berpikir kalau akan laku secepat itu. Dari penjualan produk itu, saya terima pendapatan bersih Rp 350 ribu,” katanya.

Sukses menjual dua unit, Andri makin bersemangat untuk memproduksi alat cuci motor dalam jumlah yang lebih banyak. Lagi-lagi nasib baik menghampiri. Produknya habis terjual. Agar produknya semakin banyak dikenal dan terjual, Andri membuat 20 toko online di beberapa marketplace seperti: Bukalapak, Shopee, Lazada, dan Tokopedia.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved