Prihatin Anak Desanya Belajar Pakai Teplok, Bestur Pasaribu Gadaikan Motor Rakit Kincir Listrik

Bestur Pasaribu memanfaatkan aliran sungai, di desanya memutar kincir air.

Prihatin Anak Desanya Belajar Pakai Teplok, Bestur Pasaribu Gadaikan Motor Rakit Kincir Listrik
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Bestur dan teman-teman di desanya saat bergotong mengerjakan kincir air. 

TRIBUN, GAROGA - Warga Desa Sibargot, Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara belum merasakan nikmatnya kemerdekaan atas perjuangan nenek moyangnya melawan penjajah dari Tanah Batak.

Nikmatnya penerangan lampu listrik dari Pembangkit Listrik Negara (PLN) tidak pernah mereka nikmati seperti indahnya kerlap-kerlip lampu di Perkotaan, meski Indonesia telah 73 tahun merdeka .

Tidak tahan terus-menerus hidup dalam gelap tanpa penerangan cahaya listrik, dengan latar belakang ilmu Teknik Elektro Institut Teknologi Medan (ITM), Bestur Pasaribu memanfaatkan aliran sungai, di desanya memutar kincir air. Meski masih mahasiswa, dirinya terus berupaya merakit kincir listrik dengan berbagai hambatan. 

"Sebagai generasi yang sudah dikuliahkan dari kampung ini, saya merasa berutang bagaimana agar anak-anak-anak sekolah desa ini tidak lagi belajar pakai lampu teplok seperti saya dulu,"ujar Bestur, pria yang merupakan Mahasiswa semester 8 di Institut Teknologi Medan (ITM) ini, Kamis (22/11/2018).
 

Dalam menjalankan misinya, Bestur mendapat beragam tantangan. Baik ketika memulai pengerjaan pada 2 Juli 2017 dengan tahap pertama hingga Oktober 2017. Kemudian tahap ke dua November hingga Desember 2017 tetap gagal.
 

Selama pengerjaan, Bestur sering terbentur dengan jam kuliah. Dia harus bolak-balik berangkat ke kampungya dari kota Medan. Terkadang berangkat pagi dari kampung ke Medan mengejar jam kuliah pada siang hari dengan mengendarai sepeda motor.
 

Gagal pada periode pertama, bestur tetap melanjutkan cita-cita mulianya untuk desanya. Bahkan pada periode kedua, sudah tidak banyak lagi warga yang membantunya. Juga pada pengerjaan terakhir, di periode ke-3 orang tuanya juga ikut menganjurkan agar dia berhenti mengerjakan kincir tersebut.
 

Bestur tidak patah arang, meski sudah banyak energi dan materi serta waktu yang dia habiskan sejak semester 6 akhir. Pada 20 september 2017 dia mengajukan proposal kerjasama ke ITM selalu tempatnya menjalankan studi.
 

"Lalu pada bulan 5 ada bantuan. Mereka membantu secara materi. Karena saya pun sudah komitmen dan meggadai kareta seharha 13 juta untuk biaya ini,"tambahnya.
 

Lalu pada periode ke-3 dirinya terus  merakit turbin hingga akhirnya beroperasi seperti saat ini. Namun, diakuinya masih perlu pembenahan dan penyempurnaan.
 

Halaman
12
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved