David dan Gomgom Bertekad Sukses, Kemiskinan Membuat Mereka Terpaksa Tinggal di Panti Asuhan

Namun harus menjalani hidup di panti asuhan sejak kecil tentu bukanlah hal yang mudah bagi David dan Gomgom.

David dan Gomgom Bertekad Sukses, Kemiskinan Membuat Mereka Terpaksa Tinggal di Panti Asuhan
TRIBUN MEDAN/CHANDRA SIMARMATA
David Sirait (Kanan) dan Gomgom Sirait, dua Siswa SMK Swasta Medan Putri yang hidup di Panti Asuhan sejak kecil karena keterbatasan ekonomi orang tua. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Keterbatasan Ekonomi yang diderita kedua Orangtuanya di kampung, membuat David dan Gomgom Sirait harus rela dititipkan di Panti Asuhan Putra William Booth di Medan sejak kecil.

Namun harus menjalani hidup di panti asuhan sejak kecil tentu bukanlah hal yang mudah bagi David dan Gomgom.

Pahit getirnya hidup dipanti pun sudah dialami dan dirasakan oleh mereka berdua.

Kepada Tribun Medan, David bercerita bahwa dirinya masuk ke panti asuhan sejak usia 7 tahun. Awal masuk ke panti, kata David dia sangat sedih apalagi karena harus berpisah dengan orangtua.

"Sedih pastinya, karena tidak bisa mengalami bagaimana rasanya mendapat pelukan orangtua. Cuma apa boleh buat orangtua juga kondisinya ekonomi lemah jadi aku harus di letak di panti asuhan. Orangtua juga tidak sanggup, dan tidak tahu harus bilang apa lagi. Sehingga terpaksa memasukan saya ke panti sejak umur 7 tahun, tepat di kelas 2 SD," ujarnya, Selasa (4/12/2018).

David yang saat ini merupakan siswa kelas XII SMK Medan Putri itu mengatakan bahwa orangtuanya bersedia menitipkan dirinya di panti asuhan , karena panti tersebut merupakan panti yang berafiliasi juga dengan gereja mereka.

Di panti bersama anak-anak lain dari beragam usia, kata David, dirinya pun sudah merasakan bagaimana Pahitnya saat pertama masuk ke panti tersebut. Awal masuk ke panti, Tak jarang timbul keinginannya dalam hati untuk bisa pulang ke kampung agar bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.

"Awalnya hidup di panti bingung mau ngapain. Karena pas baru-baru masuk teman-teman juga tidak kenal. Jadi saya diam-diam saja, nangis-nangis sendiri. Sedihlah pokoknya mengingat orangtua, rasanya pingin pulang saja gitu ke kampung, cuman ya gan bisa, apalagi orangtua tidak bisa menyekolahkan aku. Kalau aku balik ke kampung, aku itu wajib tidak sekolah lagi. Kadang gara-gara aku sedih, cengeng, nangis dikit, dimarahi. Itulah pahitnya kehidupan aku di panti," imbuhnya.

Namun selain hal sedih, David juga turut merasakan hal-hal yang bahagia di panti tersebut. Bagi David sewaktu kecil awal hidup di panti yang paling membahagiakan adalah saat para donatur panti datang dan memberikan bingkisan kepada dirinya dan anak panti lainnya.

Halaman
12
Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved