Peluang Bisnis Lukisan Kopi, Bahan Baku Lebih Hemat, Nilai Jual lebih Mahal

Saya memilih bahan baku warna dari kopi ini karena Indonesia merupakan negara ketiga penghasil kopi terbesar di dunia.

Peluang Bisnis Lukisan Kopi, Bahan Baku Lebih Hemat, Nilai Jual lebih Mahal
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Pelukis, Morris Alexander Siregar sejak tahun 2010. Peluang bisnis lukisan kopi, bahan baku warna kopi lebih hemat dari warna cat, bahkan nilai jual lukisan kopi lebih mahal. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Natalin

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Selama ini sisa seduhan kopi selalu dibuang karena tidak ada manfaatnya lagi.

Namun, di tangan orang-orang kreatif, ampas kopi itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pewarna lukisan.

Seperti itulah yang ditekuni oleh pelukis, Morris Alexander Siregar sejak tahun 2010. Diakui Morris ia belajar melukis hanya secara otodidak.

"Warna kekentalan kopi mempengaruhi warna, makin kental kopi itu maka makin warnanya makin hitam, dan semakin encer kopinya maka warnanya makin putih. Kopi ini dapat menghasilkan warna monokrom sejenis coklat kehitaman, coklat, hitam, cream, dan putih," ujar Morris, Selasa (4/12/2018).

Ia menjelaskan proses pengerjaan lukisan ini dengan terlebih dahulu menyeduh kopi, dan kemudian mengambil ampas kopi, serta mengatur keenceran kopi.

"Kita buat dulu sketsa dengan pensil lalu pakai kuas, kita mulai melukis. Dimulai dengan warna paling terang dan diakhiri dengan warna paling gelap. Biasanya untuk mendapatkan hasil yang bagus, warna ditimpah berulang ulang hingga lima kali," katanya.

Menurut Morris, modal awal satu lukisan hanya Rp 500 ribu, namun ketika lukisan sudah jadi dibuat harganya mencapai 100 kali lipat dari modal awal.

Penggunaan warna dengan kopi jauh lebih hemat dibanding dengan warna cat, bahkan nilai jual lukisan juga jauh lebih mahal karena warna kopi yang unik.

"Harga lukisan kopi ini dibanderol mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 75 juta. Saya memilih bahan baku warna dari kopi ini karena Indonesia merupakan negara ketiga penghasil kopi terbesar di dunia. Kopi juga sekarang jadi minuman favorite banyak orang. Lukisan kopi ini, bahan bakunya murah, tapi hasilnya bagi saya luar biasa," ungkapnya.

Dengan berbisnis lukisan kopi ini, 
Morris mendapatkan banyak kolega dari berbagai Kota di Indonesia. Selain itu lukisan kopi yang dibuat oleh Morris juga sudah dipesan oleh customer dari Amerika.

"Bisnis lukisan tentu masih menjanjikan, asal kita kreatif dan inovatif. Karakter lukisan saya itu keras, enggak lembut, karena saya orang batak. Lukisan saya kuat akan warna dan enggak asal asalan. Bahan warna kopi itu murah tapi dengan sentuhan teknik yang tinggi maka harga lukisan kita bisa tinggi,"katanya.

Sebelumnya Morris juga pernah meraih berbagai rekor muri yakni sebagai pembuat mozaik kulit telur terbesar tahun 2012, rekor lukisan terbesar dari limbah sawit tahun 2013, lukisan terbesar dari bubuk teh tahun 2014 dan lukisan terbesar dari sabut kelapa tahun 2018. Ia berharap pemerintah lebih memberi ruang bagi pelaku seni yang kreatif.

"Ekspansi kedepan saya ingin tetap berkarya dalam rekor muri. Pesan saya bagi para pengusaha pemula adalah jujur dalam berkarya, jangan menyontek, gali terus potensi diri, jangan potensi orang," ucap Morris.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved