Partai Berkarya Bercita-cita Kembalikan Era Soeharto, Sejarawan: Hanya Orang Gila yang Mau Kembali

Mereka tidak akan mudah mempercayai ucapan politisi yang menyebut bahwa hidup di zaman Soeharto lebih enak.

Partai Berkarya Bercita-cita Kembalikan Era Soeharto, Sejarawan: Hanya Orang Gila yang Mau Kembali
Getty Images Via BBC Indonesia
Keluarga Besar Soeharto 

Surat tanda terima laporan tercatat di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri dengan Nomor STTL/1268/XII/2018/BARESKRIM.

Adapun, nomor Laporan Polisi (LP) tersebut, yakni LP/B/1571/XII/2018/BARESKRIM tertanggal 3 Desember 2018.

“Kami merasa betul-betul sangat terpukul, sangat merasa dirugikan mengingat Soeharto bagi kami adalah tokoh bangsa, adalah guru bangsa, adalah bapak pembangunan,” kata Anhar seusai melaporkan, Senin.

Menurut Anhar, pernyataan yang dilontarkan Wakil Ketua MPR itu keji. Pasalnya tidak ada satu pun putusan pengadilan berkekuatan tetap yang menyatakan Soeharto bersalah dalam kasus tindak pidana korupsi.

Seperti diketahui, Basarah menilai, bahwa maraknya korupsi di Indonesia dimulai sejak era Presiden Soeharto. Basarah kemudian menyebut Soeharto sebagai guru dari korupsi di Indonesia.

Hanya Orang Gila yang Mau Kembali ke Era Soeharto

Kepala Pusat Kajian Keamanan dan Nasional Hermawan Sulistyo.
Kepala Pusat Kajian Keamanan dan Nasional Hermawan Sulistyo. (Ambaranie Nadia K.M)

Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai, langkah partai berkarya yang menjual sosok Soeharto tidak akan efektif untuk menggaet pemilih di Pemilu 2019.

Menurut dia, tak banyak masyarakat yang ingin kembali ke era Soeharto.

"Hanya orang gila yang mau kembali ke rezim itu. Ngomong begini pasti selesai. Hidup penuh ketakutan setiap hari. Apalagi bikin NGO (LSM), jangan mimpi, besoknya hilang," kata Hermawan dalam diskusi 'Orba dalam Pilpres' Jakarta, Kamis (6/11/2018).

Menurut Hermawan, orang-orang yang ingin kembali ke era Soeharto adalah mereka yang secara ekonomi mendapatkan keuntungan dari kebijakan saat itu yang sarat dengan korupsi, korupsi dan nepotisme.

Halaman
1234
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved