7 Siswa Sumut Berhasil Selesaikan Proyek Bersama NASA dan Presentasi di Depan Para Astronot

Musa Rajekshahapresiasi tujuh siswa Chandra Kumala School yang berhasil Selesaikan proyek microgravity bersama NASA

7 Siswa Sumut Berhasil Selesaikan Proyek Bersama NASA dan Presentasi di Depan Para Astronot
Dok. Chandra Kumala School for Tribun Medan
Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah, berfoto bersama siswa dan guru Chandra Kumala School (CKS) yang berhasil menyelesaikan proyek bersama NASA, Jumat (12/7/2018) siang. 

TRIBUN-MEDAN.COM – Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah, mengapresiasi tujuh siswa dan guru Chandra Kumala School (CKS) yang berhasil menyelesaikan proyek penelitian microgravity yang bekerja sama dengan National Aeronautics and Space Administration (NASA), Jumat (12/7/2018) siang.

Berdasarkan rilis yang diterima Tribun Medan, ketujuh siswa tersebut yakni Fira Fatmasiefa, Bramasto R Prasojo, Ryo Hilmawan, Russell Oeintz, Venny, Joane Clarissa dan Nadya Yosefa.

Tim dari CKS berhasil membawa harum nama Sumut dan Indonesia lantaran menjadi satu-satunya tim dari Asia Tenggara.

Tim ini mendapat peringkat kelima dari 30 tim dari banyak negara yang berpartisipasi dalam projek ini.

Penelitian yang dilakukan ketujuh siswa CKS fokus mengamati kehidupan Slime Mold (Physarum polycephalum) selama berada di stasiun luar angakasa.

Slime Mold adalah makhluk hidup berjenis protista yang sensitif terhadap cahaya dan bereaksi terhadap rangsangan makanan dan air, ia akan tumbuh dan membuat "cabang-cabang" untuk mencapai sumber makanannya.

Projek ini kali pertama diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 21 Mei 2018 menggunakan roket Orbital ATK-OA-9 dari fasilitas peluncuran NASA yang berada di Wallop Islands, Virginia.

Riset CKS di ISS dilakukan selama 40 hari dalam kondisi hampir tanpa gravitasi (microgravity condition).

Pada masa yang sama, keempat siswa CKS juga melakukan proyek di bumi untuk perbandingan antara hasil riset di antariksa dengan di bumi.

Pada 15 Agustus, Micro-Lab siswa CKS dikirim kembali ke Bumi menggunakan roket CR15 Dragon.

Menganalisis hasil penelitian itu, siswa dan guru pembimbing CKS berkolaborasi dengan beberapa pihak, di antaranya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya untuk mendapatkan bantuan menganalisa specimen Slime Mold dengan Mikroskop Elektron yang mampu melakukan pembesaran sel hingga ribuan kali, baik terhadap hasil riset yang dari ISS (antariksa), maupun terhadap hasil riset Ground Earth Unit.

Hasil riset CKS, menunjukkan bahwa Slime Mold yang telah kembali dari antariksa memiliki jarak ruang yang lebih luas di antara sel-selnya, artinya sel-sel Slime Mold yang tumbuh di antariksa (dalam kondisi tanpa gravitasi) menjadi lebih jauh terpisah, dibandingkan dengan struktur sel-sel jamur lendir yang tinggal di bumi, yang tampak lebih padat, rapat dan berdekatan.

Dari hasil ini, kami menyimpulkan bahwa mungkin gravitasi memainkan peran sebagai kekuatan yang membantu menahan sel bersama.

Setelah memperoleh hasil, pada 30 Oktober – 3 November 2018 siswa CKS telah mempresenasikan penelitian mereka di forum ASGSR (American Society for Gravitational and Space Research) yang dihadiri pakar peneliti NASA, para astrofisikawan dan astrobiologist sedunia, dan para astronot-astronot NASA. (*)

Penulis: Hendrik Naipospos
Editor: Hendrik Naipospos
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved