Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah di Kota Semarang, Naik Kereta Api Berbahan Bakar Kayu hingga Uji Nyali di Lawang Sewu

Menjejak Sejarah Kota Semarang, Dari Seruput Kopi Banaran hingga Uji Nyali di Lawang Sewu
TRIBUN MEDAN/ETI WAHYUNI
Pengunjung berpose di salah satu bagian Gedung Lawang Sewu 

TRIBUN-MEDAN.com -  Saat menjejak di bumi Semarang, satu-satunya panduan saya adalah run down acara yang dibagikan panitia dalam acara Media Training Bank mandiri 2018. 

Saya tak sempat mencari referensi lebih dalam tentang kota terbesar keenam di Indonesia ini. Saya yakin, sejumlah trip yang didesain panitia memiliki banyak kisah untuk diceritakan. 

Kuliner, tentu menjadi tujuan paling dicari bagi setiap pengunjung. Dan, Soto Pak Man adalah kuliner pertama yang direkomendasikan panitia. Soto Pak Man yang berada di kawasan Pamularsih ini disajikan dengan kuah bening, berbeda dengan Soto Medan yang bersantan kuning. Isiannya tak jauh beda yakni taburan ayam goreng, mie hun, bawang goreng, irisan tomat, dan daun bawang. 

Jika Soto Medan yang disajikan dengan nasi terpisah, di Soto Pak Man sekepal nasi dicampur dalam mangkuk keramik berukuran kecil. Untuk yang biasa sarapan dengan porsi jumbo, satu mangkuk tentu masih menyisahkan banyak celah di dalam lambung. Jangan khawatir, ada banyak kudapan sebagai tambahan mulai sate bakso, bakwan, tahu bakso, sate ampela, perkede, ataupun kerupuk. 

Usai menikmati kuliner, saatnya untuk berwisata menjelajah sudut-sudut Kota Semarang. Tujuan kami selanjutnya adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Stasiun kereta api yang dibangun pada zaman Belanda ini, menyimpan setidaknya 21 lokomotif yang sudah tak aktif lagi. 

Lokomotif ini buatan dari empat negara yaitu Jerman, Belanda, Inggris, dan Swiss. Lokomotif ini dulunya menggunakan bahan bakar kayu jati. Selain itu, ada juga lokomotif diesel yang pertama kali didatangkan pada tahun 1953 buatan Amerika Serikat. 

Di beberapa bagian stasiun terdapat tulisan yang menjelaskan, sejarah berdirinya stasiun kereta api ini. Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi naik kereta api dengan lokomotif berbahan bakar kayu jati, pengelola penyediakan rute Ambarawa-Tuntang. Ada tiga gerbong yang siap mengantar Anda. Tapi, kereta api wisata ini hanya beroperasi pada Sabtu, Minggu, dan Hari Libur Nasional. 

"Kereta api bisa diaktifkan jika ada permintaan khusus dari rombongan pengunjung," demikian dikatakan Okta, tour guide Museum Kereta Api Ambarawa. 

Perjalanan Ambarawa-Tuntang ditempuh kira-kira 30 menit. Banyak view menarik saat melintasi jalur ini. Pemandangan sawah dengan latar belakang perbukitan di kejauhan, aktivitas warga lokal atau pemukiman bisa dilihat secara jelas tanpa pembatas karena gerbong kereta api yang terbuat dari kayu ini dibuat dengan jendela terbuka. 


Gedung Lawang Sewu, Semarang

Semilir angin, ritme suara kereta, asap pembakaran, view menarik menjadikan perjalanan kali ini tak terlupakan. Semakin mendekati Stasiun Tuntang, view Rawa Pening yang memiliki luas 2.670 hektare ini makin nyata.

Halaman
123
Penulis: Eti Wahyuni
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved