Alat Deteksi Dini Pengguna Narkoba Berbasis Brain Komputer, Buatan Peneliti LIPI Arjon Turnip

Alat tersebut saat ini diberi nama Deteksi Dini Pengguna Narkoba Berbasis Brain Komputer Interface.

Alat Deteksi Dini Pengguna Narkoba Berbasis Brain Komputer, Buatan Peneliti LIPI Arjon Turnip
TRIBUN MEDAN/HO
Experiment alat deteksi dini pengguna narkoba. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Chandra Simarmata

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Seperti kita ketahui, walaupun pengobatan dan penangkapan terkait kasus penyalahgunaan narkoba selalu dilakukan tapi nyatanya pengguna narkoba masih tetap banyak.

Maka untuk melakukan pencegahan, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Arjon Turnip melakukan penelitian untuk membuat sebuah alat yang bisa digunakan sebagai sarana deteksi dini pengguna narkoba.

Alat tersebut saat ini diberi nama Deteksi Dini Pengguna Narkoba Berbasis Brain Komputer Interface (Early Detection for Drugs Abuse with a Brain Computer Interface).

Hasil penelitiannya tersebut juga turut dipaparkannya pada International Conference on Mechanical, Electronics, Computer, and Industrial Technology (MECnIT) 2018 di Universitas Prima Indonesia, Kamis (13/12/2018).

Arjon menjelaskan bahwa alat Deteksi Dini Pengguna Narkoba Berbasis Brain Komputer Interface tersebut memiliki tiga fungsi.

Pertama adalah untuk pengobatan dalam hal ini bisa digunakan sebagai instrumen untuk mengukur perubahan fungsi otak terhadap pemberian obat.

Dijelaskannya, alat tersebut bisa digunakan untuk mengukur penggunaan dosis obat. Dengan demikian dokter bisa lebih mudah, apakah sudah bisa menurunkan dosis obat (metadon), dan seberapa banyak dosis yang diturunkan. Sebab jika penurunan dosis tidak tepat atau tidak sesuai dengan dampak obatnya nanti si pengguna narkoba bisa malah jadi menggunakan narkoba lain.

"Yang diserang narkoba itu kan aktifitas fungsional otak. Jadi nanti kita bisa melihat perubahan setelah dikasih obat bagaimana perubahan fungsi otaknya itu terjadi. Targetnya dikasi obat (metadon), tujuannya dia harus bisa bertahan selama sekitar 22 jam. Jadi kalau dikasih dosisnya kurang kan bisa-bisa sebelum 22 jam dia " sakaw" sehingga mencari obat lain," terangnya.

Fungsi yang Kedua, kata Arjon alat tersebut bisa digunakan untuk mendeteksi seseorang itu pernah menggunakan narkoba atau tidak. Apalagi menurutnya pengguna narkoba tentunya tidak mungkin mengakui secara langsung kalau dia adalah pengguna.

Halaman
12
Penulis: Chandra Simarmata
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved