Catatan Sepakbola

Tuan Spesial dan Bayang Kebesaran Sang Legenda

Sejak Mourinho hadir di kancah sepakbola dunia, sepakbola tidak lagi sekadar perkara sepak-menyepak bola, tetapi juga drama yang menguras emosi.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/OLI SCARFF
JOSE Mourinho 

Satu malam pada Desember yang bersalju, sepekan menjelang Natal tahun 2012, Josep Guardiola bertemu Sir Alex Ferguson. Mereka makan malam di New York Restaurant, Harbor Spring, di mana dari jendelanya terpampang pemandangan Teluk Little Traverse.

Guardiola saat itu dalam masa "mengasingkan diri", mencoba masuk kembali ke dalam ketenangan jiwa setelah melewati empat musim penuh hiruk pikuk di Barcelona.

Tentu saja ini bukan makan malam biasa. Ini makan malam "politik". Sir Alex berencana mengakhiri perjalanan panjang bergelimang 38 gelar di Old Trafford, dan dia telah mendapat restu dari manajemen Manchester United untuk mencari pengganti yang prospektif. Sir Alex menyusun daftar dan Guardiola berada di urutan pertama.
Upaya ini berakhir dengan cara yang paling aduhai konyolnya. Guardiola gagal menangkap maksud Sir Alex. Guardiola yang baru belajar Bahasa Inggris dari les kilat saat akan bertolak ke Amerika, harus berhadapan dengan Sir Alex yang berbahasa Inggris aksen Skotlandia.

"Kami bicara tentang banyak hal. Tentang kehidupan saya di Amerika, tentang sepakbola, tentang Liga Inggris, tetapi seingat saya tidak ada yang secara spesifik perihal tawaran menjadi pelatih Manchester United. Entahlah jika saya yang memang tak paham. Ketika itu penguasaan bahasa Inggris saya masih tidak bagus dan Sir Alex berbicara sangat cepat. Saya tidak dapat menangkap dan memahami semua yang dia ucapkan," kata Guardiola seperti dikemukakannya dalam wawacara dengan James Ducker dari The Telegraph, 9 Desember 2017.

Enam bulan setelah pertemuan itu Sir Alex berhenti jadi pelatih The Red Devils dan orang yang kemudian duduk di kursinya adalah David Moyes. Manajemen Manchester United meresmikan penunjukan Moyes pada 9 Mei 2013, dan 23 hari berselang, di Stadion Alianz Arena, Bayern Munchen mengumumkan Josep Guardiola sebagai pelatih mereka.

DAVID Moyes dan Sir Alex Ferguson
DAVID Moyes dan Sir Alex Ferguson (WWW.SPORTBIBLE.COM)

Tak ada yang tahu nama Moyes berada pada urutan berapa dalam daftar Si Alex. Entah pula apakah ada nama Jose Mourinho atau tidak di sana. Pada Diego Torres dari surat kabar El Pais, Mourinho berterus terang bahwa hari-hari awal Mei 2013 itu, matanya selalu awas pada layar telepon selular. Hari-hari mencemaskan. Mourinho, kata Torres, berharap seseorang yang selalu dianggapnya sebagai "Godfather of Football", satu-satunya pelatih yang pernah dia panggil "Boss", Sir Alex Ferguson, meneleponnya dan menawarinya menangani Manchester United.

Tawaran itu tak pernah datang. Moyes yang terpilih, dan Torres bilang, saat tahu dirinya dilewatkan, Mourinho yang sedang menghadapi hari-hari sulit di Real Madrid menyusul "pemberontakan" yang dipimpin Iker Casillas dan Sergio Ramos, merasa seperti ingin menangis.

Begitulah, seiring perjalanan waktu, terbukti pula bahwa intuisi Sang Legenda tak meleset. Pilihan pertamanya, Guardiola, meraih tujuh gelar besar (major title) di Munchen, hanya kalah dari Ottmar Hitzfeld yang mengoleksi sebelas. Di Old Trafford sendiri yang terjadi adalah kontradiksinya. David Moyes gagal sampai pada titik prospektif tadi. Alih-alih mempertahankan kedigdayaan, di tangannya, Manchester United justru kerap jatuh jadi objek lelucon.

Manajemen bergerak cepat. Moyes dipecat, dan setelah sempat dipegang Ryan Giggs dalam empat laga, datanglah Louis van Gaal. Satu nama besar yang telah mencatatkan diri sebagai pelatih juara di tiga kompetisi berbeda --Belanda (Ajax Amsterdam dan AZ Alkmaar), Spanyol (FC Barcelona), dan Jerman (Bayern Munchen). Dua hari sebelum menandatangani kontrak sebagai pelatih Manchester United, Van Gaal membawa tim nasional Belanda menduduki posisi ketiga di Piala Dunia 2014. Bermain di Stadion Nacional Mane Garrincha, Belanda melibas tuan rumah Brasil tiga gol tanpa balas.

Memiliki reputasi sementereng ini, siapa berani meragukan Louis van Gaal? Namun kenyataan bicara lain. Dua tahun di Old Trafford, 16 Juli 2014 sampai 23 Mei 2016, van Gaal hanya mampu meraih satu gelar Piala FA. Lebih menyedihkan, sebagaimana Moyes, Manchester United di era van Gaal juga lebih sering diolok-olok. Boring Manchester atau Manchester yang membosankan, demikian selalu disebut. Di saat yang sama, di bawah Manuel Pellegrini, Manchester Biru, The Citizen, klub tetangga yang selama bertahun-tahun hanya dipandang sebelah mata dan disebut 'berisik' oleh Sir Alex, menjelma kekuatan baru di Inggris dan Eropa. Bukan hanya kuat, permainan mereka juga atraktif.

Moyes gagal, van Gaal juga gagal, dan bayang-bayang kebesaran Sir Alex Ferguson makin menguat jadi hantu yang bergelantungan di tropi-tropi yang dipajang di lemari piala di Old Trafford. Kebesaran yang seolah-olah menertawakan tiap-tiap kegagalan yang dialami Manchester United. Kebesaran yang mengadang langkah pemain-pemain incaran untuk datang lantaran takut kepindahan ke Theater of Dream akan jadi kuburan bagi karier mereka.

Manajemen bergerak lagi dan pilihan dijatuhkan pada Jose Mourinho. Tiga tahun setelah hari- hari yang mencemaskan, Mourinho akhirnya diminta datang ke Old Trafford, dan para suporter Manchester United di seluruh penjuru dunia bersorak.

Foto kolase Josep Guardiola dan Jose Mourinho bersama Sir Alex Ferguson
Foto kolase Josep Guardiola dan Jose Mourinho bersama Sir Alex Ferguson (WWW.DAILYMAIL.COM)

Mereka memandang ini pilihan pantas. Dari tolok ukur prestasi, Mourinho yang menjuluki dirinya sendiri The Special One, mengoleksi gelar juara dari empat kompetisi berbeda --Portugal (FC Porto), Inggris (Chelsea), Italia (Inter Milan), dan Spanyol (Real Madrid). Sisi popularitas pun tak perlu diragukan. Mulut besarnya yang selalu mencecarkan kalimat-kalimat tak terduga, tak pernah tidak ditunggu oleh media.

Sejak Mourinho hadir di kancah sepakbola dunia, sepakbola tidak lagi sekadar perkara sepak-menyepak bola, tetapi juga drama yang menguras emosi. Di tangan Mourinho, sepakbola adalah juga telenovela, dan dia menempatkan diri sebagai tokoh berkarakter abu-abu, kadang protagonis kadang antagonis.

Pendek kata, manajemen, juga para suporter Manchester United, yakin betul di tangan Mourinho kecemerlangan era Sir Alex akan terulang. Pun ketika tetangga yang berisik itu, Manchester City, memecat Pellegrini dan menggantikannya dengan Guardiola, keoptimistisan tak surut. Sebaliknya, justru merebak jadi semangat yang serba menggebu. Pertarungan sengit Mourinho dan Guardiola yang pernah terjadi saat keduanya melatih Real Madrid dan Barcelona, akan terulang. Situasi "ngeri-ngeri sedap" yang layak ditunggu.

Namun apa yang kemudian terjadi adalah harapan yang porak-poranda. Tiga tahun ternyata waktu yang terlalu singkat untuk menjaga kestabilan kapal besar peninggalan Sir Alex. Tiga tahun di tangan Moyes dan van Gaal, keperkasaan jatuh sepenuhnya jadi medioker.

Mourinho bukan tak bekerja keras. Musim pertama dan kedua dihabiskannya untuk membangun skuat. Tentu dengan cara instan. Mourinho bukan Sir Alex yang begitu sabar memupuk pemain- pemain muda dari akademi. Mourinho adalah seorang pembeli. Kecuali di Porto, ini yang dilakukannya di semua klub yang dilatihnya.

Berbeda dibanding skuat di Real Madrid, yang dipenuhi pemain berkarakter cepat dan berteknik tinggi, untuk Manchester United, Mourinho ternyata memilih mengadopsi skuatnya di Inter Milan dan Chelsea. Skuat solid dengan pemain-pemain kuat secara fisik. Ada tujuh pemain yang memiliki tinggi di atas 1,9 meter. Dengan skuat ini, di musim kedua, Mourinho membawa Manchester United mengakhiri musim 2017-2018 di posisi dua.

JOSE Mourinho berdiri di sisi lapangan Stadion Old Trafford pada satu laga Manchester United di Liga Inggris, beberapa waktu lalu.
JOSE Mourinho berdiri di sisi lapangan Stadion Old Trafford pada satu laga Manchester United di Liga Inggris, beberapa waktu lalu. (AFP PHOTO/PAUL ELLIS)

Lalu, tibalah musim ketiga. Musim yang selalu jadi momok bagi Jose Mourinho. Siklus tiga musiman: dua musim cemerlang diekori penurunan di musim ketiga. Dimulai dari Porto, Inter Milan, Real Madrid, pun dua periode di Chelsea (2004-2007 dan 2010-2013). Apakah manajemen Manchester United terpengaruh pada siklus ini?

Barangkali tidak ada yang bersedia mengakui. Tidak Joel dan Avram Glazer. Tidak juga Ed Woodward. Namun memang ada fakta yang tak dapat dimungkiri. Berbeda dari musim kedua, belanja pemain Manchester United di musim ketiga Mourinho sungguh mengenaskan. Sama sekali tidak mencerminkan status sebagai klub terkaya di dunia. Mereka hanya membeli empat pemain kurang terkenal yang dua di antaranya bahkan berposisi penjaga gawang. Padahal, klub- klub lain di jajaran lima besar Premier League, semuanya melakukan pembelian besar-besaran. Manajemen Manchester United beralasan, skuat musim 2017-2018 sudah cukup untuk bersaing.

Keyakinan yang jadi blunder. Manchester United bukan sekadar tercecer di klasemen, lebih jauh mereka juga kalah kelas, terutama dari Manchester City dan Liverpool, dan atas ini, konsekuensinya jelas. Mourinho, yang memperparah situasi dengan kegagalannya mengatasi persiteruan di kamar ganti, harus angkat kaki. Reputasinya sebagai Tuan Spesial ikut runtuh.

Di lain sisi, ini menguatkan bayang-bayang kebesaran Sir Alex Ferguson. Dalam tiap helaan nafas mereka, para suporter Manchester United, makin sering menggumamkan namanya. Dia bukan lagi legenda. Seperti lelaki Skotlandia lain yang memberi 13 gelar untuk Manchester United, Sir Matt Busby, bagi mereka, Fergie telah menjelma orang suci.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved