Mengejar Bintang Lima dari KBA Cengkeh Turi Binjai Utara

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program corporate social responsibility (CSR) Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat.

Mengejar Bintang Lima dari KBA Cengkeh Turi Binjai Utara
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
GAPURA Kampung Berseri Astra (KBA) Cengkeh Turi di Jalan Sabit, Lingkungan VI, kelurahan Cengkeh Turi, kecamatan Binjai Utara, Binjai. KBA Cengkeh Turi berdiri sejak tahun 2016. 

TRIBUN-MEDAN.COM, BINJAI - Hari Kamis (22/11/2018), pagi belum terlalu tinggi. Matahari masih malu-malu untuk muncul sempurna di kawasan Perumahan BTN Cengkeh Turi, kota Binjai, Sumatera Utara. Hembusan angin sepoi-sepoi menjadikan suasana perumahan terasa sejuk pagi itu. Belasan siswa SD  berjalan berkelompok dari berbagai gang perumahan menuju sekolah mereka di ujung kompleks. Tawa canda dan obrolan seputar kegiatan sekolah dari siswa SD tersebut meningkahi sejuknya pagi.

Di teras sebuah rumah permanen yang terletak persis di depan lapangan perumahan, suasana yang cukup riuhpun terlihat jelas. Sang empunya rumah, Siti Nurbaya Sianturi (62) terlihat sibuk mengangkat beberapa kardus dari dalam rumah ke bagasi mobil. Tiga penghuni rumah lainnya menirukan kesibukan yang sama dengan Siti, mengangkat kardus dan tas ke bagasi mobil.

Beberapa kali Siti mengangkat ponselnya dan berbicara dengan seseorang yang meneleponnya. Dalam pembicaraan lewat telepon tersebut, Siti memberitahu kalau dirinya akan berangkat hari itu juga dan sudah membawa pesanan seperti yang disyaratkan. “Hari ini saya mau ke Penang, mau ikut pameran. Tadi itu telepon dari staf Disperindag Sumut, menanyakan kapan saya berangkat dan jangan lupa membawa produk yang cukup untuk dipamerkan di Penang,” kata Siti kepada tribun-medan.com, Kamis (22/11).

Pameran yang dimaksud Siti adalah Pesta Pulau Penang, sebuah pameran industri kecil dan menengah yang cukup kesohor di Malaysia. Pameran ini dilaksanakan tanggal 23 November hingga 31 Desember 2018. Itu artinya, Siti harus merayakan Natal dan Tahun Baru di negeri orang. “Saya menjadi salah satu perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumut. Ini (Pesta Pulau Pinang) cukup bergengsilah. Hampir setiap tahun saya ikuti,” kata Siti.

Siti adalah pemilik Christin Collection, sebuah UMKM di bidang kerajinan tangan berbahan akrilik yang berdiri tahun 2013. Sekitar 4 x 8 meter bagian belakang rumah Siti di Perumahan BTN Cengkeh Turi dimanfaatkan sebagai ruang produksi kerajinan. Ruang produksi cukup lapang karena tidak berisi banyak perabot seperti kursi dan meja. Hanya ada empat steling ukuran sedang yang menempel di dinding belakang rumah sebagai tempat memajang produk yang sudah selesai dikerjakan.

“Sengaja tidak banyak perabot, karena pengrajin-pengrajin memang lebih senangnya duduk di lantai saat membuat kerajinan,” kata Rusmida Sianturi, menantu Siti, yang sehari-hari tinggal bersama Siti dan ikut mengurusi Christin Collection.

Selain empat steling, di dinding ruang produksi terpajang beberapa penghargaan yang pernah diraih Siti Nurbaya mulai dari penghargaan di tingkat provinsi hingga nasional. Satu penghargaan yang sangat bergengsi adalah Penghargaan Upakarti dari Pemerintah Repulik Indonesia tahun 1992. Siti “diganjar” penghargaan tersebut atas jasa pengabdiannya dalam usaha pengembangan industri kecil dan kerajinan. “Sebelumnya Christin Collection membuka kerajinan sarung bantal smock Jepang serta tas dari bahan ulos (kain Batak) dan kain katun. Tapi trend sarung bantal smock Jepang terus menurun hingga tahun 2000-an. Ibu kemudian menutup kerajinan sarung bantal smock Jepang dan beralih ke kerajinan akrilik. Tapi untuk tas berbahan ulos dan kain katun masih tetap ada sampai sekarang,” kata Rusmida.

SITI Nurbaya Sianturi, pemilik UMKM Christin Collection.
SITI Nurbaya Sianturi, pemilik UMKM Christin Collection. (TRIBUN MEDAN/HO)

Keputusan Siti untuk beralih ke kerajinan akrilik tahun 2013 ternyata tidak salah. Produk-produk kerajinan yang ia hasilkan seperti keranjang Aqua, kotak tisu, tempat permen, toples kue, dan bunga mendapat sambutan yang cukup baik di pasar lokal. Di tahap awal, Siti merekrut delapan warga setempat, yang semuanya perempuan sebagai karyawan (pengrajin). Siti mengajari langkah-langkah membuat kerajinan dengan sabar.

“Sebelumnya mereka juga sudah kerja di Christin Collection membuat sarung bantal. Tapi karena sarung bantal tidak diproduksi lagi, mereka beralih mengerjakan akrilik. Saya sengaja merekrut warga di sini, agar mereka ada tambahan keuangan. Mereka juga cukup mengerjakannya di rumah,” kata Siti dari Penang melalui panggilan WhatsApp dengan tribun-medan.com, Sabtu (29/12/2018).

Tiga tahun berjalan atau hingga tahun 2016, kerajinan akrilik produksi Christin Collection mampu menembus pasar di Sumatera Utara seperti di Medan, Binjai, dan Nias. Dalam sebulan, ratusan produk laku terjual. Mayoritas produk dijual dengan sistem penjualan offline (bertemu langsung). “Saya feeling (merasakan) kalau usaha akrilik ini menjanjikan karena langsung mengena atau dibutuhkan ibu-ibu dan remaja perempuan. Ini yang membuat saya menekuninya. Dan syukurlah, sambutan masyarakat cukup baik,” kenang Siti.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved