Tradisi 'Marbinda' Eratkan Persaudaraan Dua Desa Tiap Akhir Tahun

Perayaan akhir tahun pada umumnya dijadikan moment untuk bertamasya ke objek-objek wisata

Tradisi 'Marbinda' Eratkan Persaudaraan Dua Desa Tiap Akhir Tahun
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Warga dua Desa, Tanjungan dan Desa Lumban Sihombing Parmonangan menyiapkan jeroan daging untuk dibagikan ke warga sekampung. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arejuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Perayaan akhir tahun pada umumnya dijadikan moment untuk bertamasya ke objek-objek wisata, ada pula yang sarat dengan kehidupan glamor. 

Namun, berbeda dengan yang dilakukan warga dua desa di Samosir, Senin 31 Desember 2018 hingga Selasa (1/1/2019).

Setiap menjelang tahun baru sudah hal yang biasa dilakukan oleh Masyarakyat Lumban Sihombing, Parmonangan dan sebagian dari Desa Tanjungan tradisi "Marbinda". 

Marbinda merupakan tradisi orang Batak di pedesaan, berupa pengumpulan dana memotong ternak untuk memperoleh daging sebagai santapan akhir tahun.

Dalam mengakhiri tahun 2018 dan mengawali tahun 2019, warga dua desa (Lumban Sihombing, Parmonangan dan Desa Tanjungan) menyembelih kerbau besar.

Mereka bahu-membahu menyiapkan segala yang berkaitan denganhajatan tersebut. Mulai dari menyediakan bumbu dapur, memasak bersama, hingga makan bersama. 

Meski berbeda keyakinan, ada Penganut Agama Kristen, Parmalim dan lainnya mereka bisa hidup rukun sejak lama, bersantap bersama tanpa terjangkit isu SARA seperti di perkotaan. Apalagi pada tahun politik.

"Meski berbeda agama dan keyakinan, namun adat (Marbinda) untuk membina membina persaudaraan dua Warga Desa," ujar Warga, Parulian Sihombing.

Marbinda, katanya dilakukan dengan kesepakatan dalam perkiraan jumlah yang diperoleh tersebut adalah "saumpang" (satu tumpukan yang dibagi) tidak menurut timbangan kilo. Melainkan berbagi rata ukuran "saumpang" ditentukan oleh banyaknya yang ingin dibagikan agar sama rata.

Mukai dari kulit ternak, serta bagian dalam (isi perut) pun dibagi bersama. Dalam hal ini sebanyak 42 rumah tangga berbagi dengan adil, tak ada perdebatan, bahkan usai dibagikan tiap bagiannya adapun yang sisa dimasak dengan sistem masak "tolu" (seadanya) dan dimakan bersama sebelum pulang kerumahnya masing-masing.

"Hal ini dilakukan bukan sekedar untuk makan daging namun sudah dianggap sebagai sarana untuk berkumpul dengan masyarakyat kampung, (songon pardomu domuan dongan sahuta),"tambahnya.

(Jun/tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved